Permintaan Teknologi Global Terseret Pelemahan Ekspor Korea

Data dari Layanan Pabean Korea menunjukkan penurunan ekspor selama 20 hari pertama pada September sebesar 22% secara tahunan. Pada saat yang sama, penjualan ke China, mitra dagang terbesar Korea, turun 30%.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 September 2019  |  10:24 WIB
Permintaan Teknologi Global Terseret Pelemahan Ekspor Korea
ilustrasi - Qualcomm Technologies

Bisnis.com, JAKARTA -- Penjualan chip produksi Korea Selatan memberikan sinyal penurunan ekspor untuk bulan kesepuluh dan meredam proyeksi rebound jangka pendek pada permintaan produk teknologi global.

Data dari Layanan Pabean Korea menunjukkan penurunan ekspor selama 20 hari pertama pada September sebesar 22% secara tahunan. Pada saat yang sama, penjualan ke China, mitra dagang terbesar Korea, turun 30%.

Sementara itu, penjualan produk teknologi menunjukkan kinerja yang beragam, di mana untuk semikonduktor penjulannya turun 40%, sedangkan alat komunikasi mobile, yang memiliki porsi lebih kecil dari total ekspor, melonjak sebesar 58%.

Menurunnya penjualan semikonduktor disebabkan oleh kesenjangan antara kondisi di pasar terhadap pandangan optimistis yang baru-baru ini muncul terkait pasar teknologi.

Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda pekan lalu mengatakan bahwa siklus teknologi telah mencapai titik terendah, sedangkan pada saat yang sama pembuat chip memori dan smartphone terbesar di dunia, Samsung Electronics Co., mengalami kenaikan harga saham mencapai level tertinggi dalam 15 bulan pada pekan lalu.

"Pertanyaan utamanya, apakah penjualan chip meningkat atau tidak. Jika perusahaan besar di China dan AS meningkatkan pengeluaran untuk server, Korea Selatan dapat mengambil manfaat dari pasokan chip. Tetapi kita perlu terus memantau apakah peluang itu akan terwujud," ujar ekonom SK Securities An Youngjin, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (23/9/2019).

Permintaan global yang merosot telah merusak iklim investasi dan perekrutan pekerja pada perusahaan Korea Selatan, menempatkan ekonominya pada laju ekspansi paling lambat sejak krisis keuangan global.

Ketika perang perdagangan AS-China tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir, perseteruan Korea Selatan dengan Jepang terkait pembatasan ekspor telah menjadi lebih parah, melemahkan kepercayaan terhadap rantai pasokan utama Asia.

Sebagian besar ekonom memperkirakan langkah pelonggaran dari Bank Sentral Korea pada Oktober atau November untuk membantu menopang pertumbuhan ekonomi.

Bank sentral Korea menurunkan suku bunga unutk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir pada bulan Juli menjadi 1,5%, hanya 25 basis poin di atas rekor terendah.

Secara keseluruhan impor turun 11% untuk 20 hari pertama pada September dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ekspor ke AS turun 21%, sedangkan impor naik 6,4%. Pengiriman ke Jepang turun 14%, sedangkan impor turun 17%.

Bersamaan dengan perayaan Chuseok di Korea, ada pengurangan 2 hari kerja tahun ini, jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Data bea cukai menunjukkan pengiriman ke luar negeri naik 15% dari 1-20 Agustus.

"Penurunan ekspor mungkin akan berlanjut untuk sisa tahun ini, membebani pertumbuhan Korea Selatan dan juga won," kata Lee Young Hwa, seorang ekonom di Kyobo Securities di Seoul.

Data perdagangan Korea Selatan merupakan indikator untuk permintaan global karena publikasi yang lebih awal serta integrasi mendalam perusahaan Korea ke dalam rantai pasokan global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korea selatan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top