Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OPINI: Merenungi Kematian Tuhan (Yesus)

Persekutuan lebih dari hanya sekadar kerja sama. Di sana ada solidaritas yang dibangun dengan tanggung jawab. Bahkan, menuntut pengorbanan juga. Itu yang sedang kita lakukan saat ini menghadapi corona, termasuk dengan bersedia menjadi 'tahanan rumah' untuk sementara.
Abraham Runga
Abraham Runga - Bisnis.com 10 April 2020  |  11:40 WIB
Seorang jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Anugerah Bekasi mengoperasikan sejumlah alat multimedia pendukung ibadah Jumat Agung secara online. Bisnis / David E. Issetiabudi
Seorang jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Anugerah Bekasi mengoperasikan sejumlah alat multimedia pendukung ibadah Jumat Agung secara online. Bisnis / David E. Issetiabudi

TAHUN ini, umat Kristen menapak kembali via dolorosa (jalan penderitaan) Yesus dalam suasana yang sedikit mencekam karena pandemi corona.

Corona masih menebarkan cemas dan ketakutan. Dua pekan lalu, ketika merilis tulisan melalui media sosial bertajuk Corona, Kutu Kecil yang Mengguncang Dunia, seorang sahabat yang bekerja sebagai misionaris di Roma mengirim komentar melalui WhatsApp, "Kutu itu mesti dilawan dengan persekutuan."

Komentar pendek. Namun, mendalam. Persekutuan lebih dari hanya sekadar kerja sama. Di sana ada solidaritas yang dibangun dengan tanggung jawab. Bahkan, menuntut pengorbanan juga.

Itu yang sedang kita lakukan saat ini menghadapi corona, termasuk dengan bersedia menjadi 'tahanan rumah' untuk sementara.

Yesus dan Karya Sastra

Tentang penderitaan dan kematian Yesus, saya teringat pada novel John Maxwel Coetzee yang dirilis tahun lalu dengan judul asli dalam bahasa Spanyol, La muerte de Jesus (The Death of Jesus).

Ini karya ketiga yang menjadi bagian dari trilogi. Dua karya pertama adalah La infancia de Jesus (The Childhood of Jesus, 2013) dan Jesus en la Esucuela (The Schoolday of Jesus, 2017)..

Dalam novel ini, Yesus secara alegoris diwakilkan pada tokoh seorang anak bernama David.

David datang entah dari mana. Dia ditemukan sebagai pengungsi di Novilla, daerah baru berbahasa Spanyol.

Di sana David berjumpa dengan seorang lelaki tua bernama Simon, juga seorang pengungsi, yang kemudian dipercayakan sebagai ayah angkatnya.

Simon sedianya ingin agar anak itu dipelihara oleh ibu kandungnya. Namun, ibu David yang mungkin berpisah di atas kapal dalam perjalanan tak pernah bisa dijumpai.

"Semua orang di sini sudah melupakan masa lalunya. Jadi tak ada yang tahu di mana ibu anak ini," seorang petugas menjelaskan.

Singkat cerita, Simon menerima tanggungjawab sebagai ayah. Maka suatu saat, ketika David bertanya, mengapa mereka harus berada di tempat itu, Simon menjawab: "Hidup ini sangat berharga. Kita harus mempertahankan ini."

Simon dan David seakan terlempar begitu saja ke tengah dunia. Hadir di sana, di Novilla. Dasein, dalam bahasa para eksistensialis.

Yang menggembirakan bahwa sebagai orang asing, keduanya berusaha untuk bersekutu, membangun solidaritas.

Hanya saja, Coetzee kurang memperlihatkan alasan yang kuat, sebuah jaringan makna yang mengikat David dan Simon bahwa memang hidup itu demikian bernilai sehingga layak menjadi proyek bersama yang harus dilanjutkan.

Solidaritas itu berhenti ketika David yang mengidap penyakit kemudian mati. Menjelang kematiannya, dia sempat bertanya kepada Simon, apa itu kematian?

"Sebuah kelahiran kembali. Saat, di mana kita melupakan semua kenangan masa silam," demkian Simon menjelaskan.

Juga mènjelang ajal, di hadapan teman-temannya, David berulang kali merapal kisah-kisah Don Kisot, satu-satunya buku yang pernah dia baca.

John Preston ketika menulis resensi atas novel ini, mengakui tak mudah mengambil pesan dari novel itu. Sebuah novel yang lebih menyenangi pikiran, dari pada menggetarkan hati dan rasa.

Coetzee mungkin sedang berimajinasi, bila Yesus datang sekarang, apa yang diajarkan dan dilakukan? Sosok Tuhan macam apa, dan agama seperti apa yang diajarkan? Apakah Tuhan masih menjadi alasan untuk membangun solidaritas, dan menjadi dasar untuk menyanggah makna kehidupan?

