Kemenperin Optimistis Masa Depan Industri Petrokimia Cerah

Fridy mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama di sektor petrokimia, sehingga semua pihak optimistis agar industri petrokimia terintegrasi seperti yang sudah dimiliki negara lain bisa terwujud.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  23:43 WIB
Kemenperin Optimistis Masa Depan Industri Petrokimia Cerah
TPPI Tuban

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Fridy Juwono meyakini bahwa industri petrokimia Tanah Air masih cerah dalam jangka panjang, sekalipun saat ini di pasar internasional tengah terjadi koreksi harga yang disebabkan melimpahnya pasokan yang berasal dari China dan AS, khususnya produk ethylene.

Fridy mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama di sektor petrokimia, sehingga semua pihak optimistis agar industri petrokimia terintegrasi seperti yang sudah dimiliki negara lain bisa terwujud.

Apalagi, Indonesia masih memiliki cadangan total minyak bumi 3,3 miliar barel, cadangan total gas bumi 135,55 trillion standard cubic feet (TSCF), dan cadangan total batu bara 39,89 miliar ton.  

“Sumber daya alam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk industri petrokimia dan sebagian besar sumber daya ini masih diekspor dan belum dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri,” katanya, dalam keterangan tertulis, Kamis (3/10).

Menurutnya, dengan jumlah penduduk sekitar 265 juta jiwa dan dukungan sumber daya alam sebagai bahan baku industri petrokimia, baik yang tidak terbarukan maupun terbarukan, Indonesia memiliki peluang untuk pengembangan industri petrokimia. Karena itu, ia berharap semua pihak untuk optimis melihat potensi besar di sektor petrokimia.

Kemenperin sebagai leading sector, mengajak semua pihak, bersama-sama mendorong industri petrokimia nasional. Apalagi, saat ini lebih dari 50% kebutuhan petrokimia nasional masih dipenuhi dari impor. 

Menurutnya, salah satu pelaku industri yang sangat diharapkan adalah TubanPetro Group, yang diharapkan segera mengoptimalkan falitasnya untuk mengutamakan produksi bahan baku industri yang lebih tinggi nilai tambahnya daripada memproduksi untuk BBM. 

“Pengoperasian TubanPetro Grup di sektor industri petrokimia diharapkan dapat meningkatkan pasokan petrokimia bagi industri dalam negeri yang selama ini masih bergantung pada impor. Selain itu, hal tersebut di atas dapat membantu menekan defisit neraca perdagangan Indonesia akibat impor yang lebih besar daripada ekspor,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyonomengatakan saat ini merupakan waktu paling tepat bagi pemerintah untuk benar-benar mendorong industri petrokimia nasional, salah satunya melalui TubanPetro.

Menurutnya, permintaan dalam negeri juga masih sangat tinggi sehingga tidak perlu ragu. “Peluang masih terbuka besar, tinggal bagaimana pemerintah jeli melihat, memanfaatkan momentum,” katanya.

Kalangan industri berharap, pemerintah satu suara dan percaya dengan informasi yang disampaikan pengusaha. Kalaupun terjadi penurunan, baik sisi harga, permintaan, hanya sesaat dan akan kembali ke titik semula.

Untuk saat ini harga benzene toluene dan xylene (BTX) cenderung turun, namun itu merupakan tren siklus per tiga tahun. Para business development di industri dalam negeri juga sudah tahu dan jeli mengelola tren siklus, sehingga tidak menggerus usaha. 

“Industri sudah sangat paham, ketika tren turun pun, marjin tetap bisa dijaga. Pemerintah harus percaya ke TubanPetro,” tegas Fajar. 

Menurutnya, Indonesia punya momentum menjadikan industri petrokimia kembali jaya. Tinggal beri kepastian dari sisi regulasi, kepastian investasi. Jangan lupa, seringkali Indonesia sengaja dibuat untuk tidak bisa bersaing oleh para pesaing-pesaing sesama industri di Asean. 

“Karena pasar besarnya ya memang indonesia, pasar pesaing di sini. Kita dibikin tidak kompak, kalau kita kompak, mereka bisa kalah. Kalau Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), sebagai anak usaha TubanPetro semakin kuat, industri tekstil, industri kemasan, dan lain-lain, bisa lebih kuat.  Jadi, akar masalahnya dilihat, agar bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya.

Dalam sebuah diskusi petrokimia yang digelar Forum Wartawan Industri di Jakarta, beberapa waktu lalu, para panelis yang hadir sepakat bahwa, sangat tidak tepat jika dikatakan pasar dan industri petrokimia mengalami kelesuan. Alasannya, petrokimia adalah bisnis yang tidak bisa dipisahkan dengan siklus. Kadang siklusnya di bawah, terkadang di atas.

Karena itu, kondisi industri tidak bisa disimpulkan hanya dalam waktu tertentu. Karena bisa jadi pada saat itu siklusnya sedang di bawah, di mana justru waktu yang tepat untuk melakukan investasi, yang pada masanya ketika siklus sedang berada di atas, perusahaan memperoleh keuntungan. 

Karena bersifat siklikal, maka kata kunci untuk mengelola perusahaan petrokimia adalah optimisasi, strategi, dan sumber daya manusia terbaik yang dimiliki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tuban petro

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top