Ancaman Bencana di Bumi Cincin Api, Mari Berkaca dari Upaya Mitigasi Jepang

Lindu bermagnitudo 6,9 seketika mengguncang Wilayah, Banten, Jumat (2/8/2019) malam. Masyarakat sekitar berhamburan mencari pertolongan. Tidak hanya wilayah itu, sebagian besar Pulau Jawa merasakan getaran serupa.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  18:53 WIB
Ancaman Bencana di Bumi Cincin Api, Mari Berkaca dari Upaya Mitigasi Jepang
Karyawan berada di luar gedung perkantoran sesaat setelah terjadi gempa di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (2/8/2019). BMKG menyebut gempa tersebut memiliki Magnitudo 7,4, kemudian dimutakhirkan menjadi 6,9, berpusat di wilayah barat daya Sumur, Banten. - Antara/Narasi.Tv/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Lindu bermagnitudo 6,9, semula disebut sebesar 7,4, seketika mengguncang Wilayah, Banten, Jumat (2/8/2019) malam. Masyarakat sekitar berhamburan mencari pertolongan. Tidak hanya Banten, sebagian besar Pulau Jawa merasakan getaran serupa. 

Gempa Banten bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Wilayah negara ini memang lekat dengan bencana. Betapa tidak, RI berada di lintasan cincin api atau ring of fire. Namun, pengetahuan ini tak dibarengi dengan pendidikan mitigasi memadai bagi masyarakat.

Sebagai kawasan rawan bencana, Indonesia termasuk negara paling buruk soal mitigasi kebencanaan. Hal itu dipertegas pengakuan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo . Doni menyebut dalam kurun waktu 20 tahun, Indonesia menjadi negara dengan korban jiwa paling banyak nomor 2 saat terjadi bencana.

"Dalam 20 tahun kita berada di posisi nomor dua jumlah korban terbanyak akibat bencana setelah Haiti. Akan tetapi tahun kemarin [2018], kita berada di urutan pertama [korban jiwa saat bencana]. Ini data. Mari kita lihat bahwa negara kita adalah negara dengan korban terbanyak pada tahun kemarin," kata Doni saat meresmikan Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB pekan lalu.

Indonesia "bersaing" dengan Haiti dalam jumlah korban jiwa akibat bencana. Negara di perairan Karibia itu sempat mengalami gempa 7 SR yang menyebabkan 200.000 lebih jiwa tewas. Sementara itu bencana di Indonesia, sebut Doni, sudah menewaskan setidaknya 160.000 orang..  

Tabel Rekapitulasi Bencana 1 Januari 2019 – 31 Juli 2019

Keterangan

Jumlah

Kejadian Bencana

2.277 Jiwa

Mengungsi

2.187.299 Jiwa

Meninggal

388 Jiwa

Hilang

27 Jiwa

Total Rumah Rusak

36.346 unit

Rusak Berat

7.251 unit

Rusak Sedang

6.269 unit

Rusak Ringan

22.826 unit

Sumber: BNPB

Di sisi lain pada periode 1 Januari - 31 Juli 2019, setidaknya terjadi 2.277 kali bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, 2.187.229 jiwa terpaksa mengungsi, 388 orang meninggal dunia, 27 orang hilang, dan 36.346 rumah rusak.

Pada Juli 2019, jumlah bencana di Tanah Air terjadi sebanyak 145 kali dan menyebabkan 16 orang kehilangan nyawa. Beberapa bencana tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan serta gempabumi. Adapun gempa Banten boleh jadi yang paling parah selama Agustus 2019.

Indonesia seakan tidak belajar dari berbagai gejala alam beberapa dekade tarkhir. Lindu 8,9 SR, saat itu belum digunakan satuan Magnitudo, yang mengguncang Aceh pada 26 Desember 2004, misalnya. Lebih dari 100.000 jiwa harus meregang nyawa dihantam gempa dan gelombang tsunami.

