Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

TikTok Pulihkan Akun Pengguna yang Kritisi China Soal Uighurs

Aplikasi TikTok memulihkan akun seorang wanita yang dibekukan setelah memposting video viral yang kritis terhadap tindakan pemerintah China di Xinjiang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 November 2019  |  11:25 WIB
Logo aplikasi TikTok terlihat di layar ponsel dalam ilustrasi gambar yang diambil 21 Februari 2019. - REUTERS/Danish Siddiqui
Logo aplikasi TikTok terlihat di layar ponsel dalam ilustrasi gambar yang diambil 21 Februari 2019. - REUTERS/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Aplikasi TikTok memulihkan akun seorang wanita yang dibekukan setelah memposting video viral yang kritis terhadap tindakan pemerintah China di Xinjiang.

Demikian diungkap wanita tersebut pada akun Twitter-nya. Ia juga mengatakan TikTok telah meminta maaf.

Dilansir dari Bloomber, remaja bernama Feroza Aziz dari New Jersey memposting serangkaian video yang awalnya tampak seperti tutorial rias, sebelum berubah menjadi teguran keras terhadap perlakuan China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.

"Jadi hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengambil penjepit bulu mata Anda, menjepit bulu mata Anda, lalu letakkan dan gunakan ponsel Anda untuk mencari tahu apa yang terjadi di China," ungkapnya dalam salah satu video di akun TikToknya yang juga diposting di Twitter.

"Saya pikir jika saya membuat ini terdengar seperti tutorial makeup, orang akan ingin menontonnya," ungkap Aziz kepada CNN. "Ketika saya berbicara langsung tentang Muslim Uighur, video itu ditarik."

TikTok, yang dimiliki ByteDance Inc. dan berbasis di Beijing, mengatakan bahwa penghapusan video viral tersebut disebabkan oleh "kesalahan pada moderasi manual". Akun Aziz juga dibekukan karena memposting video termasuk gambar Osama bin Laden, yang melanggar pedoman mereka.

Perusahaan mengatakan video Aziz tidak melanggar standarnya, tidak boleh dihapus, dan hanya tidak dapat diakses untuk total 50 menit. TikTok mengatakan sedang melakukan tinjauan yang lebih luas dari proses moderasi kontennya.

Anggota parlemen AS telah menyatakan keprihatinannya bahwa popularitas aplikasi yang semakin meningkat menimbulkan risiko keamanan nasional, termasuk penyensoran oleh pemerintah China.

AS telah mengajukan klaim serupa tentang kemungkinan penyensoran terhadap perusahaan teknologi China seperti Huawei Technologies Co, sementara memberikan sanksi kepada yang lain seperti produsen kamera keamanan Hangzhou Hikvision Digital Technology Co. Ltd. atas keterlibatan mereka di Xinjiang.

Setelah akunnya dibekukan, Aziz kembali memposting di Twitter bahwa akun TikTok miliknya telah kembali dipulihkan. TikTok juga telah mengeluarkan permintaan maaf karena menutup akun miliknya.

Insiden ini merupakan gejolak terbaru bagi perusahaan yang menavigasi kepekaan politik di China serta reaksi pemerintah dan konsumen di AS dan di tempat lain terhadap tindakan yang dianggap mengalah pada ambisi politik China.

Televisi pemerintah China pada Oktober membatalkan semua liputan National Basketball Association setelah tweet ofisial tim mendukung para demonstran pro-demokrasi Hong Kong, dan juga hampir semua sponsor China memutuskan hubungan dengan asosiasi basket tersebut.

Sementara itu, film anak-anak Dreamworks Animation dilarang di Vietnam karena memuat peta Laut China Selatan yang mencerminkan klaim China yang luas dan banyak diperdebatkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku minoritas uighur TikTok
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top