Demo Hong Kong Berdampak kepada Perenang Indonesia

Aksi unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong berdampak pada perenang nasional Indonesia yang sedang berada di sana. Siman Sudartawan dkk terpaksa tidak bisa segera pulang ke Tanah Air akibat aksi unjuk rasa.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  10:35 WIB
Demo Hong Kong Berdampak kepada Perenang Indonesia
Para pemrotes RUU anti-ekstradisi beristirahat selama demonstrasi massa setelah seorang wanita ditembak mati, di Bandara Internasional Hong Kong, China 12 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong berdampak pada perenang nasional Indonesia yang sedang berada di sana. Siman Sudartawan dkk terpaksa tidak bisa segera pulang ke Tanah Air akibat aksi unjuk rasa.

I Gede Siman Sudartawa dan kawan-kawan usai mengikuti kejuaraan saat aksi unjuk rasa berlangsung. Akibat kejadian itu Siman dkk harus tertahan di Hong Kong karena penerbangan pesawat menuju Tanah Air mengalami penundaan, Senin (12/8/2019).

Seperti dilansir akun media sosial resmi Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) yang dipantau dari Jakarta, Selasa, atlet dan ofisial yang tertahan sebanyak 47 orang. Mereka terdiri dari Tim PON DKI, PPLM, dan perenang Bali.

Diceritakan Pelatih Felix Sutanto, tim Indonesia yang di dalamnya juga ada nama atlet nasional Gagarin Nathaniel Yus itu seharusnya terbang pukul 19.00 waktu setempat namun batal terbang karena kondisi tersebut.

Tim kemudian mendapat bantuan dari KJRI Hongkong di antaranya disiapkan makan malam (karena semua restoran tutup di Bandara) serta dicarikan penginapan.

Selasa pukul 05.00 waktu setempat tim dijadwalkan kembali ke bandara untuk mengantre  antre tiket pukul 09.00 atau penerbangan berikutnya pukul 13.00 waktu setempat.

Selasa, Bandara Hong Kong Kembali Normal

Operasi di Bandara Hong Kong, Selasa (13/8/2019), kembai berjalan normal dan biro perjalanan kembali buka.

 "Kami telah melanjutkan check-in," kata juru bicara bandara seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (13/8).

 Penerbangan akan dilanjutkan dalam satu jam berikutnya di salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia itu.

 Papan informasi status penerbangan di ruang keberangkatan menunjukkan beberapa penerbangan yang terdaftar dengan status "segera naik".

Demikian juga dengan jam tinggal landas untuk penerbangan lainnya yang sudah tertera di papan informasi.

 Penumpang dengan bagasi ringan terlihat diperiksa sebelum terbang dan hanya segelintir dari ribuan pengunjuk rasa yang mendatangi bandara sehari sebelumnya terlihat berada di terminal.

Pihak berwenang mengumumkan pembatalan semua penerbangan yang tersisa dan akan diberangkatkan pagi ini. Sebelumnya sekitar 5.000 pemrotes pro-demokrasi berpakaian hitam mengadakan demonstrasi damai di gedung terminal.

Sepanjang malam, pengunjuk rasa secara bertahap meninggalkan bandara, tetapi tidak ada operasi polisi untuk membersihkan mereka dengan cara paksa.

Pagi ini poster dan spanduk yang dipasang para demonstran di seluruh terminal juga telah diturunkan petugas bandara.

Senin, Bandara Lumpu

Sebelumnya, pada Senin (12/8), Otoritas Bandara Hong Kong akhirnya memutuskan menutup operasional bandara seiring bertambahnya pendemo yang memadati terminal utama.

Menurut otoritas bandara, demonstrasi hari ini merupakan yang terbesar sejak kisruh dimulai pada awal Juni lalu.

Doris Lai, juru bicara Otoritas Bandara Hong Kong mengungkapkan dirinya tidak tahu persis berapa jumlah penerbangan yang akan terpengaruh.

Namun, pihak bandara berharap operasional dapat kembali berjalan normal secepatnya.

Ratusan ribu pendemo dengan kostum berwarna hitam melakukan demo di area kedatangan. Demo di bandara ini semula akan berakhir pada Minggu malam (11/08/2019).

Menurut otoritas bandara, kemacetan juga terjadi di beberapa jalanan menuju bandara dan parkir bandara penuh. Demo yang diwarnai aksi kekerasan tersebut telah menjatuhkan Hong Kong ke dalam jurang krisis yang serius. Kondisi ini juga menjadi tantangan besar bagi pemerintah China.

Pemerintah China mengatakan para pengunjuk rasa telah melakukan kejahatan serius dan menunjukkan tanda-tanda perilaku 'terorisme'.

"Hong Kong telah mencapai 'titik kritis' dan semua orang yang peduli tentang masa depannya harus mengatakan tidak terhadap kekerasan," tegas juru bicara Kantor Perwakilan Hong Kong dan Makau Yang Guang, Senin (12/8/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Sumber : Antara/Reuters/ChannelNewsAsia

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top