Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketidakpastian Dagang Gerus Ekspor Jerman Lebih Dalam

Ekspor Jerman mencatat penurunan tahunan paling tajam dalam 3 tahun terakhir, menyoroti kondisi buruk sektor manufaktur yang mengalami tekanan dari konflik perdagangan global.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  14:57 WIB
Manufaktur Jerman. - .Reuters
Manufaktur Jerman. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekspor Jerman mencatat penurunan tahunan paling tajam dalam 3 tahun terakhir, menyoroti kondisi buruk sektor manufaktur yang mengalami tekanan dari konflik perdagangan global.

Pengiriman ke luar negeri pada Juni turun 8% secara tahunan yang merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2016. Sementara itu data impor, ukuran kekuatan ekonomi domestik, turun 4,4% secara tahunan pada periode yang sama.

Dengan demikian, surplus neraca berjalan Jerman melebar menjadi 20,6 miliar euro atau senilai US$23 miliar.

"Data tersebut menambah bukti bahwa bisnis yang bergantung pada ekspor mengalami pelemahan yang sangat buruk dan mengancam pertumbuhan ekonomi terbesar Eropa. Jerman diperkirakan hanya akan tumbuh 0,5% tahun ini, di susul oleh Italia yang juga terlihat buruk," seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (9/8/2019).

Amerika Serikat dan China, dua mitra dagang utama Jerman, masih berada di tengah konflik perdagangan tak berujung, dengan Washington yang baru saja mengumumkan kenaikan tarif terbesarnya sehingga mendorong Beijing membiarkan nilai yuan jatuh ke level terendah.

Sementara itu, Jerman terjebak di tengah. Perusahaan-perusahaan besar termasuk Continental, Daimler, BASF dan Lufthansa telah memangkas proyeksi pertumbuhan mereka dalam beberapa pekan terakhir di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Produksi industri mencatat penurunan tahunan terbesar dalam hampir 1 dekade pada Juni, dan berkurangnya indikator kepercayaan memicu spekulasi bahwa ekonomi mungkin menuju resesi.

Data produk domestik bruto kuartal kedua akan dirilis pada 14 Agustus, di mana para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan stagnasi.

Sejauh ini, pemerintah Jerman tidak menunjukkan reaksi dengan alasan tambahan stimulus fiskal tidak diperlukan.

Sikap ini berarti surplus neraca berjalan negara itu, yang telah menuai kritik dari Presiden AS Donald Trump serta Dana Moneter Internasional, akan tetap signifikan.

Bulan lalu, Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan bahwa pemerintah harus berusaha keras jika kondisinya terus memburuk, ini adalah hal yang mutlak.

Para pembuat kebijakan di bank sentral zona euro telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat memberikan lebih banyak stimulus moneter paling cepat pada September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top