Pascabencana ini, provinsi berjuluk Serambi Mekah itu mulai mengenal pendidikan mitigasi tsunami. Infrastruktur seperti bangunan tahan gempa dan gedung evakuasi juga disiapkan dari sumbangsih sejumlah negara sahabat.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono heran dengan pendidikan mitigasi yang terbilang minim hingga kini.

"Masak tahun 2019 [masih ada korban] meninggal juga. Seperti bencana Lombok yang menelan korban 400 orang lebih. Sementara itu di Palu 2.000 meninggal. Berarti tidak ada perubahannya sejak tahun 1600," terangnya.

Sejak satu bulan terakhir, intensitas gempa meningkat cukup drastis, mencapai 841 kali pada Juli 2019. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Juni 2019 sebanyak 735 kali.

Dari jumlah tersebut, gempa dengan intensitas kecil atau di bawah magnitudo 5,0 terjadi sebanyak 789 kali. Sementara itu, di atas magnitudo 5,0 melesat hingga 52 kali. Gempa dirasakan juga mencapai 84 kali pada Juli, lebih tinggi dibandingkan dengan lindu pada bulan sebelumnya sebanyak 65 kali.

"Secara umum jumlah gempa Juli 2019 lebih banyak terjadi di Indonesia Timur," kata Daryono.

Tabel Aktifitas Gempa

Aktivitas Gempa

Juni 2019

Juli 2019

Jumlah Gempa

735

841

Gempa di bawah 5,0

-

789

Gempa di atas 5,0

35

52

Gempa Dirasakan

65

84

Sumber: BMKG

Pada bulan yang sama juga terjadi empat kali gempa merusak. Seluruhnya yaitu Maluku Utara pada 7 Juli magnitudo 7,1; Sumbawa pada 13 Juli dengan kekuatan 5,5; Halmahera Selatan pada 14 Juli dan Gempa Bali Selatan pada 16 Juli dengan magnitudo 6,0.

Daryono tidak mengetahui alasan pasti peningkatan intensitas gempa. Menurutnya, hingga kini tidak ada yang dapat memprediksi kapan gempa terjadi. "Tidak ada alasan mas, hanya Tuhan yang tahu," sebutnya.

Zona Patahan Lempeng 

Gempa memang tidak dapat menjauh dari Indonesia. Negara kepulauan ini memiliki 6 zona subduksi lempeng aktif dengan rincian 16 segmen zona megatrust. Zona subduksi disebut sebagai titik pertemuan antarlempeng di dalam tanah.

Selain itu, Indonesia memiliki lebih dari 295 segmen sesar aktif. Sesar adalah patahan kerak bumi yang berubah posisi. Patahan yang dapat bergerak ini berpotensi menimbulkan gempa darat. Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki sesar aktif di darat.

Melihat ancaman bencana yang begitu besar, Daryono prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih belum peka bencana. 

Situasi ini berbanding terbalik dengan Jepang. Meski sama-sama menyandang status rawan gempa dan tsunami, negara itu jauh lebih siap. Termasuk infrastruktur dan manusianya.

Mitigasi Bencana Jepang

Sejak 1980 kata Daryono, Jepang mulai memberlakukan syarat pendirian bangunan wajib tahan gempa termasuk rumah penduduk. Walhasil gempa di kisaran 7 skala richter diklaim tidak sampai memakan korban. Bahkan bangunan hanya mengalami rusak ringan.

Tenaga Ahli Bidang Pencegahan Bencana, Japan International Cooperation Agency (JICA) Naoto Tada mengatakan gempa yang terjadi di Tohoku, Jepang pada 2011 merupakan pukulan besar yang diterima warga sekitar.

Bencana itu sama sekali tidak diperhitungkan sebelumnya. Warga terdampak akhirnya sadar bahwa bencana tidak memiliki batas atas. Malah risikonya akan lebih besar di masa mendatang.

