Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembiayaan Proyek Energi Fosil Naik, Perbankan Global Gagal Cegah Krisis Iklim

Berdasarkan Banking on Climate Change 2020, bank AS JP Morgan Chase telah menjadi pemodal terbesar bahan bakar fosil dalam empat tahun terakhir dengan menyediakan pendanaan lebih dari 220 miliar pound sterling.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  19:10 WIB
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah analisis oleh aliansi kelompok lingkungan berbasis di AS menunjukkan bahwa pembiayaan untuk industri bahan bakar fosil sejak Perjanjian Paris pada 2015 meningkat lebih dari US$2,66 triliun.

Temuan angka itu mendorong peringatan bahwa perbankan global telah gagal menanggapi krisis iklim.

Analisis terhadap aktivitas pembiayaan pada 35 bank terkemuka dunia itu diterbitkan dalam laporan Banking on Climate Change 2020. Kelompok penyusun terdiri atas Rainforest Action Network, BankTrack, Jaringan Lingkungan Pribumi, Oil Change International, Reclaim Finance, dan Sierra Club.

Dilansir the Guardian, Rabu (18/3/2020), Bank AS JP Morgan Chase telah menjadi pemodal terbesar bahan bakar fosil dalam empat tahun terakhir dengan menyediakan pendanaan lebih dari 220 miliar pound sterling.

Analisis itu juga menyatakan bahwa pembiayaan untuk perusahaan paling agreasif berekspansi dalam ekstraksi bahan bakar fosil sejak perjanjian Paris telah melonjak hampir 40 persen pada tahun lalu.

"Data tersebut mengungkapkan bahwa bank global tidak hanya meningkatkan pembiayaan bahan bakar fosil secara keseluruhan, tetapi juga mengerek pendanaan bagi perusahaan yang paling bertanggung jawab terhadap ekspansi yang agresif," kata Alison Kirsch, peneliti Rainforest Action Network.

Meskipun banyak bank telah mengumumkan pembatasan pembiayaan untuk industri batubara, minyak, gas arktik, dan ekstraksi pasir tar dalam setahun terakhir, laporan itu memperingatkan bahwa praktik bisnis lembaga keuangan tidak selaras dengan perjanjian Paris.

Bersama JP Morgan Chase, bank-bank AS seperti Wells Fargo, Citi dan Bank of America mendominasi pembiayaan untuk bahan bakar fosil, terhitung hampir sepertiga dari 2,2 triliun pound sterling layanan keuangan sejak perjanjian Paris.

Selain itu, angka-angka juga menunjukkan, di Eropa Barclays menjadi pemodal utama bahan bakar fosil dalam empat tahun terakhir. Tahun lalu, bank yang berbasis di London itu adalah pemodal terbesar minyak dan gas Arktik.

Sekelompok pemegang saham berpengaruh sekarang mendesak bank untuk menghentikan pemberian pinjaman kepada perusahaan bahan bakar fosil, dan telah mengajukan resolusi untuk dipilih di RUPS Barclays pada Mei mendatang.

Fracking minyak atau gas telah menjadi fokus aktivitas bisnis yang intens oleh bank-bank investasi sejak perjanjian Paris, dengan JP Morgan Chase, Wells Fargo dan Bank of America memimpin pembiayaan sebesar 241,53 miliar pound sterling, sebagian besar terkait dengan permian basin di Texas.

Sementara itu, Royal Bank of Canada dan Toronto Dominion memimpin pembiayaan untuk proyek minyak mentah pasir tar di Alberta, Kanada barat laut, yang telah menyebabkan kerusakan luas pada ekosistem.

Sebanyak empat bank besar Tiongkok telah mendominasi pembiayaan untuk penambangan batubara dan tenaga batu bara sejak perjanjian Paris dan tidak memiliki kebijakan yang membatasi praktik bisnis.

Kirsch mengatakan temuan ini membuatnya jelas bahwa bank gagal total menanggapi urgensi krisis iklim.

"Ketika jumlah kematian dan kehancuran akibat banjir, kekeringan, kebakaran, dan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya meningkat, tidak masuk akal dan keterlaluan bagi bank untuk menyetujui pinjaman baru dan meningkatkan modal bagi perusahaan yang berusaha paling keras untuk meningkatkan emisi karbon," katanya.

Menjelang perundingan iklim internasional besar berikutnya, Cop26 di Glasgow November ini, pemerintah Inggris telah berupaya menjadikan bisnis dan sektor perbankan sebagai fokus mengatasi krisis iklim.

Mantan kepala Bank Inggris Mark Carney telah ditunjuk sebagai utusan iklim, memperingatkan bahwa bisnis harus meningkatkan cara mereka mengungkapkan dampaknya terhadap lingkungan atau risiko gagal memenuhi target iklim. Johan Frijns, direktur BankTrack, sebuah LSM yang memantau kegiatan lembaga keuangan besar, mengatakan sudah waktunya ada komitmen untuk menghapuskan pembiayaan pada semua proyek bahan bakar fosil baru.

Dia mengatakan pada tahun lalu, banyak bank telah menyatakan dukungan pada Perjanjian Paris. Lebih dari 100 bank menandatangani komitmen Principles for Responsible Banking dan Equator Principles yang baru.

"Namun data di Perbankan tentang Perubahan Iklim 2020 menunjukkan janji terpuji ini membuat sedikit perbedaan, dan pembiayaan bank untuk industri bahan bakar fosil terus membawa kita ke jurang iklim," katanya.

Dikutip dari Priceoil.org, Morgan Stanley dan JPMorgan Chase menjadi bank yang paling besar dalam pendanaan LNG impor dan ekspor terminal. Sementara itu, China Construction Bank dan Bank of China merupakan bank yang terbesar dalam pendanaan tambang batu bara. Untuk sektor pembangkit listrik tenaga batu bara, pembiayaan masih dipimpin oleh ICBC dan Bank of China.

Adapun, JPMorgan Chase, Citi, dan BNP Paribas menjadi bank yang terbesar dalam pembiayaan proyek minyak dan gas lepas pantai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara perubahan iklim fosil
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top