Gempa Ambon : Sebanyak 440 Gempa Susulan Terjadi

BMKG menyatakan hingga pjkul 07.00 WIB pagi ini, terjadi sebanyak 440 gempa susulan di wilayah Ambon Maluku, sejak gempa besar berkekuatan magnitudo 6,8 beberapa waktu lalu.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 September 2019  |  07:26 WIB
Gempa Ambon : Sebanyak 440 Gempa Susulan Terjadi
Sejumlah pasien menjalani perawatan di dalam tenda darurat di teras RSUD Haulussy, Ambon, Maluku, Kamis (26/9/2019), terdampak gempa M6,5. - Antara/Izaac Mulyawan.

Bisnis.com, JAKARTA - BMKG menyatakan hingga pjkul 07.00 WIT pagi ini, terjadi sebanyak 440 gempa susulan di wilayah Ambon Maluku, sejak gempa besar berkekuatan magnitudo 6,8 beberapa waktu lalu.

Dari sebanyak 440 kali dan 61 diantaranya dirasakan oleh masyarakat hingga pukul 07.00 WIT pagi ini.

Mengapa masih terjadi gempa hingga sekarang? Menurut analisa BMKG, gempa ini merupakan gempa tipe 1 yaitu gempa yang didahului foreshock atau gempa pendahuluan lalu terjadi gempa utama kemudian akan diikuti dengan aftershock atau gempa susulan hingga energinya habis.

"Gempa susulan bisa terjadi dalam beberapa hari, seminggu, hingga berbulan-bulan," demikian menurut BMKG.

Sementara itu  BNPB mencatat korban meninggal tertinggi diidentifikasi di Kabupaten Maluku Tengah, sebanyak 14 orang. BPBD Provinsi Maluku mencatat pada Kamis (26/9), pukul 21.53 WIT, total korban meninggal sebanyak 23 orang.

Selain ditemukan di Kabupaten Maluku Tengah, korban meninggal juga terjadi di Kota Ambon, sebanyak 6 orang, dan Kabupaten Seram Bagian Barat 3 orang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat juga melaporkan bahwa lebih dari 100 orang menderita luka-luka. Korban luka disebabkan reruntuhan bangunan pascagempa. Korban luka-luka terjadi di Kabupaten Maluku Tengah. Lebih dari 100 orang mengalami luka di Desa Liang. Di Kota Ambon, 5 orang luka dan telah mendapatkan perawatan medis. Sedangkan Kabupaten Seram Bagian Barat, 1 orang luka di Desa Waisama. Sekitar 15.000 warga masih mengungsi pascagempa dan dikarenakan karena rumah mereka yang rusak dan mengantisipasi gempa susulan yang membahayakan bangunan tempat tinggal.

Sementara itu, menurut  Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo, kerusakan infrastruktur tidak hanya terjadi pada sektor perumahan tetapi juga fasilitas pendidikan, tempat peribadatan, perkantoran, dan fasilitas umum. Kerusakan rumah di wilayah terdampak mencapai 171 unit, dengan rincian 59 rusak berat, 45 rusak sedang dan 67 rusak ringan. Fasilitas pendidikan rusak sebanyak 5 unit antara lain beberapa bangunan di Universitas Pattimura dan Kampus IAIN.

Berdasarkan situasi lapangan, beberapa kebutuhan berupa makan dan non-makanan mendesak diperlukan selama penanganan darurat. Berikut ini daftar non-makanan mendesak yang dibutuhkan pascagempa Maluku, yaitu terpal sebanyak 30.000 lembar, tenda keluarga 20 buah, popok balita, pembalut perempuan, selimut 20.000 lembar, matras 5.000 lembar, tikar 10.000 lembar, alat penerang 20.000 buah dan tandom air beserta MCK. Tenda sangat dibutuhkan mengingat wilayah Maluku mengalami hujan.

Sedangkan kebutuhan makan, para penyintas membutuhkan makanan bayi sebanyak 120 paket, makanan dan minuman 20.000 paket, obat-obatan, air mineral, dan makanan siap saji. Di samping itu, pendekatan _trauma healing_ diperlukan bagi anak-anak dan remaja.

Pemerintah daerah setempat dibantu banyak pihak masih terus melakukan upaya-upaya penanganan darurat di lapangan. Tim kaji cepat melakukan pendataan untuk melihat secara lebih rinci kondisi di lapngan. Tim BNPB telah berada di lokasi untuk mendukung penanganan darurat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top