Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelaku Bom di Medan Pakai Atribut Ojek Online, Ini Respons Keras Menhub

Pada masa mendatang, Budi Karya berharap operator mampu melakukan pengamatan yang lebih baik dalam merekrut calon pengemudi.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 13 November 2019  |  14:00 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberi keterangan perihal mobil Esemka kepada wartawan di Boyolali Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). JIBI/Bisnis - Chamdan Purwoko
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberi keterangan perihal mobil Esemka kepada wartawan di Boyolali Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). JIBI/Bisnis - Chamdan Purwoko

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi prihatin atas kejadian bom bunuh diri di Medan dan berbelasungkawa apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Menurutnya, kejadian ini menjadi suatu evaluasi bagi pemerintah dan operator dalam melakukan penyeleksian pegawai Ojek Online.

Pada masa mendatang, Budi Karya berharap operator mampu melakukan pengamatan yang lebih baik dalam merekrut calon pengemudi.

"Kalau itu memang pengendara ojol [ojek online], kami harap selanjutnya operator lebih teliti dalam melakukan seleksi. Baik melalui [seleksi] tatap
muka atau komunikasi langsung oleh yang bersangkutan," tuturnya di Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Budi Karya mengatakan bahwa pihaknya akan mengundang aplikator dan segera mereview proses rekrutmen mitra pengemudi.

Dia berharap, tahapan rekrutmen ojek online melalui tahapan rekrutmen tatap muka. Kedua, melakukan evaluasi secara random terhadap para anggota dan pengemudi.

Menurutnya, suatu kelalaian akan terdeteksi dengan apa yang dilakukan pengemudi pada kesehariannya. "Saya akan evaluasi dan mengkoordinasikan dengan Kepolisian sejauh mana itu dilakukan. Apabila ada suatu rekomendasi dari Kepolisian tentang upaya tersebut maka akan kita lakukan. jadi kita harus
koordinasi [lebih] dulu," lanjutnya.

Selain itu, Budi Karya juga menyebutkan pihaknya akan menelusuri indikasi-indikasi yang tidak bertanggung jawab yang berpotensi
mengakibatkan ketidakamanan penumpang. Seperti salah satunya dengan perbedaan akun pengemudi ojek online dengan pengemudi yang menjemput
penumpang.

Menurutnya, perbedaan akun dan pengemudi menjadi indikasi dan berpotensi adanya tindakan yang kurang bertanggung jawab. "Pendataan terhadap ojol sangat penting. Sejauh ini data jumlah ojol hanya Tuhan dan aplikator yang tahu. Klaim dari Gojek driver mereka ada 2 juta [pengemudi] tapi siapa bisa buktikan?"

Budi Karya juga menyindir kinerja Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Tenaga Kerja hingga kini belum mengeluarkan aturan bagaimana mengatur keberadaan ojol.

Operasional ojol tidak ada yang mengawasi dan mengaudit sistem aplikasinya. "Kementerian Komunikasi dan Informatika yang seharusnya melakukan ini.
Hubungan kemitraan yang tepat bagi pengemudi ojol dengan pihak aplikator belum diatur oleh Kementerian Tenaga Kerja," lanjutnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menhub bom bunuh diri
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top