Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Lanjutkan Dialog Semi-Tahunan

AS-China sepakat untuk memulai kembali perundingan semi-tahunan yang bertujuan untuk menyelesaikan isu antara kedua negara, khususnya terkait perselisihan ekonomi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Januari 2020  |  14:34 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Amerika Serikat dan China telah sepakat untuk memulai kembali perundingan semi-tahunan yang bertujuan untuk menyelesaikan isu antara kedua negara, khususnya terkait perselisihan ekonomi.

Dialog rutin ini sempat terhenti pada awal pemerintahan Presiden AS Donald Trump bersamaan dengan konflik perdagangan yang meningkat.

Dilansir melalui Reuters, seorang pejabat yang familiar dengan gagasan ini mmenyebutkan bahwa Dialog Ekonomi Komprehensif AS-China akan diumumkan pada 15 Januari, sebagai bagian dari penandatanganan kesepakatan dagang fase satu.

Kabar dimulainya kembali dialog ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal.

Gagasan ini pertama kali diajukan oleh Departemen Keuangan AS dan diadvokasi oleh Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Ini mengingatkan kembali pada dialog ekonomi strategis yang dimulai pada 2006 ketika George W. Bush menjabat sebagai presiden.

Upaya itu dipelopori oleh Washington, yang pada saat itu diwakili oleh Menteri Keuangan Hank Paulson dan termasuk perwakilan tingkat tinggi dari lembaga pemerintahan AS lainnya, termasuk Departemen Perdagangan dan Energi.

Pertemuan tersebut dirancang untuk membahas isu-isu strategis jangka panjang dan menyusun kerangka kerja untuk pembicaraan terpisah terkait perselisihan ekonomi individu seperti kebijakan mata uang China.

"Kegiatan ini dilanjutkan di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama dan Trump. Pemerintahan Trump mengganti nama pertemuan ini menjadi Dialog Ekonomi Komprehensif yang pertama kali diadakan pada bulan Juli 2017," seperti dikutip melalui Reuters, Minggu (12/1).

Namun sesi reguler ini, yang sering dikritik sebagai proses yang berat dan tidak memberikan hasil yang nyata, terhenti saat pemerintahan Trump bergerak ke arah pendekatan yang lebih konfrontatif terhadap China dengan mengandalkan sanksi tarif untuk menekan negara Asia tersebut pada sebuah konsesi ekonomi.

Seorang juru bicara Departemen Keuangan AS menolak untuk berkomentar.

Di sisi lain, ahli kebijakan dan perdagangan luar negeri yang bekerja untuk pemerintahan AS sebelumnya mendukung prospek untuk melanjutkan dialog reguler tersebut.

"Masalah antara AS dan China sangat pelik dan sanksi tarif terbukti tidak dapat mengatasi hal ini," tulis Wendy Cutler, wakil ketua Lembaga Kebijakan Masyarakat Asia dan mantan negosiator di Kantor Perwakilan Perdagangan AS, dalam sebuah tweet, dikutip melalui Bloomberg.

Adapun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan yang mengadvokasi sikap yang lebih keras terhadap China menganggap memulai kembali dialog semi tahunan ini adalah sebuah kesalahan.

"Langkah ini akan merusak negosiasi dalam kesepakatan perdagangan fase dua," ujar seorang sumber yang tidak disebutkan namanya.

Jika pada akhirnya perundingan semi tahunan antara AS dan China kembali dibuka, ini akan menjadi dialog terpisah dari perundingan dagang yang sedang berlangsung antara kedua negara.

Beberapa waktu lalu, Trump dengan nada yang positif, optimistis bahwa sebuah kesepakatan dagang akan terealisasi.

AS dan China diagendakan untuk menandatangani kesepakatan dagang fase satu pada 15 Januari 2020 yang menyertakan komitmen China untuk membeli lebih banyak agrikultur AS dan produk lainnya hingga pemangkasan tarif pada sejumlah impor China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China ekonomi global
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top