Setop Pemanasan Global, Sistem Pertanian dan Pola Makanan Perlu Diubah

Hal tersebut diungkapkan badan PBB untuk perubahan iklim, United Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dalam laporannya tentang dampak perubahan iklim terhadap daratan, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (8/8/2019).
Geofanni Nerissa Arviana
Geofanni Nerissa Arviana - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  05:50 WIB
Setop Pemanasan Global, Sistem Pertanian dan Pola Makanan Perlu Diubah
Kawasan terkering di Afrika, Sahel, berubah jadi hijau karena perubahan iklim. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sistem pengolahan, produksi, dan konsumsi makanan dunia harus diubah guna mengurangi pemanasan global. Jika tidak diubah, ketahanan pangan, kesehatan, dan masalah keanekaragaman hayati akan berisiko bagi dunia.

Hal tersebut diungkapkan badan PBB untuk perubahan iklim, United Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dalam laporannya tentang dampak perubahan iklim terhadap daratan, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (8/8/2019).

Dalam laporan itu disebutkan, pertumbuhan populasi global dan perubahan pola konsumsi telah menyebabkan tingkat penggunaan lahan dan air yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hal ini mendorong adanya perubahan besar pada kebiasaan bertani dan makan, termasuk secara eksplisit anjuran untuk berhenti mengonsumsi daging.

Perubahan pola makan seperti mengonsumsi makanan nabati dan makanan yang berasal dari hewan yang berkelanjutan dapat membebaskan jutaan kilometer persegi tanah pada 2050.

United Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebut perubahan tersebut berpotensi memotong 0,7-8,0 gigaton per tahun setara karbon dioksida.

“Tindakan menunda tersebut dapat menghasilkan beberapa dampak permanen pada beberapa ekosistem, yang dalam jangka panjang berpotensi menambah emisi substansial dari ekosistem yang akan mempercepat pemanasan global,” katanya.

Dalam laporan tersebut, dikatakan juga bahwa sejak periode pra-industri, suhu udara permukaan tanah naik 1,53 derajat celcius, dua kali lipat dari suhu rata-rata global (0,87 derajat celcius).

Pemanasan tersebut telah menyebabkan lebih banyak gelombang panas, kekeringan, hujan lebat, degradasi tanah, dan penggurunan.

“Ini masalah besar yang sempurna. Lahan terbatas, populasi manusia yang bertambah, dan semuanya terbungkus selimut darurat iklim yang mencekik,” kata Dave Reay, Profesor Manajemen Karbon di Universitas Edinburgh.

Tahun lalu, dalam laporan khusus pertama IPCC, muncul peringatan untuk menjaga agar suhu bumi tidak naik lebih dari 1,5 derajat celcius (2,7 derajat Fahrenheit). Padahal dalam Perjanjian Paris, target yang disepakati adalah 2 derajat celcius sehingga membutuhkan perubahan segera.

Laporan tebaru juga memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak gangguan pada rantai makanan global karena cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Minggu ini, IPCC akan mengadakan pertemuan guna menyelesaikan laporan tersebut di Jenewa, Swiss. Nantinya, laporan tersebut akan memandu pertemuan pemerintah akhir tahun ini di sebuah konferensi di Chile tentang upaya mengimplementasikan Perjanjian Paris 2015 dan menghindari perubahan iklim yang tak terkendali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pbb, pemanasan global

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top