Yang terpapar dalam kisah, Simon yang solider, dan keduanya, sebagai orang asing, tidak merasa terasing satu dengan yang lain. Tanpa sebuah kerinduan yang yang kuat, untuk memahami untuk apa semuanya itu harus terjadi.

Ada yang mencium aroma absurditas dalam alur cerita ini. Hal yang bisa terjadi, mengingat pengaruh yang kuat dari sastrawan Franz Kafka dan Samuel Becket dalam karya-karya Coetzee sebelumnya, serta kisah Don Kisot yang menjadi pegangan David satu-satunya.

Mungkin kita ingat bagaimana absursitas sebagai pesan dalam 'penantian Godot' yang ditulis Becket atau metamoforsa Gregor dalam Metamorphosis-nya Kafka.

Demikian juga, kisah Don Kisot yang ditulis Miguel de Cervantes dalam judul El ingenioso hidalgo Don Quixote de la Mancha (1605).

Sastrawan Rusia Fyodor Dostoyeski menyebut novel Don Kisot ni penuh dengan kata yang paling luhur dari pemikiran manusia. Begitu hebatnya karya ini, sehingga Perdana Menteri Israel Ben Gurion harus bersedia belajar bahasa Spanyol agar bisa membaca buku asli sebagai prasyarat menjadi pemimpin publik yang efektif.

Dalam novelnya, Cervantes menelanjangi habis figur Don Kisot sebagai ksatria yang aneh dan absurd.

Ksatria yang pada masa sebelumnya tampil selalu menang dan perkasa, dalam novel ini dilabrak dengan hal yang menggelikan.

Pernah terjadi, Vladinir, Nabokov dalam sebuah kuliahnya di Havard pada awal 1950 menyamakan kekejaman Cervantes terhada Kisot dengan kekejaman dalam penyaliban Yesus.

Carvantes telah membuat pembaca mengolok-olok Don Kisot sehabis-habisnya.

Sebagai protes, Nobokov meniadakan pelajaran Don Kisot dari silabus perkuliahannya di Cornell University.

"Don Kisot telah berkuda selama tiga ratus lima puluh tahun di hutan-hutan dan padang tundra umat manusia, membuat dia semakin kuat dan perkasa. Kita tidak menertawakannya lagi. Lambangnya adalah belas kasih, panjinya kebenaran," demikian Nobokov memuji Kisot.

Menarik disimak absurditas dalam karya-karya para eksistensialis. Di sana manusia menemukan kebuntuan hidup, mengalami kekosongan makna dan kesia-siaan. Absurditas menggerogoti persekutuan, melemahkan solidaritas. Manusia saling terasing satu dari yang lain, bahkan bisa saling membunuh.

Di tengah situasi seperti ini, terdapat dua pilihan, seseorang bisa melakukan bunuh diri untuk mengakhiri kesia-siaan, atau terus maju merajut kehidupan dengan membawa sejuta rasa pahit dan getir.

David dan Simon terus melanjutkan hidup mereka seperti biasa. Demikian, juga Vladimir dan Estragon terus menanti Godot, dan Gregor dalam Metamoprhosis-nya Kafka mengubah dirinya menjadi serangga untuk mengakhir absurditas hidupnya sebagai pedagang keliling. Kisot pun kemudian sadar dan berhenti dari kekonyolan.

Lalu, bagaimana dengan kisah kematian Yesus sebagaimana dinarasikan dalam naskah Kitab Suci, apakah sesuatu yang absurd?

Apakah Yesus menemukan kesia-siaan ketika mengajarkan cara hidup baru, cara ber-Tuhan yang baru, lalu harus menanggung risiko 'disalibkan' atas ajaran dan tindakannya?

Sempat sepotong doa didaras di Taman Getsemani agar 'cawan penderitaan' itu berlalu. Namun, itu tidak pernah terjadi.

Dalam kepastian Yesus menyambut salib dan menerima kematian. Dia, yang dalam iman orang Kristen diyakini sebagai Allah menjadi manusia melalu inkarnasi, tidak kembali bermatamofosa menjadi Tuhan yang perkasa di langit yang dengan sekali 'bim sala bim' bisa keluar dari situasi yang rumit. Dia menerima dan melampui absurditas itu.

Pada saat yang paling kritis, Tuhan yang adalah 'Bapa' itu tampak seperti Gordon. Tak kunjung datang. Ex absentia. Dia ada, tapi tidak pernah hadir. Disebut-sebut nama-Nya, dipanggil sebagai Yang Maha Kuasa, namun Dia tak pernah datang mendekat.

Pengalaman yang mungkin juga dialami sebagian orang yang sedang terpapar corona seperti Sampar (La Peste) dalam fiksi Albert Camus.

Sebuah pegulatan yang paradoksal. Dia datang sebagai penyelamat dalan ketidakberdayaan. Tuhan yang hadir dalam kemanusiaan yang berdarah dan lunglai.

