Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jepang Tahan Kebijakan Suku Bunga Acuan

Menjelang keputusan kebijakan penentu The Fed esok hari, Bank Sentral Jepang (BOJ) mengambil langkah wait-and-see dan memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  11:38 WIB
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA -- Menjelang keputusan kebijakan penentu The Fed esok hari, Bank Sentral Jepang (BOJ) mengambil langkah wait-and-see dan memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneternya.

Pada sebuah pernyataan, seperti dilansir melalui Bloomberg, BOJ mempertahankan pengaturan pada program kontrol kurva imbal hasil (yield curve-control program) dan pembelian aset, sebuah kebijakan yang sudah diantisipasi sebelumnya oleh sebagian ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.

Bank sentral juga mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya sebesar -0,1%.

Setidaknya, sepertiga dari ekonom yang disurvei memperkirakan BOJ akan menguatkan komitmennya untuk menjaga suku bunga pada level terendah.

Meskipun sentimen yang mengatakan bahwa Jepang memerlukan lebih banyak stimulus terus meningkat, keputusan BOJ kemungkinan mencerminkan harapan para pembuat kebijakan bahwa stimulus tambahan yang akan dirilis oleh The Fed dan Bank Sentral Eropa sebagian besar akan mempengaruhi nilai tukar yen.

"Saat ini BOJ tidak perlu mengeluarkan lebih banyak instrumen istimewa untuk pelonggaran tambahan," ujar Ekonom Market Senior Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, Naomi Muguruma, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (30/7/2019).

Dia menambahkan, rencana pemangkasan suku bunga The Fed sudah diperhitungkan dalam pasar sehingga risiko apresiasi terhadap yen tidak tinggi.

Dalam proyeksi kuartalan terkini, BOJ mengatakan potensi pertumbuhna inflasi 2% belum akan tercapai, dengan inflasi inti diproyeksikan pada 1,6% pada tahun yang berakhir pada Maret 2022. Proyeksi tersebut memangkas proyeksi inflasi untuk tahun fiskal ini menjadi 1,0%.

BOJ telah memangkas setidaknya satu dari perkiraan inflasi mereka setiap kuartal sejak April tahun lalu, meskipun proyeksi mereka tetap lebih tinggi daripada para ekonom swasta.

Sebelumnya, komitmen bank sentral terhadap suku bunga menjadi fokus para pengamat BOJ. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa bank sentral akan mengubah tata bahasa dari hasil keputusan untuk secara preemptive mencoba menggagalkan penguatan yen yang kemungkinan dihasilkan dari penurunan suku bunga pertama The Fed sejak 2008.

"Namun sejumlah pejabat BOJ melihat sedikit yang bisa diperoleh dari strategi itu, terutama karena bank sentral telah mengubah tata bahasa dalam kebijakan moneternya pada 3 bulan yang lalu," menurut sumber yang familiar dengan isu tersebut.

Stabilitas pasar dari pertemuan kebijakan ECB kemungkinan memberi para pembuat kebijakan BOJ keyakinan bahwa mereka bisa bertahan.

Yen melemah setelah ECB mengisyaratkan akan mengeluarkan stimulus lebih tambahan, mengindikasikan bahwa investor menilai pemangkasan suku bunga oleh ECB dan Fed sebagai tanda yang baik untuk ekonomi global, daripada berfokus pada perbedaan suku bunga dengan Jepang.

Meski demikian, reaksi pasar terhadap keputusan The Fed masih harus terus diawasi.

Antisipasi pasar terhadap pemotongan suku bunga The Fed setidaknya seperempat poin persentase sangat tinggi, tetapi langkah yang lebih besar atau sinyal yang lebih kuat dari tindakan lebih lanjut ke depan masih bisa memperkuat yen.

Skenario itulah yang kemudian membuat para ekonom memprediksi langkah BOJ selanjutnya adalah menambah stimulus.

Menurut survei Bloomberg, sekitar 77% ekonom mengharapkan langkah kebijakan BOJ berikutnya adalah memperkuat stimulus, naik dari 62% bulan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang
Editor : Achmad Aris

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top