No-deal Brexit Ancam Kelangkaan Pangan di Inggris

Federasi Makanan dan Minuman Inggris melaporkan bahwa no-deal Brexit dapat mengganggu alur pengiriman pasokan pangan dan menyebabkan keterlambatan selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan sehingga menyebabkan produk segar membusuk di tempat penyimpanan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  17:12 WIB
No-deal Brexit Ancam Kelangkaan Pangan di Inggris
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Federasi Makanan dan Minuman Inggris melaporkan bahwa no-deal Brexit dapat mengganggu alur pengiriman pasokan pangan dan menyebabkan keterlambatan selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan sehingga menyebabkan produk segar membusuk di tempat penyimpanan.

Pengecer seperti Tesco telah memperingatkan bahwa Brexit pada 31 Oktober tanpa kesepakatan perdagangan akan sangat bermasalah bagi industri karena sebagian besar gudang sudah mulai dipenuhi produk pangan impor menjelang Natal.

Sebelumnya, menjelang batas waktu Brexit asli 29 Maret, supermarket dan pengecer bekerja dengan pemasok untuk menambah stok bahan makanan kering termasuk pasta, air minum kemasan dan kertas tisu toilet.

Namun mereka telah memperingatkan bahwa buah dan sayuran segar, yang memiliki masa simpan yang terbatas serta hambatan pemeriksaan pabean di pelabuhan terbesar di Inggris, Dover, dapat menyebabkan keterlambatan kedatangan.

Industri ini juga telah menguji coba berbagai pelabuhan untuk menghindari rute utama Dover-Calais, sedangkan perusahaan farmasi memilih bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk menerbangkan pasokan jika diperlukan.

"Sektor makanan sepakat bahwa no-deal Brexit adalah solusi yang berbahaya bagi kami," kata COO Federasi Makanan dan Minuman Inggris Tim Rycroft kepada BBC Radio, seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (7/8/2019).

Rycroft menambahkan bahwa no-deal Brexit dapat memicu kelangkaan pada sejumlah bahan pangan dan sifatnya acak, tergantung truk pengantar mana yang akan sampai lebih dulu di daratan Inggris.

"Kami memperkirakan akan ada gangguan yang dapat berlangsung selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan setelah Brexit," tambahnya.

Lembaga tersebut telah mendesak pemerintah mengesampingkan beberapa aturan persaingan guna memungkinkan pengecer dan pemasok untuk bekerja sama dalam penyediaan cakupan yang paling efektif bagi negara dalam situasi seperti itu.

Rycroft mengatakan industri telah berulang kali meminta pemerintah untuk memberikan jaminan bahwa perusahaan tidak akan didenda oleh regulator karena terlibat dalam perilaku anti-persaingan.

Menurutnya, jika terjadi gangguan akibat no-deal Brexit dan pemerintah ingin rantai pasokan makanan bekerja bersama untuk mengatasi kemungkinan kelangkaan, mereka harus memberikan jaminan tertulis bahwa undang-undang persaingan akan diterapkan secara fleksibel terhadap keadaan.

Sebelumnya, para pendukung Brexit mengatakan bahwa no-deal Brexit akan memicu gangguan jangka pendek namun mereka yakin Inggris dapat lolos dari tantangan yang sama, yang menyebabkan Eropa menjadi tertinggal dari China dan Amerika Serikat saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top