Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Pilih Mengalah, Sejumlah Pebisnis asal AS Mengaku Kesal

Meskipun pasar memuji langkah pemisahan penerapan tarif baru yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump, beberapa bisnis menyatakan kekesalan mereka dengan perubahan yang mendadak sehingga sekali lagi keputusan bisnis harus dibuat dalam waktu singkat karena kebijakan perdagangan Trump tersebut.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  11:08 WIB
Perang dagang AS China - istimewa
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Meskipun pasar memuji langkah pemisahan penerapan tarif baru yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump, beberapa bisnis menyatakan kekesalan mereka dengan perubahan yang mendadak sehingga sekali lagi keputusan bisnis harus dibuat dalam waktu singkat karena kebijakan perdagangan Trump tersebut.

Sebelumnya, memutuskan untuk menunda pengenaan tarif baru terhadap beberapa produk konsumen termasuk mainan dan laptop hingga Desember.

Langkah tersebut disampaikan ketika para pejabat senior dari kedua belah pihak melakukan percakapan via telepon untuk pertama kalinya sejak Trump melayangkan ancaman tarif pada awal bulan ini.

"Ini sudah terlambat dan tidak akan cukup. Washington terus membuat kebijakan yang kacau dan mempersulit perencanaan bisnis," kata Kepala Administrasi Columbia Sportwear Co. Peter Bragdon, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (14/8/2019).

Dalam beberapa kasus, pemisahan tarif akan membuat situasi menjadi lebih rumit bagi pengecer dan pelaku bisnis lainnya. Beberapa kategori sepatu golf, misalnya, akan dikenakan tarif 10% pada 1 September, sedangkan yang lain tidak akan berlaku hingga 15 Desember.

IPhone Apple Inc. tidak akan menghadapi pajak impor baru hingga pertengahan Desember. Akan tetapi Airpods nirkabel populer yang juga merupakan produk laris Apple akan dikenakan pajak pada September.

"Ini artinya pengecer dapat melakukan pengiriman tanpa tarif 10% yang tentunya sangat melegakan. Ini jelas menyelamatkan bisnis di musim liburan," ujar analis ritel Bloomberg Intelligence, Poonam Goyal.

Dia menambahkan, dengan batas waktu 1 September, tidak ada waktu bagi pengecer untuk mempercepat pemesanan untuk musim liburan karena seringkali dibutuhkan lebih dari 4 pekan untuk inventaris datang dari China.

Sekitar US$250 miliar barang-barang China telah terkena bea 25%.

David French, juru bicara Federasi Ritel Nasional, mengatakan organisasi senang dengan penundaan tarif pada barang-barang konsumen tertentu tetapi menyatakan kehati-hatian.

Menurutnya, ketidakpastian yang berlanjut untuk bisnis dan konsumen AS dapat menjadi hambatan bagi ekonomi.

"Yang benar-benar dibutuhkan adalah strategi efektif untuk mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil melalui kerja sama dengan sekutu, alih-alih menggunakan tarif sepihak yang merugikan tenaga kerja AS dan merugikan konsumen," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top