Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Awak Kapal Terjebak di tengah Lockdown, Rantai Pasokan Global Terganggu

Sebagian besar pelabuhan telah menghentikan perubahan awak sebagai bagian dari upaya bersama untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg/Qilai Shenn
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg/Qilai Shenn

Bisnis.com, JAKARTA - Pembatasan di pelabuhan dan penerbangan yang dibatalkan semakin menyulitkan gerak para pelaut yang terjebak di atas kapal.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat melemahkan rantai pasokan global yang telah terdisrupsi oleh pandemi virus corona.

Pusat-pusat transit seperti Singapura, Abu Dhabi dan Shanghai telah menghentikan sebagian besar transfer kru, sementara lockdown global mempersulit perjalanan dari Filipina, yang memasok sekitar seperempat pelaut dunia.

Dilansir melalui Bloomberg, sektor yang paling berisiko adalah pergerakan barang-barang seperti makanan, obat-obatan dan energi melalui pengiriman komersial yang menyumbang sekitar 80 persen dari perdagangan global.

Meskipun tidak terlihat oleh sebagian besar konsumen, pembatasan kru adalah salah satu tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Sebagian besar pelabuhan telah menghentikan perubahan awak sebagai bagian dari upaya bersama untuk mencegah penyebaran virus," kata CEO Philippine Transmarine Carriers Inc. Gerardo Borromeo, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (7/4).

Menurut surat dari Kamar Pelayaran Internasional pada 19 Maret, setiap bulan, jadwal kerja untuk sekitar 100.000 pelaut harus diubah untuk mematuhi aturan maritim tentang jam kerja yang aman dan kesejahteraan awak kapal.

Ketua Asosiasi Pemilik Kapal Filipina Dario Alampay mengatakan jika pembatasan pergantian kru terus berlanjut, maka hanya akan tersisa sedikit kapal dan biaya pengiriman akan menjadi lebih tinggi.

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang Perdagangan dan Pembangunan berpendapat bahwa negara dan pelabuhan harus mempertimbangkan pengecualian bagi pelaut, serupa dengan yang berlaku terhadap awak penerbangan dan tenaga medis.

Perlu diingat juga bahwa pelaut yang kelelahan lebih rentan terhadap stres dan kurang fokus, yang dapat menyebabkan kecelakaan. "Anda tidak ingin mengambil risiko bekerja dengan kru yang kelelahan dan terlalu banyak bekerja," kata Alampay.

Menurut Konvensi Buruh Maritim, waktu kerja terpanjang bagi pelaut untuk berada di atas kapal adalah 11 bulan.

"Sangat penting untuk menjaga perdagangan di laut tetap mengalir," kata Jim Aquines, 36, seorang insinyur kepala yang seharusnya berangkat bulan ini dari Filipina, namun dia tertahan di rumah.

“Pembatasan ini akan melumpuhkan tidak hanya pelaut tetapi juga negara-negara yang mengandalkan pasokan dari luar negeri," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper