Virus Corona Berkecamuk, Harga Daging Babi di China Melonjak 116 Persen

Wabah virus corona (coronavirus) di China gagal meredam rally harga daging babi. Harga daging babi justru bergerak menuju level tertingginya didorong kekhawatiran soal pasokan daging di negara ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  13:17 WIB
Virus Corona Berkecamuk, Harga Daging Babi di China Melonjak 116 Persen
Daging babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Wabah virus corona (coronavirus) di China gagal meredam rally harga daging babi. Harga daging babi justru bergerak menuju level tertingginya didorong kekhawatiran soal pasokan daging di negara ini.

Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis Selasa (11/2/2020), harga daging babi melonjak 116 persen pada Januari 2020 dari periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pada Desember 2019 saja, harga daging babi telah melonjak hampir dua kali lipat.

Harga grosir (wholesale), yang hanya berselisih 4 persen di bawah rekor level tertingginya pada November, didorong oleh pasokan yang lebih rendah karena demam babi Afrika dan pembatasan transportasi akibat wabah virus corona.

Sebelumnya, pada Senin (10/2/2020), NBS melaporkan bahwa harga produk konsumsi di China meroket tajam ke kisaran tertinggi dalam delapan tahun akibat merebaknya virus corona.

Wabah virus corona yang telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa tersebut memicu penutupan jaringan transportasi di seluruh negeri sehingga membuat kemungkinan kenaikan harga berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Pada Januari 2020, harga barang konsumsi naik 5,4 persen. Bahkan sebelum wabah coronavirus, harga cenderung naik tajam akibat lonjakan permintaan Tahun Baru Imlek.

Selain itu, dampak wabah Demam Babi Afrika juga membunuh jutaan ternak babi sekaligus menurunkan persediaan daging babi.

“Kami memperkirakan harga daging babi akan tetap kuat, setidaknya pada paruh pertama tahun ini karena jumlah babi telah turun setelah dipotong sebelum tahun baru [Imlek],” ujar Lin Guofa, analis senior di Bric Agriculture Group, sebuah konsultan pertanian yang berbasis di Beijing.

“Serangan virus corona juga merugikan restocking [stok ulang] di sejumlah peternakan babi dan ayam,” lanjutnya.

Menurut Lin, penyetokan ulang yang buruk awal tahun ini dapat menyebabkan penurunan dalam produksi unggas dalam negeri, yang seringkali digunakan untuk menggantikan daging babi.

Sementara itu, sektor ini juga dilanda wabah flu burung, dengan provinsi Hunan dan Sichuan memusnahkan masing-masing 18.000 dan 2.261 ekor ayam.

“[Tetap saja], penutupan sebagian besar restoran di seluruh negeri, sebagai bagian dari langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus, dapat mengurangi permintaan daging secara keseluruhan,” tambahnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top