Inflasi Inti AS per Juli Meningkat 2,2 Persen secara tahunan

Pengukur utama harga konsumen Amerika Serikat secara tidak terduga terakselerasi pada Juli dalam kenaikan yang menandakan inflasi mungkin menguat bersamaan dengan wacana The Fed mengenai urgensi penurunan suku bunga lebih lanjut.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  12:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengukur utama harga konsumen Amerika Serikat secara tidak terduga terakselerasi pada Juli dalam kenaikan yang menandakan inflasi mungkin menguat bersamaan dengan wacana The Fed mengenai urgensi penurunan suku bunga lebih lanjut.

Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen inti, tidak termasuk bahan pangan dan energi, naik 0,3% dari bulan sebelumnya dan 2,2% secara tahunan pada Juli.

"Kedua kenaikan tersebut melampaui estimasi median para ekonom, sedangkan CPI yang lebih luas naik 0,3% dalam 1 bulan dan 1,8% secara tahunan," seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (14/8/2019).

Inflasi yang melaju lebih cepat diperkirakan dapat mengubah haluan para pembuat kebijakan yang enggan menurunkan suku bunga setelah pemangkasan seperempat poin pada bulan lalu, diikuti dengan momentum tingkat pekerjaan dan belanja konsumen yang tetap solid.

Pada saat yang sama, intensitas perang dagang AS-China dan pelemahan laju pertumbuhan ekonomi global masih membebani keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga lagi, di mana para investor memperkirakan masih ada dua atau tiga kali lagi penurunan pada tahun ini.

Menyusul laporan tersebut, para trader menurunkan sedikit prediksi mereka terhadap potensi pelonggaran The Fed untuk tahun ini, pada saat yang sama imbal hasil tresuri bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi.

Sentimen dari keputusan penundaan tarif terhadap produk China hingga 15 Desember turut menguatkan saham yang mengalami lonjakan pada perdagangan Rabu (14/8/2019) pagi.

Pembuat kebijakan telah berjuang untuk mengangkat inflasi menuju target 2% yang didasarkan pada indeks Departemen Perdagangan terpisah, yang cenderung bergerak sedikit di bawah CPI Departemen Tenaga Kerja.

Presiden Donald Trump telah berulang kali mengutip inflasi yang rendah dalam serangannya terhadap The Fed dan menyerukan penurunan suku bunga yang lebih dalam, dia juga menyatakan dalam cuitannya bahwa tarif tidak memiliki dampak pada kenaikan harga.

"Sementara beberapa detail menunjukkan bahwa laju pertumbuhan melampaui tren, jelas tarif mulai mendorong harga barang lebih tinggi," kata Sarah House, seorang ekonom senior di Wells Fargo & Co, dalam sebuah catatan.

Kenaikan tahunan 2,2% dalam CPI inti setelah kenaikan sebesar 2,1% pada Juni, menandai pertumbuhan dengan laju tercepat sejak Januari.

Indeks naik 2,8% secara tahunan pada kuartal kedua yang merupakan pencapaian terbesar sejak awal 2018. Kenaikan sebesar 0,6% dalam kurun 2 bulan merupakan pertumbuhan terbesar dalam lebih dari 1 dekade.

"CPI inti yang kuat pada Juli menantang pandangan The Fed bahwa harapan pertumbuhan mencapai 2% akan memakan waktu lebih lama dari yang diproyeksikan sebelumnya," ujar ekonom Bloomberg, Yelena Shulyatyeva dan Eliza Winger.

Sementara itu, The Fed secara resmi menargetkan inflasi termasuk untuk semua item, para pembuat kebijakan lebih mengacu pada angka inti untuk mendapatkan perrkiraan tren mendasar yang lebih baik karena harga makanan dan energi cenderung berfluktuasi.

Ada banyak faktor utama dari data Departemen Tenaga Kerja yang menguat pada Juli.

Biaya hunian, yang merupakan sepertiga dari total CPI, naik 0,3% untuk bulan kedua, sedangkan perawatan medis naik 0,5%, pakaian naik 0,4% serta mobil dan truk bekas naik 0,9%.

Di sisi lain, harga untuk kendaraan baru turun 0,2% yang merupakan penurunan pertama sejak Februari.

Sementara itu, harga energi naik 1,3% dari bulan sebelumnya menyusul kenaikan harga bensin sebesar 2,5%.

Indeks harga bensin eceran nasional rata-rata naik pada periode yang sama meskipun sempat menurun sejak pertengahan Juli. Adapun, biaya makanan tetap tidak berubah untuk bulan kedua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top