Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menanti Posisi Khusus JK dan Luhut di Partai Golkar

Dua politisi senior menempati peran penting di saat-saat genting, termasuk ketika Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto berhadap-hadapan menjelang Munas. Dua nama itu adalah Luhut Pandjaitan dan Jusuf Kalla.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  13:49 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (ketiga kanan), Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (ketiga kanan), Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono (kiri), Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (kedua kiri), Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tanjung (kanan) dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kanan) berfoto bersama saat membuka peringatan HUT ke-55 Partai Golkar di Jakarta, Rabu (6/11/2019). - Antara
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (ketiga kanan), Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (ketiga kanan), Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono (kiri), Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (kedua kiri), Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tanjung (kanan) dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (kedua kanan) berfoto bersama saat membuka peringatan HUT ke-55 Partai Golkar di Jakarta, Rabu (6/11/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Dua politisi senior menempati peran penting di saat-saat genting, termasuk ketika Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto berhadap-hadapan menjelang Munas. Dua nama itu adalah Luhut Binsar Pandjaitan dan Jusuf Kalla.

Pertemuan Luhut Pandjaitan dengan Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto menjadi pemecah kebekuan kedua politisi Golkar dan kubu pendukungnya masing-masing.

Hasilnya, Bamsoet menyatakan tidak jadi maju sebagai calon ketua umum sekaligus melempangkan jalan bagi Airlangga kembali memimpin Golkar.

Patronase di Golkar antara politisi junior dan senior bukan cerita rahasia. Kaderisasi organisasi dan patronase juga tak hanya terjadi di Golkar. Di partai politik mana pun hal itu merupakan hal yang wajar terjadi.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan - Antara

Mencairnya kebekuan antara Bamsoet dan Airlangga pun bisa dimaknai terjadi bukan hanya karena keduanya ingin berdamai. Lebih dari itu, patron kedua pihak juga melihat pada akhirnya perseteruan Bamsoet dan Airlangga tidak akan menguntungkan partai jika dibiarkan terus menggumpal dan akhirnya berbenturan.

Jika pada kasus Munas Golkar nama Luhut yang kemudian muncul sebagai juru runding, bukan berarti hanya Luhut seorang yang berperan di balik layar pergerakan Golkar.

Banyak nama senior Golkar yang piawai melancarkan langkah-langkah politik, tanpa perlu ingar bingar pemberitaan. Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Agung Laksono, masing-masing punya barisan pendukungnya sendiri-sendiri. Di luar nama ketiga tokoh Golkar tersebut, ada nama Jusuf Kalla yang memiliki kemahiran berpolitik tak kalah dengan Ical, Akbar, dan Agung.

Kepiawaian JK mengatasi sejumlah masalah nasional menunjukkan kualitas mantan Wakil Presiden RI ini dalam menyelesaikan dan membangun resolusi konflik yang berlarut-larut.

Tak aneh jika Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto akan memberikan posisi kehormatan di internal partai kepada Jusuf Kalla yang disandingkan dengan Luhut Binsar Panjaitan.

Ihwal posisi kehormatan untuk JK dan Luhur sempat dikemukakan Ketua Pimpinan Sidang Munas X Partai Golkar Azis Syamsuddin di Jakarta, Rabu (4/12) malam.

Aziz menyebutkan hampir 2/3 peserta munas mengusulkan untuk tetap menetapkan Aburizal sebagai Ketua Dewan Pembina, Akbar Tandjung Ketua Dewan Kehormatan, dan Agung Laksono sebagai Ketua Dewan Pakar.

Selanjutkan, kata Azis, ada juga usulan dari Airlangga untuk memberikan posisi kehormatan bagi JK dan Luhut.

"Dari Pak Airlangga, ada masukan untuk memberikan tempat kehormatan bagi Bapak Jusuf Kalla dan Pak Luhut Binsar Panjaitan," kata Azis.

Selanjutnya usul dan masukan dari Airlangga dan peserta munas terkait dengan jabatan bagi para senior Golkar itu akan dibawa dalam rapat komisi yang akan dipimpin Airlangga Hartarto untuk ditetapkan sekaligus membahas komposisi DPP Partai Golkar 2019 - 2024.

Ditemui Antara usai penetapan dirinya sebagai Ketua Umum Golkar 2019 - 2024, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa masukannya untuk memberikan posisi kehormatan bagi JK dan Luhut dilandasi penghormatan Golkar bagi para kader senior.

"Para senior sudah duduk dalam struktur, Pak Aburizal Bakrie, Pak Agung Laksono, dan Pak Akbar Tanjung. Kami juga punya dua senior lagi, yakni Pak Jusuf Kalla dan Pak Luhut Binsar Panjaitan. Kami akan menawarkan kepada beliau-beliau posisi yang beliau minati," kata Airlangga.

Selain membahas komposisi DPP dan posisi kehormatan bagi para senior Golkar, rapat komisi yang dipimpin Airlangga juga akan membahas program partai ke depan sebagai amanat yang nantinya akan dijalankan DPP Golkar 2019 - 2024.

Lantas posisi apa yang akan dipilih JK dan Luhut, atau posisi apa yang akan diberikan Golkar kepada dua tokoh berpengaruh di Partai Golkar itu? Saat tulisan ini dibuat belum diketahui kejelasannya.

Satu hal yang pasti, Golkar akan rugi kalau tidak memberi tempat khusus kepada Luhut dan JK.

Salah-salah, Luhut atau JK bisa diikat dalam tempat terhormat oleh parpol lain yang bisa jadi akan menjadi saingan Golkar di masa depan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jusuf kalla partai golkar luhut binsar pandjaitan

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top