Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona : Ini Rahasia China Bangun Cepat Rumah Sakit Khusus

Guna menangani wabah virus corona strain baru atau novel Coronavirus (2019-nCoV), otoritas China bergegas membangun dua rumah sakit baru di kota Wuhan, Hubei, hanya dalam hitungan hari. Kedua fasilitas yang dibangun, yaitu Rumah Sakit (RS) Huoshenshan dan RS Leishenshan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  11:13 WIB
Seorang pria membeli masker di sebuah apotek setelah tersebarnya virus corono di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Foto diambil (29/1 - 2020). China Daily via Reuters
Seorang pria membeli masker di sebuah apotek setelah tersebarnya virus corono di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Foto diambil (29/1 - 2020). China Daily via Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Guna menangani wabah virus corona strain baru atau novel Coronavirus (2019-nCoV), otoritas China bergegas membangun dua rumah sakit baru di kota Wuhan, Hubei, hanya dalam hitungan hari. Kedua fasilitas yang dibangun, yaitu Rumah Sakit (RS) Huoshenshan dan RS Leishenshan.

Mengutip China Global Television Network (CGTN), RS Huoshenshan dibangun dengan luas konstruksi 33.900 meter persegi akan memiliki kapasitas 1.000 tempat tidur. Rumah sakit yang mulai groundbreaking sejak 24 Januari 2020 itu ditargetkan dapat selesai pada 3 Februari 2020.

Hanya berselang sehari, rumah sakit kedua dengan kapasitas yang lebih besar, RS Leishenshan, mulai konstruksi. Dalam laporan terbaru, total area konstruksi RS Leishenshan telah diperluas menjadi sekitar 60.000 meter persegi untuk menampung lebih dari 1.600 tempat tidur rumah sakit. Fasilitas ini diharapkan dapat digunakan pada 5 Februari mendatang.

Kecepatan China dalam membangun rumah sakit membuat banyak orang penasaran. Bagaimana China bisa membangun rumah sakit dalam waktu hanya sekitar 10 hari?

Foto Aerial dibuat pada 28 Januari 2020 memperlihatkan pembangunan Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan. (Xinhua/Xiao Yijiu)

'Kontruksi ajaib' China itu dapat disaksikan langsung dengan streaming langsung 24 jam sehari yang disiarkan platform video media sosial China Media Group Yangshipin.

Dalam video streaming langsung, penonton bisa melihat langsung ke lokasi konstruksi, dengan pekerja, truk, dan excavator berpacu melawan waktu untuk mencapai tenggat waktu kontruksi.

Saat ini, lebih dari 3.000 pekerja kontruksi bekerja keras dalam proyek pembangunan RS Huoshenshan siang dan malam dengan pembagian tiga shift. Kecepatan dan jadwal bekerja sangat intens dan ketat.

Ini juga bukan kali pertama China membangun rumah sakit baru hanya dalam waktu seminggu. Mengutip BBC, pada 2003, China pernah membangun RS Xiaotangshan di Beijing untuk menanggapi epidemi SARS hanya dalam waktu 7 hari. Pembangunan rumah sakit tersebut diduga memecahkan rekor dunia untuk pembangunan rumah sakit tercepat.

Aman Tetapi Tidak Berkelanjutan

Normalnya pembangunan rumah sakit akan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk selesai. Rumah sakit China yang dibangun dalam waktu singkat kemudian memunculkan pertanyaan apakah bangunan tersebut benar-benar aman?

Dilansir dari Quartz, Scott Rawlings, arsitek firma HOK, mengklarifikasi bahwa apa yang sedang dibangun China bukanlah fasilitas medis pada umumnya, melainkan seperti pusat triase untuk mengelola infeksi massal.

"Saya ragu untuk menyebut rumah sakit yang didirikan hari ini di Wuhan sebagai rumah sakit permanen dan tentu saja ini bukan fasilitas layanan lengkap," katanya kepada Quartz.

Rawlings menjelaskan bahwa untuk proyek rumah sakit biasa membutuhkan banyak waktu untuk berkonsultasi dengan pasien, staf medis, administrator layanan kesehatan, dan masyarakat sekitar guna memastikan desain bekerja untuk semua konstituen.

Dengan tidak adanya waktu untuk konsultasi soal desain khusus, otoritas Wuhan menggunakan cetak biru dari Rumah Sakit Xiaotangshan yang dibangun pada 2003.

Menggunakan unit prefabrikasi adalah kunci untuk mempercepat pembangunan rumah sakit Wuhan. Kamar-kamar yang sepenuhnya dirakit dan dibuat oleh pabrik diangkut dengan truk dan diletakkan di tempatnya. Teknik pembangunan ini diklaim sepenuhnya aman.

Seorang insinyur struktural dan salah satu pendiri perusahaan teknik Jerman Knippers Helbig, Thorsten Helbig, yakin bahwa teknik pembangunan tersebut aman, tetapi tidak bisa berkelanjutan.

“Anda pasti dapat membuat bangunan prefab terdengar bagus secara struktural,” katanya.

Dia menilai meski rumah sakit dibangun memenuhi standar integritas struktural, mungkin tidak dari sisi konsumsi energi.

"Saya tidak bisa membayangkan ini adalah bangunan yang paling optimal," katanya.

RS Xiaotangshan bahkan "diam-diam ditinggalkan" setelah epidemi SARS berhasil diatasi, seperti yang dilaporkan BBC. Karena sulit untuk beradaptasi sebagai fasilitas khusus untuk penggunaan lain, RS Xiaotangshan tidak berguna pasca-darurat.

Rawlings menambahkan bahwa prefab atau konstruksi modular juga telah digunakan dalam skenario darurat di negara lain. Departemen Pertahanan Amerika Serikat, misalnya, dapat dengan cepat mendirikan rumah sakit lapangan untuk diagnosis dan perawatan darurat, hampir di mana saja.

Dia berujar bahwa sejarah China dengan epidemi massal telah mempersiapkan mereka untuk krisis yang sedang berlangsung di Wuhan.

"Dalam banyak hal, China berada di depan AS dan negara-negara lain dalam hal menanggapi infeksi massal, seperti yang pernah mereka alami sebelumnya dengan SARS pada awal 2000-an," katanya.

"China juga dapat memiliki lebih sedikit pembatasan birokrasi ketika datang untuk merancang dan membangun proyek besar seperti ini, terutama ketika begitu banyak yang dipertaruhkan," tegas Rawlings.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china virus corona
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top