Namun, sebagai apa kita mengimani ini?

Man for Others

Rahasianya, seperti kata John Robinson dalan Honest to God (1963), atau Dietrich Bonhoeffer dalam Last Letters from a Nazi Prison (1944), Yesus secara optimal menghayati dirinya sebagai 'man for others'. Manusia bagi yang lain.

Tuhan yang adalah maha kasih, memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus. Lalu, Yesus menuntaskan pekerjaan itu secara paripurna.

Cinta Yesus yang total menjadi kunci untuk memahani penyelamatan yang dikerjakan dalam ketidakberdayaan Allah.

Namun, kiranya sedikit terburu-buru, ketika Robinson bersama rekan-rekannya seperti Rudolf Bultmann, Gabriel Vahanian, William Hamilton, Paul Tillich dan Thomas Altizer pada awal paruh kedua abad lalu memproklamirkan gerakan teologi 'Kematian Tuhan' (The Death of Theology) sebagai cara baru berteologi untui mengerti dan menghayati Tuhan.

Mereka secara keras mengatakan, dengan kisah kematian Yesus, kita tidak lagi berbicara tentang Tuhan. Kita hanya boleh berbicara tentang manusia. Menjadi Kristen tanpa harus ber-Tuhan, apalagi ber-agama.

Para teolog sekuler ini mungkin hanya menimba inspirasi sepihak dari para eksistensialis yang terlalu mendewakan manusia yang memiliki 'otoritas subyek' dan kebebasan seperti Nietsche, Camus, Satre, dan kawan-kawan.

Selain itu, Robinson dan kawan-kawan juga tergesa-gesa melayani kebutuhan sebagian manusia modern yang sudah enggan berbicara tentang Tuhan yang metafisis, manusia sekuler yang tidak terpuaskan lagi dengan cerita mukjizat, mitos dan kabar-kabar dari langit.

Dan satu lagi, para teolog sekuler itu mungkin belum sepenuhnya berkenalan dengan Emmanuel Levinas. Maklum, Levinas baru menerbitkan karya utamanya, Totalitas dan Kertakberhinggan pada 1961.

Pemikikiran Levinas memberi perhatian tentang pentingnya relasi dengan orang lain'. Orang lain bukan orang asing yang harus diperangi. Wajah sesama adalah epifani, jejak dari kehadiran dari 'yang lain yang tak terhingga, yang transenden.'

Wajah dan kehadiran sesama yang telanjang, asing, janda miskin dan yatim piatu serta yang panik dan terkulai karena terpapar corona mendatangi kita, dan sekaligus membawa kita kepada kehadiran dari yang tak berhingga. Seperti Simon melihat dan menerima David, atau sebaliknya, dalam novel Coetzee.

Keterlibatan yang total seperti Yesus, menjadi 'man for others' bisa membawa kita kepada pengalaman kehadiran Dia yang transeden.

Maka berteologi dengan tema sentral manusia tidak bisa serta-merta menghentikan kita untuk berbicara, mengenal dan menghayati kehadiran Tuhan. Tuhan tak pernah mati selama masih ada manusia.

Robbin Hornes, Profesor Teologi dan Agama pada Monash University (Emmanuel Levias On God and Philosophy: Practical Implication for Christian Theology), mengundang orang kristen, tentu terutama para cerdik pandai untuk menjadikan pemikiran Levinas sebagai alat untuk menjelaskan iman kristiani yang relevan dalam kehidupan modern.

Tak berlebihan bila berkali-kali Yesus berbicara tentang wajahnya sendiri yang hadir pada sesama yang sakit, yang dipenjarakan, kelaparan, dan berkurangan.

"Apa yang telah kamu lakukan pada orang yang paling hina, kamu telah melakukan untuk Aku," kata Yesus suatu ketika.

"Inilah tandanya bahwa kamu adalah muridku, bila kamu saling mencinta," demikian Yesus pada kesempatan yang lain.

Sebagai pengikut, kita mesti mengambil bagian dalam cara hidup Yesus, termasuk dalam cara memahami Tuhan yang disapanya sebagai Abba. Tuhan yang penuh kasih yang hadir dalam diri sesama. Allah yang tak berwajah hanya bisa dikenal dan disapa melalui wajah-wajah sesama di sekitar kita.

Tentang hubungan wajah manusia dan Tuhan, mari renungi puisi Gerald Manley Hopkins, seorang imam Yesuit berikut:

"I say more: the just man justices,
keeps graces: .that keeps all this going graces;
Acts in God's eye what in God's eyes he is--Christ--for Christ plays in ten thousands places;
Lovely in limbs, and lovely in eyes not to his;
To the Father through the featutes of man's faces.

*Penulis adalah wartawan senior

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

opini
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top