Siti Nurbaya: Indonesia Selamatkan Keanekaragaman Hayati Melebihi Target Aichi

Ancaman terhadap keanekaragaman hayati global terus menguat hingga ke tingkat kepunahan. Di Indonesia, sejumlah spesies justru terpantau mengalami peningkatan populasi.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  04:00 WIB
Siti Nurbaya: Indonesia Selamatkan Keanekaragaman Hayati Melebihi Target Aichi
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar. - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, TRONDHEIM, Norwegia – Keanekaragaman hayati menyediakan berbagai kebutuhan bagi kehidupan manusia sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya, ancaman terhadap keanekaragaman hayati global terus menguat hingga ke tingkat kepunahan. Di Indonesia, sejumlah spesies justru terpantau mengalami peningkatan populasi.

Hal itu menjadi bahasan utama di Trondheim Conference on Biodiversity yang berlangsung di Kota Trondheim, Norwegia.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan pidato kunci saat pembukaan konferensi itu, Selasa (2/7/2019) waktu setempat atau Rabu waktu Indonesia.

Dalam pidatonya, seperti diungkapkan dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Siti menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

Indonesia memiliki lebih dari 51 juta hektare kawasan perlindungan yang setara dengan lebih dari 28% luas daratan. Ini melebihi target sebesar 17% yang ditetapkan dalan konvensi keanekaragaman hayati (CBD) yang populer disebut Aichi target.

Demikian juga untuk kawasan konservasi perairan, Indonesia telah memiliki sekitar 20 juta hektare per 2018, melebihi target yang dipancang untuk dicapai pada 2020.

KLHK telah merancang Rencana Aksi Strategis Keanekaragaman Hayati Indonesia 2015-2022 dengan tiga tujuan utama, memperkuat pengamanan keanekaragaman hayati, memanfaatkan secara lestari keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan rakyat, dan mengelola keanekaragaman hayati secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat.

Selain itu, Indonesia telah merancang sejumlah rencana aksi strategis nasional untuk sejumlah spesies, seperti harimau sumatra, badak sumatra, orang utan, gajah, dan burung rangkong.

Dampak dari berbagai kebijakan itu, terjadi kenaikan populasi sejumlah spesies yang terancam punah di Indonesia berdasarkan pantauan di 273 titik, di antaranya populasi jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Bali Barat yang naik dari 31 individu pada 2015 menjadi 191 individu pada 2019.

Kenaikan populasi juga terjadi untuk harimau sumatra di Taman Nasional Gunung Leuser, Kerincil Sebelat, Berbak Sembilang, dan Bukit Barisan Selatan.

Kerja-kerja konservasi yang dilakukan Indonesia berhasil menaikkan populasi harimau sumatra dari 0,07 individu per hektare pada 2013 menjadi 1,24 individu per hektare pada 2018.

Laporan terbaru mimbar kebijakan-ilmu pengetahuan antara pemerintah untuk keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem (IPBES) mengungkap fakta suram nasib keanekaragaman hayati dunia.

Dalam laporannya, IPBES mengungkap sekitar 1 juta spesies terancam punah, bahkan hanya dalam hitungan dekade.

Laporan itu juga menyatakan tingkat kepunahan spesies secara global sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali lebih tinggi dibandingkan 10 juta tahun terakhir dan semakin cepat.

Situasi itu terjadi karena faktor-faktor terkait perubahan penggunaan lahan dan laut, polusi, dan perubahan iklim.

Selain itu, laporan IPBES juga menekankan bahwa keanekaragaman hayati sejatinya lebih luas dari sekadar persoalan lingkungan.

Keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi yang harus diperhitungkan dalam neraca keuangan. Keanekaragaman juga menyediakan dukungan pembangunan seperti pangan, air, energi, ketahanan, dan kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, klhk

Editor : Herdiyan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top