Warga menyusuri jalanan yang terendam di Kota Ishimaki, Prefektura Miyagi di kawasan utara Jepang, setelah gempabumi dan tsunami menghantam wilayah ini pada 13 Maret 2011./REUTERS-Kyodo

"Kami menghadapi kenyataan bahaya bencana yang tidak dapat dihindari selama tinggal di negara rawan bencana," kata Tada.

Pemerintah sekitar kemudian bergegas menyusun perkiraan bencana terburuk. Saat itu, gempa dan tsunami  di Tohoku menewaskan sedikitnya 20.000 orang.

Pemerintah kemudian memperkirakan risiko bencana akan lebih tinggi hingga merenggut 320.000 jiwa. Tsunami tertinggi diprediksi bakal mencapai 34 meter.

Dalam perkiraan kasus terburuk itu, pemerintah Jepang menargetkan untuk mengurangi risiko korban kematian sebanyak 80 persen dalam kurun 10 tahun. Target ini ditangani dengan beragam langkah.

Beberapa skenario penanggulangan gempa dijalankan, mulai dari bangunan tahan gempa, pencegahan kebakaran, perencanaan tata ruang, evakuasi, pendidikan dan pelatihan bencana, penyelamatan hingga perawatan medis.

Masyarakat juga diajarkan tiga prinsip dasar upaya mitigasi. Mereka tidak boleh menyerah, mulai evakuasi setelah guncangan, hingga evakuasi lebih cepat ke tempat aman.

Dengan prinsip tidak menyerah terhadap bencana, masyarakat Jepang jadi lebih peduli. Bahkan disebutkan, selama empat tahun pertama, harapan hidup warga Jepang juga meningkat setelah dikampanyekan prinsip tidak mudah menyerah tersebut.

Semua dimulai dari pendidikan kebencanaan di sekolah. Diteruskan dengan merelokasi Balai Kota dan Pusat Penyelamatan. Pemerintah setempat juga membangun 6 menara evakuasi baru setinggi 22 meter yang bisa menampung 230 orang di tiap menara.

"Pada 2012 hanya 40 persen [bangunan] yang tahan gempa. Namun 2020 harus 90 persen [tahan gempa]. Jadi selain jalur evakuasi, kami juga buat rumah tahan gempa," ujar Tada.

Upaya Pemerintah Indonesia

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Bernardus Wisnu Widjaja menyebut beberapa langkah telah dilakukan pemerintah. Hal itu bermula dari revisi peraturan pemerintah tentang peringatan dini hingga penyusunan rencana kedaruratan.

"Kami juga dalam proses membuat, menyiapkan Instruksi Presiden yang mewajibkan penyusunan rencana kedaruratan di seluruh kabupaten/kota hingga pusat dan harus selesai dalam 1 tahun," terang Wisnu.

Adapun upaya pemerintah secara nonteknis berupa program peningkatan kapasitas peringatan dini. Pemerintah kini sedang  memperbanyak peralatan deteksi gempa dan tsunami di sejumlah wilayah.

Meski tidak disebutkan jumlah alat pendeteksi yang akan ditambah, menurut Wisnu langkah ini akan mempermudah petugas meneliti risiko bencana.

Cara Jepang menanggulangi bencana boleh jadi memang menakjubkan, namun tidak semua proses harus diikuti mentah-mentah. Indonesia perlu penyesuaian untuk mitigasi di wilayah perairan.

Negeri Samurai membuat tanggul tinggi untuk menahan potensi gelombang tsunami, Indonesia punya cara berbeda. BNPB menyebut strategi penanaman pohon hutan pantai boleh jadi merupakan salah satu upaya. Tujuannya tidak lain untuk mengurangi energi yang datang dari gelombang tsunami ke daratan.

"Kita bisa mencegah terjadinya bencana tsunami. Tapi kita tidak dapat mencegah  tsunami itu sendiri," ujar Wisnu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bencana alam

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top