Negosiasi Perang Dagang Tanpa Hasil, Ekonomi Global Makin Terpuruk

Ekonom Morgan Stanley memperkirakan jika AS menetapkan tarif 25% untuk semua impor China selama 4 hingga 6 bulan ke depan dan ekonomi terbesar Asia itu membalas, kontraksi ekonomi global kemungkinan akan terjadi dalam 3 kuartal berikutnya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  17:33 WIB
Negosiasi Perang Dagang Tanpa Hasil, Ekonomi Global Makin Terpuruk
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonom Morgan Stanley memperkirakan jika AS menetapkan tarif 25% untuk semua impor China selama 4 hingga 6 bulan ke depan dan ekonomi terbesar Asia itu membalas, kontraksi ekonomi global kemungkinan akan terjadi dalam 3 kuartal berikutnya.

Ketegangan juga meluas di luar AS dan China, termasuk Jepang dan Korea Selatan serta masa depan hubungan Inggris dengan Uni Eropa.

Sementara bank sentral lainnya kemungkinan akan menurunkan suku bunga atau melanjutkan pelonggaran kuantitatif, strategi ini mungkin tidak lagi cukup untuk membangkitkan pertumbuhan dan pemerintah mungkin tidak cukup cepat untuk melonggarkan kebijakan fiskal.

Ekonom Bank of America Corp. memperingatkan klien mereka pekan ini bahwa tanpa ada akhir yang jelas dari perang dagang, ada risiko penurunan signifikan terhadap perkiraan mereka untuk pertumbuhan AS dan global.

"Jika perang perdagangan meningkat, yang bisa mencakup perang mata uang yang lebih eksplisit, ketidakpastian akan jauh lebih tinggi dan kondisi keuangan jauh lebih ketat," tulis ekonom BoFA, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (8/8/2019).

Indeks manajer pembelian manufaktur global JPMorgan Chase & Co. sudah menunjukkan kontraksi.

Dengan Jerman yang terjebak dalam kesulitan, Bank Sentral Eropa siap untuk melepaskan stimulus baru paling cepat September, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga ECB ke level negatif, untuk melawan pelambatan yang semakin dalam.

ECB akan penurunan suku bunga lebih lanjut ke wilayah negatif, untuk melawan pelambatan yang semakin dalam.

Di AS, pertumbuhan manufaktur melambat selama 4 bulan berturut-turut dan ahli strategi ekuitas Citigroup Inc. telah memangkas perkiraan pendapatan untuk S&P 500.

Faktor penting lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah dampak terhadap konsumen.

Orang-orang di China dan AS terus belanja seperti biasa, yang mungkin didorong oleh pasar tenaga kerja yang ketat.

Akan tetapi para ekonom JPMorgan berpendapat bahwa laju perekrutan global pada paruh kedua tahun ini akan melambat ke titik terlemah sejak 2012-2013.

Kerumitan tambahan yang membebani ekonomi global adalah keputusan Departemen Keuangan AS pekan ini untuk menyebut China sebagai manipulator mata uang setelah Beijing membiarkan yuan melemah melewati 7 yuan per dolar untuk pertama kalinya sejak 2008.

“Kami telah beralih dari beberapa tingkat ketidakpastian ke lingkup dengan lebih banyak ketidakpastian,” kata Fraser Howie, yang memiliki pengalaman dua dekade di pasar keuangan China dan turut menulis buku 2010 “Red Capitalism.”

IMF sebelumnya telah beberapa kali memperingatkan indikasi pelemahan pada ekonomi global dengan merevisi prospek pertumbuhan sebanyak dua kali pada paruh pertama 2019.

Direktur Pelaksana IMF David Lipton mengatakan bahwa ekonomi global saat ini sedang rapuh dan masuk akal bagi bank sentral di dunia untuk bersikap akomodatif.

"Dunia berada dalam posisi yang lebih lemah untuk memerangi resesi karena ruang kebijakan moneter dan kebijakan fiskal telah digunakan. Akan lebih sulit untuk mengatasi resesi sehingga yang terbaik adalah tidak menyebabkannya," kata Lipton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top