Permintaan Global Meningkat, Penyuling Wiski Jepang Pacu Produksi

Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir karyawan penyuling minuman beralkohol, Nikka Whiskey, bekerja siang dan malam untuk memenuhi permintaan global terhadap produk wiski buatan Jepang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  11:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir karyawan penyuling minuman beralkohol, Nikka Whiskey, bekerja siang dan malam untuk memenuhi permintaan global terhadap produk wiski buatan Jepang.

Akan tetapi, buah upaya dari kerja keras mereka saat ini mungkin belum akan tersedia di pasar setidaknya dalam 10 tahun ke depan, mengingat butuh waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan produk distilasi terbaik.

Penyuling asal Jepang telah menjadi penerima manfaat dan korban dari ledakanpermintaan wiski di seluruh dunia, dengan pasar diproyeksikan akan tumbuh 19 persen menjadi US$147,6 miliar dalam lima tahun hingga 2023, menurut data Euromonitor International.

Jepang terus mendapatkan reputasi untuk wiski berkualitas, tetapi karena masa fistilasi yang lama, ledakan saat ini telah membuat penyuling tidak sadar dan tidak mampu memenuhi permintaan. Tahun lalu, Suntory Holdings Ltd. kehabisan produk Hakushu 12 dan Hibiki 17 buatan mereka.

Saat ini, Nikka yang dimiliki oleh produsen bir terbesar Jepang Asahi Group Holdings Ltd., bergegas untuk memacu produksi. Penyuling ini telah menghentikan penjualan beberapa merek papan atasnya, termasuk Taketsuru, Yoichi, dan Miyagikyo.

Nikka meningkatkan output sebesar 20 persen, menginvestasikan 65 miliar yen (US$606 juta) selama dua tahun ke depan untuk membangun infrastruktur baru, serta menggandakan jam operasional. Nikka adalah penyuling wiski terbesar kedua di Jepang setelah Suntory.

"Pengiriman kami masih kurang. Pasar akan tumbuh karena reputasi wiski Jepang menyebar di dalam dan luar negeri," kata juru bicara Asahi, Masato Ishihara, seperti dikutip Bloomberg.

Total permintaan wiski Jepang diproyeksikan naik 7 persen per tahun hingga 2022, menurut Bloomberg Intelligence.

Permintaan domestik untuk wiski Jepang memuncak pada tahun 1983, menurut Badan Pajak Nasional. Namun melambat setelahnya karena selera pelanggan berubah, yang menyebabkan sejumlah penyuling mengurangi produksi.

Namun dalam dekade terakhir, minuman keras ini terus mendapatkan popularitas dan mendapatkan pbanyak penggemar setelah minuman Highball (campuran wiski dan soda) menyebar luas di penjuru Jepang.

"Popularitas Whisky akan terus berlanjut," kata Hiroshi Ito, direktur eksekutif Asosiasi Produsen Minuman Alkohol Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minuman alkohol

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top