Bupati Puncak Sebut KKB Selalu Mengganggu Warga Pegunungan Tengah, Papua

Kelompok kriminal bersenjata disebut selalu mengganggu masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah, Papua. Hal itu dikatakan Bupati Pancak terkait kasus penculilkan dan pembunuhan terhadap Briptu Hedar.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  09:40 WIB
Bupati Puncak Sebut KKB Selalu Mengganggu Warga Pegunungan Tengah, Papua
Brigpol Anumerta Hedar - Istimewa

Bisnis.com, TIMIKA - Kelompok kriminal bersenjata disebut selalu mengganggu masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah, Papua. Hal itu dikatakan Bupati Pancak terkait kasus penculilkan dan pembunuhan terhadap Brigpol Anumerta Hedar.

Bupati Puncak, Provinsi Papua, Willem Wandik mengutuk keras para pelaku pembunuhan terhadap Brigadir Polisi Anumerta Hedar, anggota Polda Papua di Kampung Usir, sekitar dua kilometer dari Ilaga pada Senin (12/8/2019).

"Atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Puncak kami turut berduka dan sangat menyesalkan peristiwa ini. KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) selalu mengganggu kami di wilayah Pegunungan Tengah mulai dari Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kabupaten Nduga. Saya kutuk orang-orang itu, saya tidak mau daerah saya selalu jatuh korban seperti sekarang ini," kata Willem Wandik di Timika, Selasa.

Willem ikut memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Brigadir Hedar di samping gedung Terminal Penumpang Bandara Mozes Kilangin Timika, Selasa siang.

Jenazah Brigadir Hedar selanjutnya diterbangkan dengan pesawat Sriwijaya Air menuju Makassar, Sulawesi Selatan untuk dikebumikan di kampung halamannya.

Willem Wandik mengatakan, pembunuhan terhadap Brigadir Hedar jelas-jelas dilakukan oleh KKB.

"Ini KKB yang melakukan, jelas-jelas itu. Kami sangat menyesal dengan saudara-saudara yang membawa senjata api lalu membunuh sembarangan orang. Tuhan tidak pernah menghendaki hal-hal seperti itu. Tuhan akan balas orang-orang ini. Siapa yang mengambil darah orang, maka dia harus pertanggungjawabkan itu kepada Tuhan dan kepada alam," katanya.

Orang nomor satu di Kabupaten Puncak itu menegaskan, peristiwa tragis yang menimpa Brigadir Hedar tidak akan membuat pemerintah dan masyarakat Puncak takut untuk merayakan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang.

"Semua tetap aman dan terkendali, perayaan 17 Agustus tetap kami laksanakan. Kami biasa-biasa saja di sini," ujarnya, seperti ditulis Antara, Rabu (14/8/2019).

Willem mengakui situasi kamtibmas di daerahnya terkadang sulit ditebak, adakalanya situasinya landai atau aman-aman saja, namun sesekali terjadi peristiwa penembakan oleh KKB.

Pemkab Puncak, katanya, sering membangun komunikasi dan pendekatan persuasif kepada KKB di wilayah itu agar tidak melakukan teror penembakan baik terhadap aparat maupun warga sipil.

"Mudah-mudahan suatu saat mereka menyesal dan kembali ke pangkuan NKRI," harap Willem Wandik.

Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring mengakui dinamika keamanan di wilayah pegunungan Papua sama sekali tidak bisa diprediksi.

"Di sini (Papua) kejadian itu situasional sifatnya, dinamikanya memang seperti itu. Ibarat di sebuah stasiun, kadang ada perampokan, ada pencurian. Sama seperti di Papua," jelas Pangdam.

Pihak TNI terus bersama-sama dengan Kepolisian setempat memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat agar bisa melakukan aktivitas secara normal.

"Yang jelas tidak ada penambahan anggota, semua sudah ada standar operasinya. Jumlah TNI dan Polri di Papua itu sudah terukur disesuaikan dengan semua tupoksi yang ada," kata Mayjen Sembiring.

Sedang Melakukan Penyamaran

Sementara itu diperoleh informasi bahwa anggota Ditreskrimum Polda Papua Briptu Hedar saat disandera kelompok bersenjata di Kabupaten Puncak, Papua, sedang melakukan penyelidikan dalam penyamaran. Itu sebabnya Hedar tidak membawa senjata api.

"Dia melakukan penyelidikan tanpa identitas, kan dia menyamar. Itu semuanya, identitas senjata, ditinggalkan dulu, dia masuk sangat dalam di wilayah sangat rawan," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin.

Briptu Hedar melakukan penyelidikan setelah mendapat informasi masyarakat sudah sangat resah dengan keberadaan kelompok bersenjata yang sering melakukan intimidasi terhadap masyarakat setempat.

Dedi menuturkan saat hendak bertukar informasi dengan Bripka Alfonso Wakum, Briptu Hedar langsung disergap oleh kelompok bersenjata. Diduga kelompok itu sudah memantau terlebih dulu.

Setelah penembakan terhadap Briptu Hedar terjadi, Dedi menuturkan, tidak terjadi baku tembak antara kelompok bersenjata dan tim gabungan TNI-Polri yang melakukan pengejaran.

"Wilayahnya cukup luas dan kondisi geografinya cukup ekstrim di sana," ujar Dedi.

Sementara itu Kepala Kepolisian Sektor Ilaga, Kabupaten Puncak, Iptu Menase Sayori menyebutkan, kelompok bersenjata Yambi Mayu Telenggen yang bermarkas di Sinak merupakan pelaku pembunuhan terhadap Briptu Hedar.

Iptu Sayori mengatakan, kelompok Yambi Mayu Telenggen baru satu minggu tiba di Ilaga dan sekadar transit di ibu kota Kabupaten Puncak itu dalam perjalanan ke suatu tempat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polisi, papua

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top