Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ukraina Bersiap Pangkas Suku Bunga, Penurunan Tertinggi di Eropa

Inflasi Ukraina yang anjlok ke level teredah dalam enam tahu terakhir, setelah hryvnia (mata Ukraina) mengungguli semua mata uang lainnya terhadap dolar AS pada 2019, menggerakan bank sentral untuk memangkas suku bunga acuan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  16:23 WIB
Bendera Ukraina - wikimedia
Bendera Ukraina - wikimedia

Bisnis.com, JAKARTA  - Inflasi Ukraina yang anjlok ke level teredahh dalam enam tahu terakhir, setelah hryvnia (mata Ukraina) mengungguli semua mata uang lainnya terhadap dolar AS pada 2019, menggerakan bank sentral untuk memangkas suku bunga acuan.

Menurut Bank Nasional Ukraina, proyeksi kuartalan pada bulan ini untuk suku bunga akan terlihat lebih melunak.

"Prakiraan ini [pelonggaran] akan lebih ambisius dari pandangan kami sebelumnya. Tapi untuk saat ini kami belum bisa menuturkan lebih banyak," ujar Wakil Gubernur bank sentral Oleg Churiy, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (22/1).

Bank-bank sentral utama di dunia saat ini juga tengah memulai tren pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong ekspansi ekonomi yang lemah.

Pertumbuhan ekonomi di Eropa Timur, khususnya, dilaporkan stagnan dan inflasi di beberapa tempat terlihat bermasalah.

Saat ini, Ukraina bukan salah satu dari negara-negara di Eropa Timur yang rentan dengan risiko.

Pertumbuhan harga konsumen turun menjadi 4,1% secara tahunan pada Desember 2019, bahkan setelah bank sentral menurunkan suku bunga acuan utamanya sebesar 200 basis poin menjadi 13,5%.

Prospek sebelumnya, yang disampaikan pada Oktober tahun lalu, menyampaikan bahwa benchmark mungkin akan dikurangi menjadi 9% pada akhir 2020.

Namun, pemangkasan suku bunga yang lebih dalam akan berlangsung bersamaan dengan adanya sedikit penurunan pada ekonomi tahun ini, berdasarkan perkiraan sejumlah analis.

Bank Nasional Ukraina dijadwalkan untuk melakukan pertemuan terkait kebijakan suku bunga pada 30 Januari 2020.

Para pembuat kebijakan akan dihadapi dengan kondisi mata uang nasional yang memulai 2020 lebih rendah dari penutupan tahun 2019, di mana hryvnia melemah 2,2% terhadap dolar AS, yang menurut Churiy adalah tren musiman.

"Aliran masuk investasi asing yang signifikan, tidak hanya ke obligasi pemerintah, tetapi juga ke sektor swasta, serta pertumbuhan ekspor dapat menjaga situasi pasar valas tetap menguntungkan untuk waktu yang lebih lama," katanya.

Churiy mengharapkan permintaan berkelanjutan dari luar negeri untuk utang dalam mata uang hryvnia karena Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah meyakinkan investor tentang prospek ekonomi negaranya.

Dia juga melihat selera yang kuat untuk obligasi pemerintah jangka panjang yang akan dijual pekan depan.

Menurut Churiy, pelonggaran pengendalian modal, yang dimulai setelah revolusi terakhir Ukraina pada 2014, diharapkan dapat memperbaiki iklim investasi dan kemungkinan akan menunjukkan beberapa kemajuan dalam waktu dekat.

"Jika stabilitas makro-ekonomi berlanjut, kami juga dapat mengambil beberapa langkah penting pada liberalisasi FX dalam beberapa bulan mendatang," kata Churiy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebijakan moneter ekonomi eropa
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top