Menkumham Yasonna Dikukuhkan Jadi Guru Besar Kriminologi

Fenomena political cyber bully telah mendorong atau menjerumuskan pesta demokrasi Indonesia ke dalam kubangan cyber bullying dan cyber victimization.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 11 September 2019  |  19:29 WIB
Menkumham Yasonna Dikukuhkan Jadi Guru Besar Kriminologi
Menkumham Yasonna Laoly (kedua kanan) - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, SEMARANG—Fenomena political cyber bully telah mendorong atau menjerumuskan pesta demokrasi Indonesia ke dalam kubangan cyber bullying dan cyber victimization.

Setiap kontestan politik mengerahkan segenap kekuatannya untuk menjadikan pihak lawan sebagai korban. Akibatnya adalah, pesta demokrasi yang seharusnya menjadi ajang pendidikan politik dan sarana rekruitmen putra-putri terbaik bangsa, menjadi turun kualitasnya.

Hal itu disampaikan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H. Laoly, saat diangkat sebagai Guru Besar Ilmu Kriminologi di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Rabu (11/9/2019).

Yasona menyampaikan Pidato Orasi Ilmiah dengan judul ‘Dampak Cyber Bullying dalam Kampanye Pemilu terhadap Masa Depan Demokrasi di Era 5.0’.

Dengan menggejalanya cyber bullying dan cyber victimization, pesta demokrasi pun menjadi malapetaka sosial, karena menciptakan polarisasi yang keras di tengah masyarakat.

“Kita mengabaikan sisi positif dari internet, dan khususnya media sosial, untuk mengampanyekan segi-segi terbaik dari praktik berdemokrasi di era digital democracy, malahan justru menggunakannya untuk menggerogoti demokrasi itu sendiri,” ujar Yasonna, dikutip dari laman resmi Kemenkumham.

Menurutnya, saat ini masih terbatas teori-teori kriminologi dan hasil-hasil penelitian empirik tentang cyber crime, cyber bullying, dan cyber victimization. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para kriminolog, peneliti, dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan fenomena ini lebih terang secara ilmiah.

“Kita berharap hadirnya era society 5.0 dapat memanusiakan kembali manusia dihadapan teknologi digital. Sehingga kasus-kasus kekarasan dan kejahatan di dunia maya, berupa cyber bullying dan cyber victimization, dapat direduksi,” ujarnya.

Internet dibuat oleh manusia dan karena itu harus diarahkan menuju pemanfaatan yang lebih manusiawi. Salah satu tujuannya adalah agar masa depan demokrasi sebagai modal sosial dapat menjadi energi postitif dalam memajukan, memakmurkan, dan mensejahterakan bangsa dan negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenkumham

Sumber : kemenkumham

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top