Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Keuangan Tertekan, The Fed Berlakukan 2 Kebijakan Darurat 2008

Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve mengeluarkan dua program pinjaman darurat untuk membantu menjaga kredit mengalir ke ekonomi AS di tengah tekanan di pasar keuangan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  12:13 WIB
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. - REUTERS / Yuri Gripas
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. - REUTERS / Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (the Fed) mengeluarkan dua program pinjaman darurat untuk menjaga kredit mengalir ke ekonomi AS di tengah tekanan pasar keuangan.

Dua fasilitas tersebut yakni Commercial Paper Funding Facility (CPFF) dan Primary Dealer Credit Facility (PDCF). Keduanya diselenggarakan dengan persetujuan Menteri Keuangan.

Commercial Paper merupakan fasilitas pendanaan jangka pendek tanpa jaminan. Fasilitas ini sebelumnya juga dikeluarkan the Fed pada krisis keuangan 2008. Dengan layanan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan dalam jangka pendek. Departemen Keuangan Amerika Serikat disebutkan akan memberikan US$10 miliar perlindungan kredit dari Exchange Stabilization Fund.

Langkah tersebut menyusul tekanan yang meningkat dalam industry keuangan. Sejumlah langkah yang dilakukan terlebih dahulu seperti penurunan suku bunga darurat dan langkah-langkah dianggap gagal membendung tekanan pasar terhadap risiko bahwa virus corona atau Covid-19 akan membawa AS dan ekonomi global ke arah resesi.

"Kami mendengar dengan jelas [di pasar kekuangan] ada masalah likuiditas. Ini sangat penting untuk bisnis Amerika," Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan pada konferensi pers Gedung Putih, dilansir Bloomberg, Rabu (18/3/2020).

The Fed mengatakan akan menyediakan unit pembiayaan khusus yang akan membeli kertas komersial berperingkat A1/P1 dari perusahaan yang memenuhi syarat. Pembelian akan berlangsung selama satu tahun kecuali Fed memperpanjang program.

Sementara Primary Dealer Credit Facility akan menawarkan pendanaan dengan jangka waktu hingga 90 hari. Fasilitas ini akan tersedia untuk setidaknya 6 bulan dimulai 20 Maret 2020. Layanan ini diberikan dengan tingkat bunga yang sama dengan kebijakan pekan lalu menjadi 0,25  pada pekan lalu.

"Ada banyak tekanan di pasar dan ini seharusnya membantu mengurangi tekanan itu. Kebijakan ini merupakan kejutan besar bagi sistem. Secara lebih luas, kita sedang menuju ke perlambatan tajam dalam perekonomian,” kata Jim O'Sullivan, kepala strategi makro A.S. di TD Securities.

Indeks S&P 500, rebound dari penurunan paling tajam sejak 1987. Sada Senin lalu, ditutup 6 persen lebih tinggi, karena investor membaca pergerakan serta stimulus fiskal yang berani dari administrasi Trump sebesar US$1,2 triliun.

The Fed sebelumnya juga mengumumkan peningkatan jalur pertukaran dolar dengan bank sentral lain dan mengatakan akan membeli setidaknya US$700 miliar dalam bentuk surat berharga untuk memastikan pasar berfungsi dan menjaga kredit tetap mengalir.

"Pada titik ini The Fed telah membersihkan dan meluncurkan fasilitas di ujung jari dari krisis 2008: penghalang bagi CP dan akses efektif ke pendanaan diskon untuk dealer utama," ekonom Julia Coronado, presiden MacroPolicy Perspectives LLC, menulis dalam sebuah tweet.

Di pasar keuangan, serbuan investor ke uang tunai dan safe havens lainnya telah mengancam perusahaan sebagai sumber penting pinjaman jangka pendek. Perusahaan sering menerbitkan dokumen komersial (comercial paper) yang umumnya jatuh tempo dalam waktu kurang dari 270 hari untuk mendanai pengeluaran sehari-hari, seperti sewa dan gaji.

Menurut data Federal Reserve, biaya pinjaman di pasar dokumen komersial selama 90 hari melonjak 1 persen poin pada Senin mencapai lebih dari 3 persen.

Perusahaan yang telah berupaya menerbitkan dokumen komersial dalam beberapa hari terakhir masih bisa melakukannya. Namun, perdagangan pasar sekunder lemah, pertanda bahwa beberapa dealer mungkin akan mundur.

Fasilitas baru ini merupakan program yang diluncurkan Fed di tengah krisis keuangan pada Oktober 2008 ketika pasar kredit global mengalami peningkatan. Pada saat itu, perusahaan bahkan lebih bergantung pada pinjaman jangka pendek dan krisis membuat beberapa raksasa industri, termasuk General Electric Co, berebut uang.

Kontroversi yang melingkupi program dokumen komersial, dan beberapa fasilitas lainnya mendorong anggota parlemen untuk menempatkan pembatasan yang lebih besar pada penggunaan pinjaman darurat The Fed.

Di bawah perubahan yang dibuat oleh Dodd-Frank Act, Fed harus mendapatkan izin dari Departemen Keuangan AS untuk membeli dokumen komersial, dan juga harus melaporkan kepada Kongres tentang penerima program dan jaminan yang ditawarkan untuk mengamankan pinjaman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK Kebijakan The Fed
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top