Awkarin dan K-Popers Ternyata Top Influencer Demo Mahasiswa Tolak RKUHP

Dinamika pergerakan mahasiswa tak hanya terjadi di kawasan Senayan, tetapi di media sosial. Generasi Z dan K-Popers ternyata turut bersuara lantang bersama mahasiswa, aktivis, dan oposisi menentang RKUHP.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 25 September 2019  |  13:37 WIB
Awkarin dan K-Popers Ternyata Top Influencer Demo Mahasiswa Tolak RKUHP
Salah satu postingan dari Karin Novilda lewat akun Instagram awkarin terkait dengan aksi demonstrasi menolak revisi UU KUHP. - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA -- Ribuan mahasiswa menolak revisi Kitab Umum Hukum Pidana (RKUHP) di depan gedung DPR RI pada Selasa (24/9/2019).

Aksi yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas berakhir ricuh setelah polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran.

Dinamika pergerakan mahasiswa tak hanya terjadi di kawasan Senayan, tetapi di media sosial. Generasi Z dan K-Popers ternyata turut bersuara lantang bersama mahasiswa, aktivis, dan oposisi menentang RKUHP.

Pengamat Media Sosial Drone Emprit Ismail Fahmi mengungkapkan ada beberapa tagar yang berisi kritikan kepada DPR dan pemerintah serta dukungan untuk Presiden Joko Widodo. Tujuh tagar (tanda pagar) yang dianalisis, yaitu #DiperkosaNegara, #TurunkanJokowi, #ReformasiDikorupsi, #PercayaLangkahJokowi, #SayaBersamaJokowi, #JokowiMendengarRakyat, dan #KitaDukungJokowi.

"Dari semua tagar itu, volume percakapan tagar yang mengkritik jauh lebih besar dari tagar dukungan. #ReformasiDikorupsi paling tinggi, diikuti #TurunkanJokowi dan #DiperkosaNegara," katanya seperti dikutip dalam akun Twitter @IsmailFahmi, Rabu (25/9/2019).

Sementara itu, tagar dukungan yang paling ramai #SayaBersamaJokowi. Peta social network analysis (SNA) dari semua tagar memperlihatkan bagaimana pengguna Twitter berkelompok berdasarkan isu yang diangkat.

Ada empat cluster yang ikut meramaikan, yaitu Pro Rezim dan Give Away, Gen-Z/K-Popers, Aktivis, dan Oposisi. Semua tagar yang mendukung berada di cluster Pro Rezim. Di sisi lain, yang melayangkan kritik membentuk 3 cluster.

Ketika difokuskan, Ismail menganalisis #DiperkosaNegara membentuk cluster dengan leader (pimpian) Karin Novilda (@awkarin) dan K-Popers @BEAUTIFULYOONGO.

Yang menarik, follower @beautifulyoongo tidak banyak, hanya 133. Jumlah tersebut jauh dibanding @awkarin yang memiliki 372.000 followers. Namun @beautifulyoongo mendapat response paling besar.

"Network mereka adalah Gen-Z dan fans K-Pop," imbuhnya.

Dalam contoh narasi #DiperkosaNegara tampak kedua influencer tersebut memosisikan diri sebagai supporter serta pendukung para mahasiswa yang terjun ke lapangan. Bahkan @awkarin sendiri turut terjun, bersama para Gen-Z yang ikut demonstrasi.

Pendukung K-Pop, mahasiswa, protes, RKUHP semua bersatu dalam #DiperkosaNegara.

Menurut Ismail, ini sebuah nuansa aksi mahasiswa yang sangat baru, jauh berbeda dengan aksi demo saat Reformasi 1998.

"[Mahasiswa dulu dan sekarang] sama-sama peduli. Mereka beraksi tanpa meninggalkan minat mereka pada K-Pop. @awkarin cerdas dengan menulis jangan sampai kita #DiperkosaNegara di negeri sendiri," jelasnya.

Lebih lanjut, tagar #TurunkanJokowi digaungkan oleh kaum oposisi pemerintah. Di sisi lain, tagar #ReformasiDikorupsi disuarakan oleh para aktivis dan artis seperti Stand Up Comedian Ernest Prakasa (@ernestprakasa), Arie Kriting (@Arie_Kriting), dan Dandhy Laksono (@Dandhy_Laksono).

Sementara itu, empat tagar lainnya yang mendukung, semua bersatu dalam cluster Pro Rezim atau pro pemerintah. Top influencer mereka seperti @permadiaktivis, @Dwiyana_DKM, @BiLLRaY2019, @BamsBulaksumur.

Hal yang menarik, kata Ismail, ada sub cluster Give Away atau akun yang membagi-bagikan hadiah. setidaknya ada tiga akun manager Give Away yang bekerjasama.

Dari most retweeted untuk #PercayaLangkahJokowi, memang sebagian besar adalah promosi give away. Satu sesi GA nilainya Rp50.000 untuk 2 orang.

"Dengan metode ini, tagar sudah bisa trending di Twitter untuk beberapa saat. Meski kalau diplot di SNA, hasilnya menyendiri," ucapnya.

Ismail mengungkapkan tagar-tagar yang berisi kritikan sifat serangannya beragam, misalnya ke negara, reformasi, dan sosok Jokowi sebagai presiden. Sedangkan tagar dukungan semuanya di alamatkan untuk Jokowi, yang menjadi sentral dari gerakan cluster ini.

Di sisi lain, Gen-Z dan K-Popers justru memilih isu besar, terkait negara. Salah satunya pro-kontra RKUHP. Saat akses data medsos diblokir di seluruh Indonesia, bangsa ini belajar menggunakan VPN.

"Sekarang dari aksi demo yang dimotori mahasiswa ini, Gen-Z dan K-Poppers belajar sebagian masalah bangsa, misalnya hukum, keadilan, dan korupsi. Strategi menghadapi mereka harusnya tidak konvensional. Bukan melalui kekerasan, tetapi kreativitas," kata Ismail.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ruu kuhp

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top