Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penanganan Sampah Perlu Libatkan Banyak Pihak

Jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 6,8 juta ton, dan hanya 10% yang berhasil didaur ulang.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  12:09 WIB
Nelayan melintasi muara sungai yang tercemar sampah plastik di Pantai Satelit, Desa Tembokrejo, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (19/4/2019). produksi sampah plastik di Indonesia telah mencapai 64 juta ton/tahun dan sebagian besar mencemari lautan./ANTARA FOTO - Seno
Nelayan melintasi muara sungai yang tercemar sampah plastik di Pantai Satelit, Desa Tembokrejo, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (19/4/2019). produksi sampah plastik di Indonesia telah mencapai 64 juta ton/tahun dan sebagian besar mencemari lautan./ANTARA FOTO - Seno

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi sampah melalui 3R (reduce, reuse, recycle), hingga 30% pada 2025 serta menurunkan sampah plastik sebesar 70% pada tahun yang sama.

Presiden Joko Widodo pernah menyatakan komitmen ini pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 20 di Hamburg, Jerman 2 tahun silam.

Pemerintah pun kian serius dalam mengurangi sampah, terutama setelah Indonesia dituding sebagai negara penyumbang sampah plastik di dunia terbesar kedua, setelah China. Tentunya, dalam mencapai tujuan tersebut banyak tantangan yang dihadapi dan diperlukan aksi nyata dari seluruh pihak.

Dengan tujuan untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang efektif, salah satu produsen minuman ringan Coca-Cola Amatil Indonesia menyelenggarakan Bali’s Big Eco Forum dengan tema Sustainability for Wonderful Indonesia pada 26—27 Juli 2019.

Forum ini bertujuan untuk mengembangkan solusi pengolahan sampah yang komprehensif dan berkelanjutan, dengan berkolaborasi bersama pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, komunitas dan industri.

Lucia Karina, Director of Public Affairs, Communications & Sustainability Coca-Cola Amatil Indonesia, menuturkan acara ini diselenggarakan dengan dorongan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

Di dalam forum ini diadakan beberapa focus grup discussion (FGD) dengan tiga tema yang berbeda, yaitu kebijakan yang bersinergi dengan perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat; infrastruktur dan mekanisme yang mendukung pengelolaan sampah plastik secara komprehensif; dan menciptakan circular economy yang akan memastikan keberlangsungan proses daur ulang yang berkesinambungan.

Dari hasil FGD, ternyata masih banyak tantangan yang dihadapi dalam membereskan masalah sampah di Indonesia. Beberapa tantangan utama yang dilaporkan antara lain bagaimana mengubah perilaku masyarakat dalam membuang dan mengumpulkan sampah, konsep daur ulang dalam pengelolaan sampah dan koordinasi antar lembaga, serta kebijakan yang efektif.

Namun, yang digarisbawahi dalam forum ini adalah bahwa dalam penanganan masalah sampah tidak akan berjalan dengan baik jika hanya beberapa pihak yang berupaya dan merasa bertanggungjawab. “Beberapa rekomendasi dari Bali’s Big Eco Forum ini antara lain, perlu aksi nyata, tidak hanya rencana dalam mengatasi masalah sampah. Aksi ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri hanya satu pemangku jabatan, tetapi oleh seluruh pemangku kepentingan,” ujar Lucia.

Mengenai kebijakan, dia menilai di Indonesia telah memiliki banyak regulasi dalam upaya menangani masalah sampah. Namun, masih perlu dilakukan harmonisasi antar kebijakan dan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Hasil forum ini juga bertujuan mendorong lebih aktif pemerintah daerah dan pemangku jabatan lainnya untuk berperan serta dalam bertindak secara nyata dalam mengatasi masalah sampah dan tidak  saling menyalahkan, melainkan bersama-sama mencari solusi terbaik.

“Rekomendasi dari forum ini yang detail masih kami susun, rencananya akan kami sampaikan kepada Pak Luhut, kami sedang mencari waktu yang tepat. Semoga dari sini ada rencana nyata yang konkret yang bisa disampaikan.”

Chair Steering Board Indonesia National Plastic Action Partnership Mari Elka Pangestu mengatakan alah satu dari kunci utama dalam penanganan masalah plastik di Indonesia adalah koordinasi antara seluruh pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah, termasuk dengan cara memperkuat regulasi dan sumber daya manusia di berbagai sektor dan institusi.

Selain itu, juga diperlukan penerapan teknologi dalam mengontrol sampah plastik, termasuk aplikasi manajemen berbasis ilmu pengetahuan. “Peningkatan kesadaran aksi sosial untuk mengurangi, mendaur ulang, dan menggunakan kembali sampah plastik perlu diterapkan sejak dini,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 6,8 juta ton. Dari jumlah ini, hanya 10% yang berhasil didaur ulang. Sebesar 36% dibakar di tempat terbuka, 20% dibuang dengan terkelola, 9% berada di tempat pembuangan sampah, 17% dibuang di darat, dan 10% berakhir di lautan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengolahan sampah
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top