Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perbankan Asia Hindari Pembiayaan Pembangkit Listrik Batu Bara

Puluhan gigawatt proyek pembangkit listrik di Indonesia dan Vietnam mangkrak akibat sepi dukungan pembiayaan. Berikut ini penyebabnya.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Februari 2020  |  11:07 WIB
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Sekitar setengah dari 41 gigawatt kapasitas proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di Indonesia dan Vietnam hingga saat ini belum mendapatkan pendanaan perbankan.

Menurut BloombergNEF, bank menolak pembiayaan proyek pembangkit tersebut karena mempertimbangkan kecilnya prospek pembangkit listrik baru yang akan dibangun.

Dikutip dari laporan tersebut, rencana perbankan Jepang, Korea Selatan dan Singapura keluar dari pembiayaan di sektor ini semakin meningkatkan risiko baru tambang batu bara.

Indonesia dan Vietnam diketahui memiliki jaringan pipa terbesar dari proyek-proyek berbahan bakar batu bara secara global setelah China dan India.

Penelitian ini menyoroti peran penting yang dimainkan lembaga keuangan dalam perang melawan perubahan iklim. Dalam beberapa tahun terakhir,  perbankan di Asia telah bergabung dengan mitranya di Eropa dan Amerika yang telah mengakui pentingnya transisi dari bahan bakar fosil, seperti batu bara, yang tidak ramah lingkungan.

Faktor-faktor yang mendorong perbankan beralih a.l. energi terbarukan yang lebih murah, dan meningkatnya risiko aset yang terlantar, serta biaya lingkungan yang lebih besar.

Analis BNEF Allen Tom Abraham di Singapura mengatakan tahun lalu merupakan titik eksodus terbesar lembaga keuangan Asia dari investasi batu bara  ke termal.  "Ini memengaruhi kelayakan banyak proyek pembangkit listrik tenaga batubara baru di Asia Tenggara, karena mereka akan sulit untuk menemukan investor berpengalaman dan modal murah untuk membangun proyek-proyek ini," katanya, dilansir Bloomberg, Rabu (26/2/2020).

Sejumlah bank regional termasuk DBS Group Holdings Ltd., Oversea-Chinese Banking Corp dan Mitsubishi UFJ Financial Group adalah beberapa diantara yang mengumumkan rencana untuk menghentikan pendanaan proyek pembangkit listrik batu bara baru. Beberapa bank di Jepang dan Korea Selatan menyatakan akan berhenti memberikan pinjaman kepada pabrik dengan efisiensi rendah.

Namun, kondisi ini bukan akhir dari bahan bakar fosil di kawasan Asia yang selama ini dipandang sebagai salah satu benteng terakhir dari pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Sekitar 20 gigawatt proyek energi batubara di Indonesia dan Vietnam telah mencapai tahapan financial closing, dengan modal hingga US$38 miliar.

Alhasil, pemerintah Asia Tenggara yang ingin menambah tenaga batu bara untuk menghasilkan listrik yang murah dan andal bagi rakyatnya terpaksa harus mengurangi risiko proyek melalui jaminan gagal bayar dari debitur dan perjanjian offtake jangka panjang untuk menarik investor.

Kendati demikian, ternyata masih ada kreditur yang belum berkomitmen untuk menghapus pembiayaan batu bara. China dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh perbankan atau perusahaan pembiayaan lainnya, ketika pertumbuhan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara mulai melambat di dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan batu bara pembangkit listrik

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top