Pejabat Thailand Tolak Tuntutan Pembebasan Pemberontak

Wakil perdana menteri Thailand pada Senin (19/8/2019) menolak tuntutan dari kelompok pemberontak untuk membebaskan anggota yang ditahan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 Agustus 2019  |  12:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil perdana menteri Thailand pada Senin (19/8/2019) menolak tuntutan dari kelompok pemberontak untuk membebaskan anggota yang ditahan.

Anggota ini ditahan terkait dugaan hubungan dengan pemberontakan di wilayah selatan yang mayoritas berpenduduk Muslim. Permintaan ini dilakukan sebagai prasyarat untuk pembicaraan formal.

Dilansir dari Reuters, pejabat Barisan Revolusi Nasional (BRN) bertemu dengan delegasi Thailand di lokasi yang dirahasiakan pada hari Jumat (16/8) dan menuntut pembebasan tahanan.

Pemberontakan di wilayah berbahasa Melayu di negara yang mayoritas beragama Budha itu telah menewaskan sekitar 7.000 orang selama 15 tahun terakhir dan telah berkobar selama beberapa dekade.

"Bagaimana Anda bisa mengatakan itu? Semuanya harus mengikuti prosedur peradilan," ungkap Wakil Perdana Menteri Thailand Prawit Wongsuwan kepada wartawan, Senin (19/8/2019), seperti dikutip Reuters.

BRN juga menuntut agar pemerintah Thailand melakukan penyelidikan secara transparan terhadap dugaan pelanggaran oleh pasukan keamanan setelah tuduhan bahwa seorang pria dari wilayah Selatan, Abdullah Isamusa, mengalami koma setelah diinterogasi oleh militer.

Militer mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki dan sejauh ini tidak ada bukti penyiksaan.

BRN, yang merupakan kelompok pemberontak paling aktif di selatan Thailand, telah memilih untuk tetap keluar dari pembicaraan damai antara pemerintah Thailand dan kelompok-kelompok pemberontak lainnya, meskipun mengatakan mereka mengadakan dua pertemuan sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir.

Provinsi Yala, Pattani, dan Narathiwat adalah bagian dari kesultanan Muslim Melayu yang merdeka sebelum bergabung ke dalam wilayah Thailand pada tahun 1909.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
thailand

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top