Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Iran Ungkap Perkembangan Reaktor Nuklir Arak

Iran mengungkapkan pengembangan kembali bagian dari reaktor nuklir air berat Arak. Langkah tersebut dinilai tidak melanggar batasan perjanjian nuklir namun menunjukkan keseriusan Iran mengembangkan nuklirnya dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 Desember 2019  |  10:35 WIB
Petugas keamanan berdiri di depan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, sekitar 1.200 kilometer (km) selatan Teheran, Iran, Sabtu (21/8/2010). - Reuters/Raheb Homavandi
Petugas keamanan berdiri di depan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, sekitar 1.200 kilometer (km) selatan Teheran, Iran, Sabtu (21/8/2010). - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA - Iran mengungkapkan pengembangan kembali bagian dari reaktor nuklir air berat Arak. Langkah tersebut dinilai tidak melanggar batasan perjanjian nuklir namun menunjukkan keseriusan Iran mengembangkan nuklirnya dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Kantor berita pemerintah Iran melaporkan bahwa teknisi menghidupkan sirkuit sekunder di Arak, sebuah fasilitas yang dibangun untuk menghasilkan air berat yang digunakan sebagai moderator untuk memperlambat reaksi dalam inti reaktor nuklir.

"Hari ini kami memulai bagian penting dari reaktor," kata Kepala Badan Atom Iran, Ali Akbar Salehi, dalam pernyataan yang disiarkan langsung TV pemerintah, dilansir dari Reuters, Selasa (24/12/2019).

Sirkuit sekunder dinyalakan ketika Iran mengerjakan modernisasi fasilitas Arak, kantor berita Mehr melaporkan.

Reaktor nuklir air berat Arak terdiri atas dua sirkuit. Sirkuit pertama bertugas menghilangkan panas dari jantung reaktor,dan sirkuit sekunder bertanggung jawab untuk memindahkan panas dari sirkuit pertama ke menara pendingin dan akhirnya ke lingkungan luar.

Di bawah perjanjian nuklir 2015, Iran setuju untuk menutup reaktor di Arak. Kekuatan Barat yang menandatangani pakta itu mengatakan fasilitas itu dapat menghasilkan plutonium yang juga bisa digunakan dalam bom atom.

Tetapi Iran diizinkan untuk memproduksi sejumlah besar air berat dan Teheran telah berupaya mendesain ulang reaktor. Teheran menyatakan akan membuat isotop untuk keperluan medis dan pertanian.

Salehi mengatakan bahwa ruang kontrol reaktor, yang bernama Khondab, akan memakan waktu sekitar 5-6 bulan untuk dibangun dan sistem yang tersisa akan selesai dalam waktu sekitar 1 tahun.

Reaktor akan siap untuk tes awal pada tahun kalender Iran yang akan dimulai pada Maret 2021, Salehi menambahkan.

Pada awal Juli 2019 Presiden Iran Hasan Rouhani menyampaikan Teheran akan meningkatkan level pengayaan uraniumnya dan memulai kembali operasional Arak, jika negara-negara peserta perjanjian nuklir damai tidak membantu melindungi Iran dari berbagai sanksi AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nuklir iran
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top