Pemerintah Akan Salurkan 500.000 KIP Kuliah dan 2 Juta Kartu Prakerja

Pemerintah menargetkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bisa disalurkan kepada 500 ribu pelajar pada 2019.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  15:03 WIB
Pemerintah Akan Salurkan 500.000 KIP Kuliah dan 2 Juta Kartu Prakerja
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) berbincang dengan Kepala Staf Presiden Moeldoko (kiri) disela-sela Sidang Kabinet Paripurna tentang ketersediaan anggaran dan pagu indikatif 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/4/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menargetkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bisa disalurkan kepada 500 ribu pelajar pada tahun 2020 mendatang.

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Menurutnya target itu telah dibahas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu.

Selain menargetkan pemberian KIP Kuliah kepada 500 ribu pelajar, pemerintah juga ingin memberikan Kartu Prakerja kepada 2 juta generasi muda yang belum bekerja dan berusia 19-24 tahun depan.

"Dalam hal pendidikan, target di 2020 ada 500 ribu penerima KIP Kuliah. Tahun depan juga ditargetkan 2 juta Kartu Prakerja untuk anak-anak muda usia 19-24 tahun yang perlu lapangan pekerjaan," kata Moeldoko di acara Forum Merdeka Barat (FMB 9), Jakarta, Rabu (14/8/2019).

KIP Kuliah dan Kartu Prakerja adalah dua janji Jokowi pada masa kampanye Pilpres 2019. Kedua program itu dijanjikan terealisasi jika Jokowi dan Ma'ruf Amin terpilih pada Pilpres 2019.

KIP Kuliah ditargetkan untuk pelajar lulusan SMA sederajat yang hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara Kartu Prakerja dirancang untuk generasi muda yang belum bekerja atau menganggur.

Menurut Moeldoko, kedua program ini adalah bukti seriusnya pemerintah memperhatikan aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk lima tahun ke depan. Dia menganggap pembangunan dan peningkatan kualitas SDM harus digenjot terlebih karena saat ini revolusi industri 4.0 sedang berlangsung.

Moeldoko menyebut ada lima aspek yang harus diperhatikan agar upaya pengembangan SDM berjalan maksimal. Kelima aspek itu adalah intelectual capital, emotional capital, social capital, spiritual capital, dan psychological capital.

"Kalau kita ingin menuju [realisasi visi] SDM unggul, maka [posisi Indonesia di dalam] indeks-indeks ini [indeks pembangunan manusia, indeks inovasi global] harus terus dipersempit. Sementara ini masih cukup jauh jarak kita bila dibandingkan dengan lima negara maju," katanya.

Sebagai catatan, pada daftar negara paling inovatif di Global Innovation Index 2018 Indonesia menempati urutan 85. Kemudian, posisi Indonesia pada Human Capital Index 2018 yang dikeluarkan Bank Dunia menempatkan Indonesia di posisi 87 dengan skor 0,53.

Skor itu memiliki arti, setiap anak yang lahir saat ini memiliki kesempatan mengembangkan hingga 53 persen dari total produktivitasnya di masa depan. Nilai pembangunan manusia Indonesia ini hanya unggul dari Kamboja, Myanmar, Laos, dan Timor Leste di lingkup Asean.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sri mulyani, moeldoko

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top