Tak Ada Potensi Anomali Iklim, Musim Hujan dan Kemarau Diprediksi Normal pada 2020

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kecil peluang akan muncul fenomena El Nino maupun La Nina di Samudera Pasifik pada 2020.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  13:08 WIB
Tak Ada Potensi Anomali Iklim, Musim Hujan dan Kemarau Diprediksi Normal pada 2020
Warga melihat ke arah pedesaan yang tertutup kabut di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (7/7/2018). - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan dan musim kemarau sepanjang 2020 normal seiring tidak adanya potensi anomali iklim pada tahun depan.

Hingga pertengahan Oktober 2019, pemantauan BMKG terhadap anomali iklim global memastikan bahwa episode El Nino lemah 2019 telah berakhir sejak Juli.

Namun, fenomena Dipole Mode positif (IOD+) masih berkembang cukup kuat di Samudra Hindia. Hal itu berkaitan dengan kondisi suhu muka laut perairan Indonesia yang diprediksi masih cenderung lebih dingin hingga awal November 2019.

Fenomena El Nino merupakan anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator yang lebih panas dari biasanya. Adapun fenomena La Nina terjadi jika suhu lebih dingin dari biasanya.

IOD+ menggambarkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Samudera Hindia sebelah barat daya Sumatra yang lebih dingin dibanding suhu muka laut perairan timur Afrika, sebaliknya untuk IOD-.

Prospek pada 2020, prediksi BMKG menunjukkan kecilnya peluang akan muncul fenomena El Nino maupun La Nina di Samudera Pasifik. Untuk Samudera Hindia, tidak terdapat indikasi akan munculnya fenomena IOD+ maupun IOD- yang kuat pada 2020, setidaknya pada semester pertama.

Pada awal 2020, kondisi suhu muka laut perairan Indonesia diprakirakan diprediksi normal hingga cenderung hangat yang bertahan hingga Juni 2020.

Peneliti Iklim dan Cuaca BMKG Siswanto mengatakan prediksi hujan untuk sepanjang 2020, cenderung mempunyai pola yang sama dengan normal (klimatologisnya).

"Awal musim hujan akhir 2019 telah diperkirakan akan mundur dari normalnya. Periode musim hujan (November 2019 – Maret 2020) masih sesuai dengan normalnya berdasarkan catatan klimatologi 1981-2010. Namun, dapat lebih basah dibandingkan 2019, khususnya Sumatra dan Kalimantan bagian utara," paparnya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu (23/10/2019).

Lebih lanjut, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2020. Adapun awal musim kemarau diperkirakan berlangsung mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April - Mei 2020 dan berlangsung hingga Oktober.

Siswanto mengingatkan peluang terjadinya bencana hidrometeorologis (siklon tropis, hujan ekstrem, puting beliung, angin kencang, gelombang ekstrem, dan kekeringan iklim) tetap perlu diwaspadai, meskipun diprediksi berkurang jumlah kejadian maupun kekuatannya pada kondisi iklim yang normal.

Dia menambahkan memperhatikan pemutakhiran prediksi saat ini, terkait prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global, multi pihak mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim ini untuk perencanaan jangka pendek pada 2020.

"Pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolam retensi, sistim polder, dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian," papar Siswanto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
BMKG, Cuaca

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top