Akibat Aksi Protes, Pengguna Aplikasi Telegram di Hong Kong Melonjak

Jumlah pengguna pertama Telegram di Hong Kong melonjak menyusul peningkatan penggunaan aplikasi perpesanan popular tersebut di kalangan pengunjuk rasa selama demonstrasi berbulan-bulan
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  17:07 WIB
Akibat Aksi Protes, Pengguna Aplikasi Telegram di Hong Kong Melonjak
Aplikasi Telegram - Reuters/Dado Ruvic

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah pengguna pertama Telegram di Hong Kong melonjak menyusul peningkatan penggunaan aplikasi perpesanan popular tersebut di kalangan pengunjuk rasa selama demonstrasi berbulan-bulan, ungkap data baru dari Sensor Tower.

Dilansir dari Bloomberg, data tersebut mencatat Telegram memperoleh sekitar 110.000 pengguna baru di Hong Kong pada Juli di Apple App Store dan Google Play.

Penginstalan aplikasi pertama kali melonjak lebih dari empat kali lipat, mendorong aplikasi ke peringkat ke tujuh yang paling banyak diunduh di Hong Kong pada bulan lalu, jauh meningkat dari posisi ke-88 setahun sebelumnya.

Secara total, Telegram telah diunduh 1,7 juta kali di Hong Kong dan 365 juta kali secara global.

Selain Telegram, pengunduhan aplikasi pertukaran informasi, LIHKG, juga melejit ke Hong Kong di tengah gelombang aksi, yang telah mengepung pusat keuangan internasional ini sejak kemarahan meletus menyusul penolakan atas RUU ekstradisi ke China.

Sensor Tower mengungkapkan pengguna baru aplikasi tersebut melonjak 10 kali lipat hingga 120.000 pada Juli 2019 dari hanya 12.000 unduhan aplikasi pada Juli 2018.

Lonjakan cepat dalam penggunaan ini menggarisbawahi pentingnya aplikasi seluler dalam membantu pengunjuk rasa berkoordinasi dan menyebarkan informasi tentang aksi unjuk rasa, long march, dan tindakan lainnya.

Tidak seperti protes di masa lalu, aksi di Hong Kong kali tidak memiliki pemimpin pusat dan sebagai gantinya bergantung pada pendapat yang bersumber dari massa yang sering diorganisir secara anonim pada layanan online.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, telegram

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top