Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejumlah Negara Ingin Terlibat Penyelidikan Kecelakaan Pesawat di Iran

Berbagai pihak dari sejumlah negara berebut untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat milik maskapai Ukraina yang menewaskan seluruh 176 orang penumpangnya pada Rabu (8/1/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Januari 2020  |  12:58 WIB
Ukraine International Airlines - Wikipredia
Ukraine International Airlines - Wikipredia

Bisnis.com, JAKARTA – Berbagai pihak dari sejumlah negara berebut untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat milik maskapai Ukraina yang menewaskan seluruh 176 orang penumpangnya pada Rabu (8/1/2019).

Pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines jatuh tak lama setelah lepas landas dari bandara Tehran dan membawa sebagian besar warga Iran dan Iran-Kanada. Jatuhnya pesawat ini terjadi beberapa jam setelah Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak, sehingga membuat beberapa orang berspekulasi bahwa pesawat itu mungkin tertembak.

Tetapi lima sumber keamanan, yang terdiri dari tiga warga AS, satu Eropa dan satu warga Kanada, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Reuters bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa pesawat itu mengalami masalah teknis dan bukan tertembak oleh rudal. Ada bukti bahwa salah satu mesin jet itu mengalami overheating, ungkap salah seorang sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

Penyelidikan ini dilakukan setelah Boeing Co melarang terbang seluruh armada 737 MAX setelah dua kecelakaan pada tahun 2018 dan 2019. Boeing 737-800 adalah salah satu model yang paling diterbangkan di dunia dengan catatan keamanan yang baik dan tidak memiliki fitur perangkat lunak menjadi penyebab dalam kecelakaan 737 MAX.

"Kami berhubungan dengan pelanggan maskapai kami dan menunggu mereka di masa sulit ini. Kami siap membantu dengan cara apa pun yang diperlukan," kata Boeing itu dalam sebuah pernyataan sebelumnya, Rabu (8/1).

Di Paris pada Rabu pagi, produsen mesin pesawat Prancis-AS CFM, yang dimiliki bersama oleh General Electric Co dan Safran dari Prancis. mengatakan spekulasi mengenai penyebabnya masih terlalu dini.

Puing-puing dan puing-puing yang membara berserakan di sebuah lapangan di barat daya ibukota Iran, tempat para petugas penyelamat memakai masker wajah meletakkan sejumlah kantong mayat.

Di antara para korban adalah 82 orang Iran, 63 orang Kanada, dan 11 orang Ukraina, kata pihak berwenang Ukraina. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan pada konferensi pers pada hari Rabu sore bahwa 138 penumpang terhubung ke penerbangan ke Kanada.

Ukraina mengatakan mengirim tim ahli ke Iran untuk menyelidiki. Presiden Volodymyr Zelenskiy mengatakan dia telah menginstruksikan jaksa agung Ukraina untuk membuka proses pidana, tanpa menentukan siapa yang akan mereka libatkan.

Di bawah aturan internasional, tanggung jawab untuk menyelidiki kecelakaan itu terletak pada Iran, dan Trudeau mengatakan menteri luar negeri Kanada akan berbicara dengan menlu Iran untuk menggarisbawahi perlunya "penyelidikan menyeluruh." Berspekulasi" pada kemungkinan penyebabnya begitu awal dalam penyelidikan merupakan tindakan yang berbahaya, ia menambahkan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan AS menyerukan kerjasama penuh dengan penyelidikan apa pun. AS yang merupakan tempat pesawat itu dirancang dan dibangun, memiliki hak untuk ikut dalam penyelidikan.

Kotak hitam pesawat juga telah ditemukan. Namun, otoritas Iran menyatakan tidak akan menyerahkan alat perekam penerbangan itu kepada Boeing ataupun Amerika Serikat.

Dalam komentar yang dipublikasikan oleh kantor berita Mehr Iran, kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAO), Ali Abedzadeh, mengatakan bahwa Iran tidak akan memberikan kotak hitam kepada produsen pesawat itu, Boeing, dan AS, negara asal pabrikan tersebut.

“Kecelakaan ini akan diselidiki oleh organisasi penerbangan Iran tetapi pihak Ukraina juga bisa terlibat,” tutur Abedzeh, seperti dilansir dari BBC (Kamis, 9/1).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kecelakaan pesawat
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top