Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dialog dan Komedi Membingkai Demokrasi

Upaya memperjuangkan demokrasi bisa dilakukan dengan banyak hal, mulai dari membuka ruang dialog hingga melakukan aksi yang lebih keras.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Oktober 2019  |  07:36 WIB
Acara Secangkir Kopi, Secercah Toleransi untuk Empati yang digelar Bengkel Diplomasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Rabu (16/10/2019). - Bisnis/Reni Lestari
Acara Secangkir Kopi, Secercah Toleransi untuk Empati yang digelar Bengkel Diplomasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Rabu (16/10/2019). - Bisnis/Reni Lestari

Bisnis.com, JAKARTA -- Suatu kali, Ozlem Sara Cekic, mantan anggota Parlemen Denmark, mengunjungi pria yang paling banyak mengiriminya surat elektronik berisi ujaran kebencian. Ingolf adalah nama pria itu.

Tak disangka, di depan pintu rumahnya, Ingolf menyambut Cekic dengan jabat tangan hangat, menyajikan secangkir kopi, lalu melanjutkannya dengan obrolan tentang banyak hal.

Sejak berkantor di gedung Parlemen Denmark pada 2007, Cekic telah menerima banyak surat elektronik berisi hinaan, bahkan ancaman karena latar belakang minoritas yang melekat padanya. Terlahir dari keluarga Muslim Kurdi di Turki, dia dikenal sebagai salah satu wanita anggota Parlemen Denmark pertama dari kelompok minoritas yang juga seorang imigran.

Pada 2010, dia memutuskan untuk mendatangi orang-orang yang mengiriminya surat-surat bernada sarkas. Cekic membuka ruang dialog untuk menemukan alasan di balik kebencian orang-orang itu terhadapnya.

Pertemuan pertama dengan seorang pembencinya, Ingolf, membuka mata Cekic akan pentingnya dialog dalam sebuah iklim demokrasi.

"Saya terkejut karena teryata kami punya banyak kesamaan," ujar Cekic di Bengkel Diplomasi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, belum lama ini.

Dia bercerita salah satu kesamaan tersebut yakni keduanya sering memberi penghakiman pada orang-orang yang berlaku kurang menyenangkan terhadap satu sama lain.

Contohnya, ketika berada di halte dan bus berhenti 10 meter dari tempatnya berdiri, Cekic langsung meyakini bahwa si supir rasis. Ingolf pun merasa terhubung dengan pengalaman tersebut.

Namun tak hanya Ingolf, menurutnya, hal itu bisa saja dilakukan semua orang, khususnya di antara kelompok masyarakat yang berbeda.

Setelah kunjungan itu, Cekic kemudian menjalankan gerakan bernama #dialoguecoffee, di mana dia mengunjungi lebih banyak orang seperti Ingolf. Dari banyak dialog tersebut, dia menemukan bahwa akar dari kebencian adalah sikap acuh, penghakiman sepihak, dan anggapan bahwa kelompok lain berada di posisi yang lebih rendah atau buruk. 

Dia melanjutkan dalam demokrasi, dialog memang menjadi sesuatu yang sulit dilakukan, khususnya dengan kehadiran media sosial yang turut membuka keran kebebasan berekspresi.

Seringkali, seperti yang dialami Cekic, kebebasan berekspresi tersebut mengandung residu berupa ujaran kebencian dan bahkan hoaks. Namun, meski sulit, dialog merupakan hal terpenting dalam menjaga kelangsungan demokrasi.   

"Jika Anda ingin mengatasi kebencian, Anda harus bicara dengan sebanyak mungkin orang dengan seterbuka mungkin," tuturnya.  

Perempuan komika Sakdiyah Ma'ruf juga berasal dari kelompok minoritas dan menemukan kesulitan yang sama dalam mengomunikasikan pandangannya. Dibesarkan di komunitas Muslim Arab Hadramaut yang konservatif di Pekalongan, Jawa Tengah, dia mengaku menjadi saksi praktik kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini dan anak-anak perempuan yang dipaksa putus sekolah.

Semua itu, lanjut Sakdiyah, dipraktikkan atas nama agama.

Setelah lulus sekolah menengah dan menjadi mahasiswa, dia berada di lingkungan yang memungkinkannya lebih bebas berekspresi. Namun, ternyata situasinya tidak jauh berbeda.

Diskriminasi terhadap perempuan tetap dirasakan Sakdiyah menggejala secara luas.

Di bangku kuliah itulah, dia mulai menemukan jati dirinya sebagai komedian dan menyadari bahwa melalui lawakan, dia bisa menjembatani banyak hal, termasuk konservatisme dan diskriminasi yang ditentangnya habis-habisan. Melalui aksi komedinya, Sakdiyah mendobrak stereotype yang terlanjur lekat pada orang keturunan Arab. 

"Saya percaya pada humor. Saya percaya bahwa komedi bisa menjadi jembatan perbedaan. Humor bicara dengan cara yang manusiawi," katanya.

Kepiawaiannya berkomedi kemudian diganjar sejumlah penghargaan, di antaranya Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent untuk kategori stand up commedy di Oslo, Norwegia. Pada November 2018, Sakdiyah masuk urutan ke-54 dari 100 daftar wanita inspiratif dunia versi BBC.

Dia percaya bahwa komedi bisa membantunya menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan penguatan peran perempuan, juga menurunkan ketegangan di antara komunitas religius dengan lebih efektif.

Sementara itu, aktivis dan mantan wartawan Tempo, Ananda Badudu, memilih jalan demonstrasi untuk bersuara dan menjaga kelangsungan demokrasi. Pada demontrasi mahasiswa 23-24 September 2019, dia menginisiasi penggalangan dana melalui platform kitabisa.com.

Aktivitas itu pula yang membawa Ananda sempat ditangkap aparat Polda Metro Jaya beberapa hari kemudian, meski dilepas pada hari yang sama.

Menurut Ananda, situasi negara akhir-akhir ini, menuntut banyak aksi sipil dalam banyak bentuk, salah satunya desakan kepada pemerintah dan wakil rakyat melalui demonstrasi.

"Ada begitu banyak gempuran terhadap demokrasi, hari-hari ini. Bahkan para elit menggunakan demokrasi untuk menghancurkan demokrasi dan itu harus kita lawan bersama," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

demokrasi
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top