Banten dan Pandeglang Terima Sensor Peringatan Dini Gempa dari BMKG

Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang menerima sensor peringatan dini gempabumi. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyerahkan secara simbolik sensor sistem peringatan dini gempa EEWS (Earthquake Early Warning System) tersebut pada Rabu (14/8/2019).
Saeno
Saeno - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  11:55 WIB
Banten dan Pandeglang Terima Sensor Peringatan Dini Gempa dari BMKG
Ilustrasi-Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang menerima sensor peringatan dini gempabumi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyerahkan secara simbolik sensor sistem peringatan dini gempa EEWS (Earthquake Early Warning System) tersebut pada Rabu (14/8/2019).

Penyerahan sensor EEWS kepada Pemprov Banten diterima oleh Sekretaris Daerah Provinsi Banten Al Muktabar di Lapangan Hotel Marbella Anyer, saat pelaksanan acara puncak Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019, disaksikan oleh Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

Adapun penyerahan sensor EEWS kepada Pemkab Pandeglang diterima oleh Bupati Pandeglang Irna Narulita, di sela-sela kegiatan simulasi evakuasi mandiri tsunami di Shelter Tsunami, Labuan, Pandeglang, Banten.

Dalam kesempatan itu, Dwikorita menyempatkan meninjau salah satu lokasi instalasi sensor EEWS yang terletak di Kompleks Pelabuhan Labuhan, Pandeglang, Banten.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami, Rahmat Triyono mengatakan dalam tahap awal ini sebanyak 10 sensor EEWS akan dipasang di wilayah Provinsi Banten. Pemasangan sensor ini dimaksudkan untuk mendeteksi secara dini gempa kuat yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa Barat, Banten, Selat Sunda, serta sesar aktif di daratan.

Rahmat menuturkan BMKG kini memasuki era baru melakukan lompatan kemajuan dengan pengoperasian peringatan dini gempa bumi di Indonesia (Indonesia Earthquake Early Warning System-InaEEWS).

”Sistem ini akan memberikan informasi "lebih dini", sekitar 15 sampai 30 detik sebelum dirasakan guncangan gempa kuat melanda suatu kawasan,” ujar Rahmat.

Sistem ini tidak saja bermanfaat bagi masyarakat untuk bertindak lebih cepat menyelamatkan diri dari gempa, tetapi, lanjut Rahmat, juga dapat "mengamankan objek vital" berbasis respon instrumen, misalnya sistem transportasi cepat dan industri penting dapat dinonaktifkan (shut down) beberapa detik lebih awal sebelum gempa menimbulkan kerusakan.

Rahmat mengingatkan sistem ini tidak bertujuan untuk meramal kapan terjadi gempa, tetapi lebih kepada memberi peringatan kepada masyarakat bahwa akan terjadi gempa signifikan dalam hitungan beberapa detik hingga beberapa puluh detik ke depan.

”BMKG berpandangan bahwa peringatan dini gempa meskipun dalam hitungan detik sebelum terjadi gempa akan sangat berarti untuk menyelamatkan nyawa manusia dan infrastruktur penting,” imbuh Rahmat.

Konsep dasar EEWS menggunakan end to end system, tutur Rahmat , yang mampu memberikan peringatan dini gempa kuat kepada masyarakat.

”EEWS mencakup 3 sistem, yaitu: Pertama adalah sistem monitoring yang mendeteksi gempabumi di hulu, kedua adalah sistem pemrosesan data secara otomatis yang mengolah data secara cepat dalam hitungan detik, dan ketiga adalah sistem diseminasi penyebarluasanan informasi/peringatan dini di hilir, ditujukan kepada masyarakat yang disertai saran untuk menyelamatkan diri,” lanjut Rahmat.

Rahmat menjelaskan, "ujicoba" pembangunan sistem ini akan di-launching Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Duta Besar China dan Pimpinan dari Institute of Care Life of China, pada 15 Agustus 2019.

Untuk tahap selanjutnya, kata Rahmat, akan dipasang 190 unit sensor yang akan dikonsentrasikan di wilayah potensi gempabumi terutama untuk memonitor zona-zona megathrust dan patahan aktif, yaitu di Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Banten.

Bilamana ujicoba ini berhasil maka akan dikembangkan secara masif di seluruh wilayah Indonesia.

”Adapun teknologi EEWS yang merupakan joint cooperation antara Pemerintah China dan Pemerintah Indonesia ini mengacu kepada sistem EEWS di Negara China,”ujar Rahmat.

Informasi yang diberikan sistem peringatan dini gempa ini mencakup : (1) estimasi intensitas gempa, (2) waktu tiba gelombang S, (3) estimasi magnitudo gempa, dan (4) lokasi episenter gempa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa

Sumber : BMKG

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top