Lobi-Lobi Boris Johnson untuk Brexit

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk pertama kalinya muncul di publik dengan upaya membuka negosiasi kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa dan menyampaikan keinginannya untuk mengeksplorasi berbagai cara guna mencegah penutupan perbatasan di Irlandia.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  10:29 WIB
Lobi-Lobi Boris Johnson untuk Brexit
Boris Johnson - REUTERS/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk pertama kalinya muncul di publik dengan upaya membuka negosiasi kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa dan menyampaikan keinginannya untuk mengeksplorasi berbagai cara guna mencegah penutupan perbatasan di Irlandia.

Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, Johnson mengatakan dia ingin mengganti ketentuan backstop yang menjadi bagian dari kesepakatan Brexit sebelumnya dengan sebuah komitmen yang mengikat secara hukum.

Komitmen ini menawarkan larangan pembangunan infrastruktur serta penghapusan proses pengecekan di kawasan perbatasan Irlandia Utara dengan Republik Irlandia.

Johnson juga diketahui telah berbincang dengan Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar selama hampir 1 jam pada Senin (19/8/2019), dan setuju untuk bertemu dengannya di Dublin bulan depan.

Akan tetapi, dalam indikasi kebuntuan kemungkinan akan terus berlanjut, Varadkar menegaskan bahwa Uni Eropa tidak akan membuka kembali negosiasi kesepakatan Brexit atau menghapus ketentuan Irish backstop.

Menanggapi permintaan Johnson, Tusk mengatakan bahwa surat yang dikirimkannya tidak memberikan pilihan altrernatif yang realistis terhadap kebijakan Irish backstop yang dipertentangkan.

"Irish backstop adalah bentuk jaminan untuk menghindari hard border di kepulauan Irlandia, kecuali hingga suatu saat ditemukan opsi alternatif," ujar Tusk melalui akun Twitternya, seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (20/8/2019).

Dia juga menambahkan bahwa siapapun yang tidak setuju dengan kebijakan Irish backstop pada dasarnya menginginkan perbatasan Irlandia dengan Inggris kembali ditutup, memicu masalah yang lebih besar.

Johnson membuat penghapusan kebijakan Irish backstop dari kesepakatan Brexit, yang tidak disetujui oleh Parlemen Inggris, sebagai janjinya untuk menjadi perdana menteri bulan lalu.

Dia berulang kali mengatakan bahwa jika Uni Eropa tidak mematuhi permintaan tersebut, Inggris akan meninggalkan blok ekonomi zona euro pada 31 Oktober tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Meskipun jika dia berhasil, menghapus Irish backstop saja mungkin masih belum cukup untuk memenangkan hati para Brexiteers garis keras.

“Bahkan jika tanpa Irish backtop, ini masih merupakan kesepakatan terburuk dalam sejarah,” kata pemimpin Partai Brexit Nigel Farage di Twitter.

Dalam banyak hal, langkah Johnson menunjukkan ciri khas Theresa May dalam penyelesaian Brexit.

Mantan perdana menteri itu juga ingin menghindari hard border di Irlandia, meskipun dengan peraturan yang berbeda antara Inggris dan Uni Eropa, dan ingin menciptakan pengaturan alternatif untuk mewujudkan hal ini.

May, pada saat itu, juga bersedia menawarkan jaminan jika pengaturan itu tidak dapat disepakati.

PM Johnson akan melakukan kunjungan ke Berlin dan Paris pekan ini untuk membahas Brexit dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Para pemimpin UE menunjukkan keengganan untuk mengubah posisi mereka, tetapi Johnson cukup percaya diri bahwa mereka pada akhirnya akan melunak dan memberinya sebuah kesepakatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top