Singapura Sentil Elon Musk, Mobil Tesla Dianggap Bukan Solusi Atasi Perubahan Iklim

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air, transportasi massal merupakan solusi yang lebih baik dibandingkan mobil listrik milik Tesla Inc. 
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  14:29 WIB
Singapura Sentil Elon Musk, Mobil Tesla Dianggap Bukan Solusi Atasi Perubahan Iklim
Mobil listrik Tesla Model 3 - www.tesla.com

Bisnis.com. BANDUNG--Pemerintah Singapura menyampaikan pesan tajam bagi produser mobil Tesla Elon Musk.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air, transportasi massal merupakan solusi yang lebih baik dibandingkan mobil listrik milik Tesla Inc. 

Masagos Zulkifli, Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air, mengatakan pihaknya lebih memprioritaskan penggunaan kereta dan bus lebih luas lagi. 

"Apa yang ingin diproduksi Elon Musk hanya gaya hidup. Kami tidak tertarik dengan gaya hidup," kata Zulkifli dalam wawancara dengan Bloomberg, Rabu (22/8/2019).

Seperti diketahui, Singapura memandang upaya mengatasi perubahan iklim sama pentingnya dengan pengembangan pertahanan militer. Namun, Elon Musk mengkritik pemerintah Singapura. Lewat cuitan di akun Twitter, Elon menilai  Singapura terlalu lambat dalam mengadopsi mobil listrik (electronic vehicles/EVs).

Zulkifli mengungkapkan bahwa pemerintah tidak menyukai teknologi tersebut. 

Zulkifli menambahkan pemerintah Singapura lebih tertarik pada solusi tepat yang dapat mengatasi masalah perubahan iklim. Terkait dengan komentar tersebut, Tesla tidak memberikan respons apa pun. 

Negeri Jiran tersebut tengah menghadapi ancaman besar dari dampak perubahan iklim. Perdana Menteri Lee Hsien Loong menuturkan dalam pidato nasional bahwa pemerintah akan menghabiskan sekitar US$72 miliar untuk melindungi negara ini dari kenaikan level air laut, kenaikan temperatur udara dan curah hujan yang intens. 

Jaringan kereta dan bus di negara ini mencapai 720 km persegi. Bahkan, jaringan kereta bawah tanahnya telah dilengapi dengan rute kereta otomatis. Sejumlah rute bus yang populer juga telah digantikan dengan rute bus tingkat (double-decker). 

Pemerintah menargetkan penguatan sarana transportasi massal hingga 2040. Saat itu, jarak tempuh perjalanan di dalam negara kota tersebut ditargetkan tidak lebih dari 45 menit. 

Meskipun Singapura fokus pada pengembangan transportasi umum, negara ini masih memiliki posisi unik dalam menjalankan transisi dari kendaraan konvensional ke kendaran listrik.

Hal ini karena negara mengontrol lisensi kepemilikan mobil, masyarakat hanya diberikan waktu kepemilikan hingga 10 tahun.

"Jika ada negara yang dapat mengkonversi kendaraan berbahan bakar minyak ke 100 persen listrik, itu pasti Singapura," tegas Zulkifli. Namun, dia mengakui upaya membangun stasiun pengisian mobil listrik dengan 85 persen populasi bermukim di wilayah padat dan menempati rumah subsidi pemerintah cukup sulit. 

Menurutnya, pemilihan lahan parkir saja sudah menjadi masalah. "Sekarang Anda ingin mengatakan siapa yang bisa dapat lokasi pengisian. Kami belum punya solusinya saat ini," ujar Zulkifli. 

Royal Dutch Shell Plc berencana membuka sembilan titik stasiun pengisian di Singapura pada Oktober mendatang. Perusahaan ini menuntaskan studi yang menunjukkan 52 persen warga Singapura sulit membeli mobil listrik karena mereka tidak memiliki lokasi untuk mengisi listriknya. 

Zulkifli memperkirakan mobil hidrogen lebih memungkinkan menjadi solusi transportasi jangka panjang dibandingkan mobil listrik karena teknologinya mampu mengurai karbon. 

Menurutnya, mobil hidrogen tidak memiliki jejak bahan metal yang ditambang, seperti mobil listrik yang harus dipasangi baterai. Baterai tersebut terbuat dari nikel, tembaga dan lithium. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
singapura, elon musk, tesla

Sumber : Bloomberg

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top