Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aplikasi Pelacakan Kontak Google dan Apple jadi Harapan Baru Perangi Covid-19

Ini merupakan kabar besar, mengingat keduanya merupakan perusahaan yang memegang kendali atas hampir setiap ponsel pintar yang beroperasi di planet ini. Apple melalui produk iPhone dan perangkat lunak lainnya serta Google dengan program Androidnya.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 16 April 2020  |  09:16 WIB
Logo Apple di satu toko Apple di Munich, Jerman - Reuters
Logo Apple di satu toko Apple di Munich, Jerman - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa waktu yang lalu, Apple dan Google mengumumkan rencana untuk bekerja sama dalam rangka membantu penanganan pandemi global virus corona baru atau COVID-19 yang menjangkit negara di seluruh dunia.

Ini merupakan kabar besar, mengingat keduanya merupakan perusahaan yang memegang kendali atas hampir setiap ponsel pintar yang beroperasi di planet ini. Apple melalui produk iPhone dan perangkat lunak lainnya serta Google dengan program Androidnya.

Kolaborasi dua perusahaan raksasa ini bertujuan untuk melacak siapa yang terinfeksi virus corona baru, sebuah langkah penting untuk mengendalikan transmisi virus SARS-CoV-2 yang telah menyebabkan pandemi COVID-19.

Nantinya, jaringan kedua perusahaan akan bergabung melalui pembaruan yang menyatukan protokol nirkabel jarak pendek Bluetooth masing-masing ponsel. Sebagaimana diketahui, Bluetooth memungkinkan perangkat terdekat saling berkomunikasi.

Unifikasi ini akan memudahkan pihak lain yang membangun aplikasi pelacakan kontak. Amerika, Inggris Jerman, Irlandia, dan banyak negara lain sudah mulai membuat apliksi untuk melacak pasien infeksi.

Aplikasi-aplikasi tersebut akan bekerja dengan menyiarkan serangkaian kode untuk masing-masing perangkat. Siaran ini akan dapat dideteksi oleh telepon lain dalam jangakauan Bluetooth (sekitar 9 meter. Aplikasi juga akan secara simultan mendengarkan string yang disiarkan oleh telepon lain.

Untuk alasan keamanan, serangkaian kode yang disiarkan oleh telepon akan berubah setiap 15 menit dan juga catatan yang diterima hanya akan disimpan pada ponsel penerima. Ini akan membuat peretasan yang tidak bertanggung jawab menjadi sangat sulit.

Kemudian, jika seorang pengguna telepon mengidap gejala dan kemudian di tes positif COVID-19, pengaturan ini berubah. String yang disebut Apple sebagai kunci diagnosos, akan memerintahkan semua aplikasi untuk mencari catatan sejak waktu yang diperkirakan orang tersebut terinfeksi.

Apa yang terjadi ketika kecocokan ditemukan merupakan hak pengguna aplikasi. Akan tetapi respons idealnya adalah memberi tahu pihak berkepentingan dan meminta dilakukan tes. Dengan cara ini, infeksi akan terdeteksi dengan cepat.

Proses demikian mungkin terdengar seperti sihir teknologi tingkat tinggi, tetapi itu memang benar terjadi. Pelacakan kontak ponsel hanyalah salah satu bagian dari infrastruktur yang lebih luas yang harus dibangun untuk melacak virus lebih cepat daripada laju penyebarannya.

Milsanya, diperlukannya pengujian dan diagnosa orang secara massal. Tanpa hal tersebut, tidak akan ada informasi untuk memberi umpan balik ke jaringan aplikasi tentang siapa yang mungkin terinfeksi dan menyebarkan virus.

Idealnya, infrastruktur pengujian ini harus dibangun di banyak negara. Bagaimanapun, negara harus membangun fasilitas pengujian, bahkan jika mereka tidak menggunakan aplikasi pelacakan kontak. Hal ini menjadi mutlak dilakukan untuk memastikan data tentang persebaran virus sehingga bisa dilakukan tindakan pencegahan.

Namun demikian, penggunaan pelacakan ponsel melalui aplikasi juga tetap dibutuhkan. Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah setempat untuk bagaimana menarik warganya menggunakan aplikasi yang telah di buat.

Ciro Cattuto, ahli epidemiologi di University of Turin, Italia mengatakan dalam hal ini, pemerintah perlu membuat masyarakatnya merasa bahwa mereka telah melakukan kontribusi kebaikan bersama ketika menggunakan aplikasi tersebut.

“Mereka [masyarakat] perlu merasa diberdayakan. Kepercayaan publik juga akan sangat penting melalui transparansi yang riil,” katanya seperti dikutip Economist, Kamis (16/4).

Penting juga untuk tidak berinvestasi terlalu banyak dalam gagasan bahwa otomatisasi adalah segalanya. Aplikasi dan ponsel tentu dapat menyediakan data lokasi dan kedekatan, tetapi hanya pelacakan manusia dengan kecerdasan biatan yang dapat digunakan dalam situasi ini.

Akan tetapi, sekali lagi penggunaan sistem pelacakan merupakan opsi strategis. Sebagai contoh, pada akhir Januari lalu, tim pelacakan kontak Taiwan berhasil menggunakan campuran data dari sistem asuransi kesehatan nasional dan perusahaan telepon seluler untuk melacak sumber infeksi yang menyebabkan kematian pertama di pulau itu.

Selain mengembangkan jaringan teknologi tinggi untuk melacak infeksi, perusahaan teknologi informasi juga harus membuat perangkat lunak yang meningkatkan produktivitas pelacak kontak manusia seperti di Taiwan.

Formulir wawancara untuk pengguna potensial, visualisasi laman utama yang memiliki data relevan, konsultasi pelayanan diagnostik kesehatan jarak jauh. Hal-hal tersebut akan sangat berguna untuk menarik perhatian publik sekaligus sebagai upaya pencegahan penyebaran virus.

Pada akhirnya, diharapkan kolaborasi Apple dan Google bisa menghadirkan sistem pelacakan yang mampu berfokus pada penyediaan informasi kepada tim pelacakan dan pemberdayaan manusia secara teknologi, yang bertujuan untuk memerangi pandemi virus corona baru ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

google apple inc
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top