Perusahaan China Perkuat Bisnis dengan Produk Lokal

Meningkatnya tensi perang tarif China dan AS membuat  perusahaan China memperkuat bisnis dengan produk lokal.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 September 2019  |  07:56 WIB
 Perusahaan China Perkuat Bisnis dengan Produk Lokal
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Meningkatnya tensi perang tarif China dan AS membuat  perusahaan China memperkuat bisnis dengan produk lokal.

Contohnya Matsutek yang merupakan pemasok merek dagang seperti Philips dan Honeywell selama lebih dari satu dekade. Strategi ini berhasil mendorong Matsutek menjadi produsen robot penyedot debu terbesar kedua dunia.

Namun, perusahaan yang berkantor pusat di Taipei ini menjadi salah satu dari banyak korban dalam meningkatnya perang dagang antara Washington dan Beijing.

Penjualan produk Masutek di Amerika Serikat anjlok seperlima tahun lalu setelah penetapan tarif 25% untuk barang-barang China, memaksa perusahan untuk menutup dua dari 11 jalur perakitannya, di mana semuanya terletak di daratan China.

Dilansir melalui Reuters, setelah dikecewakan oleh pasar AS pasca pertarungan hukum dengan saingannya iRobot Corp pada 2017, penetapan tarif impor adalah sebuah pengingat terakhir bagi Matsutek.

Perusahaan ini kemudian memutuskan untuk fokus mengembangkan produknya sendiri yakni penyedot debu yang diberi nama Jiaweishi.

Mereka mempromosikan produk ini melalui platform e-commerce seperti Tmall dan Pinduoduo.

Meskipun merek tersebut diciptakan pada 2015, baru kali ini Matsutek melanjutkan produksinya.

"Ini adalah momen kebangkitan kami. Kami sadar bahwa tidak bisa selamanya bergantung pada pasar luar negeri saja, kita harus mengembangkan produk sendir di China," ujar Terry Wu, yang merupakan General Manager bagi dua unit Matsutek di Shenzhen, seperti dikutip melalui Reuters, Jumat (6/9).

Perang dagang terbukti menjadi titik balik bagi banyak produsen peralatan asli China (OEM) yang memasok produk ke perusahaan Barat di balik reputasinya sebagai "Pabrik Dunia".

Untuk beberapa perusahaan lain seperti Matsutek, fenomena ini telah memicu perubahan pada strategi bisnis utama, sementara untuk yang lain yang telah mengembangkan merek yang ditujukan untuk konsumen China, mendorong mereka untuk meningkatkan upaya tersebut.

“Menjadi OEM seperti menjadi petani yang mengandalkan tahun hujan yang baik. Mengapa kita tidak membuat merek sendiri, menurunkan harga sedikit dan menawarkan produk yang memiliki kualitas yang sama dengan merek asing," kata Wu.

Dia juga mengatakan bahwa fokus baru perusahaan di pasar China sukses besar. Penjualan robot penyedot debu Jiaweishi melampaui 100.000 unit. Mereka berencana untuk membuka kembali dua jalur perakitan yang ditutup dan menambah tiga lagi pada awal tahun depan.

Di sisi lain, Anhui Deli, pembuat gelas anggur dan barang pecah belah lainnya dengan pendapatan tahunan 800 juta yuan, juga sangat terpukul oleh tarif perdagangan.

"AS adalah pasar pertumbuhan utama kami hingga tahun ini tetapi karena perang perdagangan, klien menjadi ragu untuk melakukan pemesanan, dan banyak pesanan dari AS telah dibatalkan," kata Cheng Yingling, direktur pemasaran perusahaan.

Tarif tambahan yang mulai berlaku bulan ini akan menaikkan retribusi pada barang pecah belah China menjadi 40%, pukulan besar bagi industri, tambahnya.

Penjualan e-commerce di dalam negeri, telah membantu mengimbangi sebagian dari rasa tekanan tarif dagang yang menggerus pendapatan perusahaan.

Baru-baru ini Anhui Deli bekerja sama dengan Pinduoduo, di mana penjualan wadah gelas baru telah mencapai lebih dari 50.000 sebulan atau sekitar tiga kali lebih banyak jika mereka menjualnya di toko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top