Ini Kisah Jusuf Kalla, J.B. Sumarlin, dan Azwar Anas saat Dipinang jadi Menteri

Penunjukan seseorang menjadi menteri kerap diwarnai kejutan. Tak hanya bagi publik, tapi bagi menteri yang bersangkutan.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  15:36 WIB
Ini Kisah Jusuf Kalla, J.B. Sumarlin, dan Azwar Anas saat Dipinang jadi Menteri
Jusuf Kalla - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo mulai mengundang satu persatu calon menterinya pada Senin (21/10/2019).

Tokoh beken semisal mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D. dan bekas Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir sudah mendatangi Istana Negara.

Sebagian nama yang nongol di Istana hari ini sudah diisukan masuk kabinet periode 2019-2024 sejak jauh-jauh hari, lengkap dengan portofolio kementerian yang bakal ditempati. Namun, mereka belum berani membocorkan posisi karena masih menunggu pengumuman resmi dari Jokowi.

Penunjukan seseorang menjadi menteri kerap diwarnai kejutan. Tak hanya bagi publik, tapi bagi menteri yang bersangkutan.

Berikut adalah kisah dari tiga mantan menteri mengenai bagaimana mereka mendapatkan posisi itu:

JUSUF KALLA

Per 20 Oktober 2019, Jusuf Kalla resmi meninggalkan kursi Wakil Presiden periode 2014-2019. Dia juga menduduki jabatan prestisius tersebut dalam kurun 2004-2009 sebagai pendamping Susilo Bambang Yudhoyono.

Karir pria kelahiran 15 Mei 1942 itu di pemerintahan ditapaki dari jabatan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (1999-2000). Kala itu, dia diangkat oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dikutip dari buku JK Ensiklopedia (2012), JK mengaku tidak tahu siapa yang merekomendasikan namanya masuk dalam Kabinet Persatuan Nasional. Sahabatnya a.l. Akbar Tanjung dan Amien Rais memang menelepon pria asal Makassar itu sebelum pengumuman nama menteri.

Selain itu, dua hari menjelang pengumuman kabinet, Gus Dur mengundang tokoh Sulawesi Selatan, M. Jusuf, yang merupakan Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI periode 1978-1983. M. Jusuf ogah bertemu dan menelepon JK.

“Barangkali kau yang dicari, bukan saya,” kata JK menirukan ucapan M. Jusuf.

Karena merasa tak enak, JK pun enggan menelepon Gus Dur. Dia tidak mau langkahnya itu menimbulkan prasangka negatif dari orang banyak.

M. Jusuf baru menemui Gus Dur setelah ditelepon lima kali dalam sehari. Ternyata benar bahwa RI-1 justru menanyakan tentang JK.

Gus Dur pun memanggil JK bersama dengan menteri-menteri terpilih di bidang ekonomi, keuangan, dan industri (ekuin) sebelum dilantik. Presiden memberikan visi untuk menyelesaikan aneka masalah ekonomi.

Kepada JK, Gus Dur meminta agar mempelajari industri Jepang yang inovatif dan maju. China juga perlu dipelajari karena industri kecil dan menengahnya maju. JK memuji Gus Dur karena hanya memberikan garis besar kebijakan secara singkat.

“Konsekuensinya, saya rasa, tanggung jawab saya juga luar biasa besarnya,” kenang JK.

Meski hanya memegang jabatan itu kurang dari setahun, JK akhirnya kembali masuk kabinet setelah Gus Dur lengser. Pada 2001, Presiden Megawati Soekarnoputri menunjuk pemilik Grup Kalla itu sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

J.B. SUMARLIN

Johannes Baptista Sumarlin awalnya adalah pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral di University of Pittsburg pada 1968, dia masuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menjabat Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter.

Pada 1973, Sumarlin ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Men-PAN). Jabatan itu diembannya selama dua periode atau hingga 1983.

Cerita menjadi anak buah Soeharto berawal dari telepon Sekretaris Negara Sudharmono pada 25 Maret 1973. Sumarlin dipanggil untuk menghadap Soeharto di Istana Negara pada keesokan harinya.

Sumarlin mengaku tidak punya firasat apa-apa dengan panggilan Sudharmono. Setibanya di Istana Negara, dia mendapati banyak orang menerima undangan serupa.

Soeharto kemudian menatap semua mata hadirin untuk meminta kesediaan mereka duduk sebagai menteri dalam Kabinet Pembangunan II. Sumarlin mengaku terkejut dengan permintaan itu.

“Doktor Johannes Baptista Sumarlin, saya minta Anda membantu saya di bidang penertiban administrasi pemerintahan dalam jabatan sebagai Men-PAN. Di samping itu, saya juga meminta agar Saudara menjabat sebagai Wakil Ketua Bappenas,” kata Soeharto kepada Sumarlin sebagaimana dicuplik dari buku J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah (2012).

Sumarlin menerima pinangan itu sambil menangis. Pipinya basah oleh air mata ketika Soeharto menanyakan kesediaannya.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Bapak Presiden. Dan saya akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya,” ucap pria kelahiran 7 Desember 1932 ini kepada Soeharto.

Kebersamaan Sumarlin dengan Soeharto berlanjut hingga 20 tahun. Pada 1983-1988, dia menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas dilanjutkan dengan posisi sebagai Menteri Keuangan pada 1988-1993.

AZWAR ANAS

Selepas mengakhiri jabatan sebagai Gubernur Sumatra Barat pada 1987, Azwar Anas mendapatkan pemberitahuan akan ditunjuk sebagai anggota Kabinet Pembangunan V. Info itu datang dari putra Soeharto, Bambang Trihatmojo.

Bagi Anas, seperti dinukil dari buku Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang (2011), berita itu merupakan kejutan. Awalnya, Anas mengira diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri atau Menteri Pekerjaan Umum.

Pria kelahiran 2 Agustus 1931 itu pun tekun mempelajari foto kopi rapat kerja tahunan terbaru Departemen Dalam Negeri dan Departemen PU. Faktanya kemudian, Anas ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan.

Kebersamaan dengan Soeharto berlanjut di Kabinet Pembangunan VI (1993-1998). Dia ditunjuk Soeharto sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jusuf kalla, Kabinet Jokowi-Ma'ruf

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top