Boeing Tawarkan US$100 juta untuk Keluarga Korban Kecelakaan 737 Max

Boeing Co. menawarkan dana bantuan senilai US$100 juta untuk anggota keluarga korban kecelakaan 737 Max, yang menewaskan 346 orang.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  18:11 WIB
Boeing Tawarkan US$100 juta untuk Keluarga Korban Kecelakaan 737 Max
Foto udara yang menunjukkan pesawat 737 MAX buatan Boeing diparkir di pabrik Boeing di Renton, Washington, Kamis (21/3/2019). - Reuters/Lindsey Wasson

Bisnis.com, JAKARTA - Boeing Co. menawarkan dana bantuan senilai US$100 juta untuk anggota keluarga korban kecelakaan 737 Max, yang menewaskan 346 orang.

"Dana bantuan tersebut diperuntukkan bagi keperluan pendidikan, uang duka, dan biaya hidup, bantuan program komunitas serta pengembangan ekonomi bagi keluarga dan komunitas yang terdampak musibah kecelakaan," tulis Boeing dalam sebuah pernyataan resmi, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (4/7/2019).

Dana tersebut akan diberikan secara bertahap dalam beberapa periode pencairan.

Janji Boeing, yang digambarkan sebagai pendekatan awal, menggarisbawahi pertaruhan besar bagi korporasi di tengah tantangan krisis terburuk dalam 103 tahun sejarah produsen pesawat ini berdiri.

Bloomberg Intelligence memperkirakan, untuk penyelesaian gugatan atas nama korban tewas, Boeing setidaknya membutuhkan dana sekitar US$1 miliar, meskipun para ahli hukum mengatakan estimasi dapat menjadi lebih tinggi jika Boeing terbukti lalai terhadap kekurangan jet Max sebelum kecelakaan terjadi.

Robert Clifford, seorang pengacara asal Chicago yang telah mengajukan gugatan atas nama 23 korban dalam kecelakaan kedua, mengatakan tawaran Boeing tersebut sangat tidak biasa. Dia mencatat, bahwa janji bantuan setelah kecelakaan sering kali datang dengan ketentuan atau batasan.

"Yang dapat saya katakan adalah, ada detil yang tidak disampaikan dalam informasi tersebut. Jelaskan cara kerjanya, bagaimana proses klaimnya, siapa saja yang dapat menerima manfaat?" tutur Clifford dalam sebuah wawancara.

Secara rata-rata, dana yang akan diterima per korban kecelakaan senilai US$289.000, meskipun jumlah yang diterima bisa jauh lebih sedikit setelah pembayaran dilakukan kepada semua pemangku kepentingan.

Juru bicara Boeing, Charles Bickers mengatakan, perusahaan tidak mencantumkan batasan terkait dengan litigasi tentang bagaimana dana dapat digunakan.

"Dana ini benar-benar independen dari tuntutan hukum oleh keluarga. Ini langkah konstruktif yang bisa kita ambil sekarang," ujarnya.

Sanjiv Singh, anggota dewan dan anggota tim hukum Kabateck LLP yang mewakili keluarga dari kedua kecelakaan itu, mempertanyakan waktu pengumuman Boeing dan mengatakan dana yang dijanjikan tidak memadai.

"Ini adalah bantuan seukuran plester pelindung luka untuk anak kecil, namun direkatkan pada luka menganga yang dalam. Saya sangat curiga terhadap manuver ini," kata Singh dalam sebuah pernyataan melalui email.

Boeing telah berjuang untuk mengatasi krisis pada perusahaan akibat kecelakaan, yang pertama kali terjadi pada Oktober ketika sebuah jet Max yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh ke Laut Jawa.

Setelah penerbangan Ethiopia jatuh dalam keadaan yang sama, regulator di seluruh dunia memutuskan untuk memboikot Max.

Dalam kedua insiden ini, desain sistem Boeing yang dirancang untuk mencegah hambatan aerodinamis telah diperkirakan sebagai salah satu penyebab kecelakaan.

Ketentuan sipil dan kongres telah ditujukan terhadap desain dan sertifikasi pesawat. Namun hingg saat ini, penyebab setiap kecelakaan belum juga diumumkan secara pasti.

Catatan pengadilan menunjukkan, setidaknya 46 klaim telah diajukan oleh keluarga korban dalam kecelakaan di Indonesia, serta Ethiopia. Kasus-kasus tersebut masih dalam tahap awal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boeing, kecelakaan pesawat

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top