Apple Masih Sangat Bergantung dengan China

Data rantai pasokan Apple Inc. menunjukkan bahwa langkah perusahaan melakukan ekspansi produksi di Brasil dan India tidak berdampak pada ketergantungan terhadap China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  11:12 WIB
Apple Masih Sangat Bergantung dengan China
Seorang pembeli mencoba membandingkan ukuran iPhone XS Max dan iPhone XS di gerai Apple Singapura Jumat (21/9/2018). - Reuters/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA -- Data rantai pasokan Apple Inc. menunjukkan bahwa langkah perusahaan melakukan ekspansi produksi di Brasil dan India tidak berdampak pada ketergantungan terhadap China.

Hal ini tentu saja membebani prospek bisnis perusahaan di tengah eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap impor China.

Apple akan terdampak pungutan 15% yang dikenakan pemerintahan Trump pada produk impor utama China seperti smartwatch dan wireless headphone efektif pada 1 September, sedangkan tarif pada penjualan terbesar Apple, iPhone, efektif per 15 Desember.

Beberapa perusahaan Amerika terikat erat dengan ekonomi terbesar di Asia seperti Apple.

Pabrik Foxconn, perushaan milik Hon Hai Precision Industry Co Ltd, Pegatron Corp, Wistron Corp dan lainnya mempekerjakan ratusan ribu pekerja untuk merakit perangkat Apple.

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen kontrak Apple telah berkembang ke negara lain.

"India, misalnya, tidak memiliki lokasi produsen kontrak Apple pada 2015. Ekspansi dilakukan ke tiga fasilitas perakitan pada 2019, termasuk pabrik milik Foxconn, yang berencana membuat model dari perangkat iPhone X," seperti dikutip melalui Reuters, Kamis (29/8/2019).

Apple merambah operasional di India untuk menghindari bea masuk yang tinggi terhadap iPhone di salah satu pasar telepon seluler yang tumbuh cepat di planet ini, mirip dengan langkah Apple dan Foxconn untuk membuka fasilitas produksi di Brasil.

Meski demikian, volume produksi pabrik-pabrik di luar China lebih kecil. Di sisi lain, Apple memanfaatkan pabrik di Brasil dan India hanya untuk memenuhi permintaan domestik.

Pada perkembangan terbaru, jumlah pabrik di daratan China makin bertambah.

Menurut data Apple, Foxconn kini memiliki 19 lokasi produksi, sedangkan Pegatron menambah lokasinya dari 8 menjadi 12.

Lokasi baru ditambah karena produk Apple juga makin beragam, menyusul dirilisnya Apple watch, smart speaker dan wireless headphone ke dalam jajaran produknya.

Di luar keberadaan pabrik perakit, sisa pemasok Apple lainnya yang menjual chip, layar kaca, selubung alumunium, kabel, papan sirkuit dan lainnya, terkonsentrasi di China.

"44,9% di antara seluruh lokasi pemasok Apple berada di China pada 2015, proporsinya meningkat menjadi 47,6% pada 2019," menurut data Apple.

Pada Juli, Kepala Eksekutif Tim Cook mengatakan kepada investor pada laporan pendapatan kuartalan perusahaan bahwa dia tidak akan berinvestasi ke dalam spekulasi tentang bagaimana perusahaan akan mengalihkan produksi karena tarif AS.

"Sebagian besar produksi produk kami tersebar di mana-mana. Ada tingkat produksi yang signifikan di Amerika Serikat, dan banyak dari Jepang, Korea, China, hingga Uni Eropa juga," kata Cook bulan lalu.

CHINA PILIHAN UTAMA

Apple menghadapi rintangan dalam diversifikasi di luar China, di mana pengelompokan beberapa pemasok memungkinkannya membuat ratusan juta perangkat per tahun tetapi persediaan hanya dapat disimpan selama beberapa hari, yang sangat berdampak bagi arus kas yang diberikan oleh investor Apple.

Pembuat telepon lain mengirimkan unit dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dan lebih fleksibel.

Harian bisnis Nikkei melaporkan bahwa Alphabet Inc., perusahaan milik Google, mengalihkan produksi smartphone Pixel ke Vietnam dari China mulai tahun ini dengan tujuan membangun rantai pasokan murah di Asia Tenggara.

Namun, dengan skala perusahaan yang besar, Apple tidak bisa meniru langkah yang sama, di samping tidak ada negara lain seperti China yang memiliki tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Selain itu, operasional pabrik membutuhkan insinyur yang sangat terampil untuk merancang dan memecahkan masalah alat dan proses perakitan.

Vietnam, tempat Apple telah memproduksi aksesoris selama bertahun-tahun, memiliki populasi kurang dari sepersepuluh ukuran China.

Bahkan jika Apple dapat membuat perangkat di India atau Vietnam, volumenya akan kecil dibandingkan dengan kebutuhan keseluruhan Apple.

"Di luar China, tidak banyak tempat di dunia yang memiliki infrastruktur untuk memproduksi 600.000 telepon dalam sehari," kata CEO Fictiv Dave Evans, perusahaan rantai pasokan asal San Francisco.

Apple sejauh ini telah terhindar dari tarif pada produk-produk utama, bahkan memenangkan penangguhan hukuman tahun lalu pada banyak perangkat nirkabel.

Sementara itu, Cook telah membangun hubungan dekat dengan Trump pascamakan malam dan pertemuan pribadi di Gedung Putih beberapa waktu lalu.

Apple telah mengatakan kepada para pejabat perdagangan bahwa mereka umumnya percaya tarif akan menyebabkan harga jual yang lebih tinggi bagi konsumen AS.

Namun mereka belum mengatakan apakah perusahaan berencana untuk membebankan tarif kepada pelanggan dengan menaikkan harga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple inc

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top