Ekonomi Melambat, China Awasi Beban Utang

Pembuat kebijakan China mempersiapkan dua pertemuan pada beberapa pekan ke depan dengan bukti data terbaru yang mengindikasikan bahwa cepat atau lambat ekonomi akan tumbuh pada kisaran 5%.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  12:30 WIB
Ekonomi Melambat, China Awasi Beban Utang
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Pembuat kebijakan China mempersiapkan dua pertemuan pada beberapa pekan ke depan dengan bukti data terbaru yang mengindikasikan bahwa cepat atau lambat ekonomi akan tumbuh pada kisaran 5%.

Data yang dirilis pada Jumat (18/10), menunjukkan produk domestik bruto China pada kuartal ketiga tumbuh hanya sebesar 6,0% secara tahunan, pada laju yang paling lambat dalam tiga dekade terakhir.

Pada saat yang sama pertumbuhan investasi tidak cukup kuat untuk menopang ekspansi ekonomi.

Gubernur Bank Sentral China (PBOC) Yi Gang menanggapi data tersebut, tidak dengan memberi sinyal stimulus tambahan, namun dia mengingatkan para investor bahwa fokus China tetap pada menjaga beban utang yang besar di bawah kendali.

Menurut Kepala Ekonom China di Societe Generale SA Yao Wei, pembuat kebijakan di China memperhitungkan langkah mereka untuk jangka panjang sehingga kemungkinan pertumbuhan di atas 6% atau sedikit lebih rendah, tidak menjadi masalah.

PBOC mengukur ruang lingkup kebijakan dengan melihat keseluruhan utang, serta seberapa besar risiko yang ada misalnya dari shadow banking, sektor perumahan dan inflasi.

“Melihat semua aspek ini, mereka menilai bahwa bank sentral sebenarnya tidak memiliki banyak ruang lingkup dari perspektif jangka panjang. Jadi mereka sangat berhati-hati tentang bagaimana dan kapan untuk menggunakan sebuah kebijakan," ujar Yao, dikutip melalui Bloomberg, Senin (21/10).

Menurut rilis PBOC yang dirilis hari ini, dengan beberapa langkah kebijakan moneter utama yang dikeluarkan dalam sebulan terakhir, suku bunga pinjaman, tidak berubah pada bulan Oktober.

Dalam pernyataannya kepada Komite Pengarah IMF di Washington, Yi mengatakan bahwa pertumbuhan telah stabil tahun ini dan indikator ekonomi utama tetap dalam kisaran yang sesuai.

"Sambil menjaga pertumbuhan kredit, bank juga harus memperhatikan menjaga stabilitas rasio leverage,” katanya.

Meskipun angka pertumbuhan kuartal ketiga berada di bawah perkiraan, para pembuat kebijakan mungkin sebenarnya melihat tanda-tanda stabilisasi, terutama jika gencatan perang tarif dengan AS dapat bertahan lebih lama.

Permintaan perusahaan untuk kredit jangka panjang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan penjualan mobil, bagian penting dari penjualan ritel China, mengalami kontraksi yang lebih kecil dan investasi infrastruktur stabil di level rendah.

Faktor-faktor ini mendorong para ekonom dari Citigroup Inc, Barclays Plc, Oversea-Chinese Banking Corp Ltd, dan Natwest Markets Plc untuk secara hati-hati menyerukan bottoming-out.

"Faktor-faktor positif seperti gencatan senjata perdagangan, low base effect, stabilisasi sektor manufaktur dan peningkatan investasi infrastruktur dapat memberi PBOC lebih banyak alasan untuk mengambil pendekatan wait and see," tulis Tommy Xie, seorang ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp., dalam sebuah catatan.

Yang pasti, jika kondisinya memburuk secara material, China masih memiliki cukup ruang untuk bereaksi, dengan suku bunga jauh di atas nol.

Sebelum data pertumbuhan pekan lalu dirilis, ekonom yang disurvei Bloomberg melihat ekspansi setahun penuh untuk 2019 berada pada kisaran 6,2% sebelum melambat menjadi 5,9% pada 2020.

Untuk saat ini, tanda-tanda awal stabilisasi memberi regulator kesempatan untuk memperdebatkan beberapa masalah jangka panjang pada pertemuan mendatang, seperti populasi yang mulai menua dan manfaat migrasi internal tenaga kerja yang lebih bebas.

Reformasi ini bisa lebih penting daripada melonggarkan kebijakan dalam memastikan kinerja ekonomi yang stabil dalam jangka panjang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, ekonomi china

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top