Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sampah Plastik Hari Belanja Online Bisa Mencapai 41,3 Juta Ton Pada 2025

Sampah plastik dari paket pengiriman festival hari belanja online di China diperkirakan dapat meningkat empat kali lebih besar pada 2025, seiring pembukuan rekor penjualan setiap tahunnya.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 11 November 2019  |  17:46 WIB
Pekerja menyortir paket di pusat logistik layanan pos menyambut festival hari belanja online di Nanjing, Provinsi Jiangsu, China pada 10 November 2019 - Reuters/Stringer
Pekerja menyortir paket di pusat logistik layanan pos menyambut festival hari belanja online di Nanjing, Provinsi Jiangsu, China pada 10 November 2019 - Reuters/Stringer

Bisnis.com, BANDUNG - Sampah plastik dari paket pengiriman festival hari belanja online di China diperkirakan dapat meningkat empat kali lebih besar pada 2025, seiring pembukuan rekor penjualan setiap tahunnya.

Volume material paket yang digunakan untuk membungkus barang dari e-dagang mencapai 9,4 juta ton pada tahun lalu.

Laporan Greenpeace dan sejumlah LSM lainnya memperkirakan bobot sampah plastik dari hari belanja di China ini dapat mencapai 41,3 juta ton pada 2025.

Pejuang Greenpeace Tang Damin menuturkan perusahaan e-dagang besar nyaris tidak memberikan tanggapan apapun. "Mereka mengulur waktu hingga peraturannya keluar," ujar Damin, Senin (11/11/2019).

Pada satu jam pertama acara Double Eleven atau 11.11, penjualan Alibaba telah mencapai US$12 miliar.

Sebagai perusahaan e-dagang yang kini menyentuh hingga pedesaan, Alibaba membukukan setidaknya 1,88 miliar pengiriman paket dari 11 November hingga 16 November 2018. Biro Pos Negara di China mencatat pertumbuhan tahunan pengiriman barang sepanjang periode tersebut mencapai 26%.

Sayangnya, tidak ada angka resmi tentang sampah yang dihasilkan dari acara 11.11 tersebut. Namun, Greenpeace memperkirakan sampah plastik dari paket di acara ini tahun lalu mencapai 250.000 ton.

China memang tengah berupaya mendorong industri daur ulang menjadi bisnis yang menguntungkan karena lahan bagi pembuangan sampah akhir semakin sulit didapat.

Selain itu, para pemerhati lingkungan semakin khawatir terkait dengan pertumbuhan sampah plastik.

Namun, China hingga saat ini belum mengatasi masalah sampah dari e-dagang. Greenpeace memperkirakan hanya 5% dari plastik sisa paket e-dagang yang didaur ulang.

Bulan lalu, pemerintah China sebenarnya telah mengeluarkan standar paket. Aturan ini membatasi kurir paket untuk mengunakan material pembungkus paket yang sesuai dengan daftar yang telah disetujui pemerintah.

Pada Oktober lalu, Alibaba telah menegaskan bahwa pihaknya telah lebih ramah lingkungan dan memberikan insentif bagi pelanggan yang melakukan daur ulang. Bahkan, Alibaba menegaskan anak usaha pengiriman paketnya, Cainiao, akan memastikan setiap tanggal 20 November diperingati sebagai hari daur ulang kerdus. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sampah harbolnas
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top