Indonesia-Slowakia Jalin Kerja Sama Penanganan Terorisme

Isu terorisme telah menjadi isu lintas batas sehingga setiap negara perlu bekerja sama secara erat untuk menciptakan strategi dan program yang efektif untuk menghadapi radikalisasi dan ekstremisme kekerasan. Masalah terorisme adalah masalah global, namun akar permasalah terbentuknya terorisme di setiap negara berbeda.
Andhina Wulandari
Andhina Wulandari - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:55 WIB
Indonesia-Slowakia Jalin Kerja Sama Penanganan Terorisme
Kepala BNPT Suhardi Alius dan Menteri Dalam Negeri Slowakia Michal Bagacka melakukan penandatanganan MoU Kerja Sama Penanganan Terorisme - Dok. KBRI Bratislava

Bisnis.com, BRATISLAVA – Indonesia dan Slowakia melakukan penandatanganan kerja sama penanggulangan terorisme. Penandatanganan Memorandum of Understanding Between the National Counter Terrorism Agency of the Republic of Indonesia and the Ministry of Interior of the Slovak Republic on Counter-Terrorism Cooperation, dilakukan di Bratislava, Slowakia, Senin (24/06/2019).

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius dan Menteri Dalam Negeri Slowakia Michal Bagacka di kantor Kementerian Dalam Negeri Slowakia di Bratislava. Penandatanganan disaksikan Duta Besar RI untuk Slowakia Adiyatwidi Adiwoso, pejabat dari BNPT, dan Kementerian Dalam Negeri Slowakia.

“Isu terorisme telah menjadi isu lintas batas sehingga setiap negara perlu bekerja sama secara erat untuk menciptakan strategi dan program yang efektif untuk menghadapi radikalisasi dan ekstremisme kekerasan. Masalah terorisme adalah masalah global, namun akar permasalah terbentuknya terorisme di setiap negara berbeda,” ujar Kepala BNPT Suhardi Alius.

Dalam penanggulangan masalah terorisme, Indonesia melakukan dua pendekatan, yaitu pendekatan soft power dan hard power. Dalam hal ini, BNPT bertugas melaksanakan pendekatan soft power, sedangkan polisi melaksanakan  pendekatan hard power.

Melalui pendekatan soft power, BNPT melaksanakan dua program, yaitu program deradikalisasi bagi seluruh keluarga teroris selama 1-2 tahun dan program melawan radikalisasi guna memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ideologi ekstremis.

Hal ini dilakukan dengan penunjukan “Duta Besar Perdamaian” dari kalangan muda guna meyakinkan kaum muda agar tidak terpengaruh propaganda para ekstremis dengan bahasa milenial. Selain itu, dilaksanakan berbagai ceramah di sekolah-sekolah dan universitas, serta melalui media massa.

Amerika Serikat memuji pendekatan ini karena dilakukan secara holistik, yang mencakup aspek pencegahan, penegakan hukum dan kompensasi korban.

Indonesia saat ini telah memiliki perangkat hukum dan infrastruktur yang lengkap untuk pelatihan ataupun penanganan terorisme. 

Suhardi dalam kesempatan tersebut juga mengundang Kementerian Dalam Negeri untuk mengikuti pelatihan terorisme yang diselenggarakan oleh Jakarta Centre For Law Enforcement Cooperation di Semarang. Suhardi menjelaskan secara ringkas upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui kegiatan pencegahan dan deradikalisasi, kegiatan operasi, penegakan hukum, peningkatan kapasitas dan kerja sama internasional.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Slowakia Michal Bagacka dalam sambutannya menyatakan bahwa Slowakia menyambut baik inisiatif Indonesia untuk kerja sama penanganan terorisme ini. "Aksi teror merupakan kejahatan yang dapat terjadi di mana saja dan akibatnya merugikan banyak pihak," ujarnya. 

“Melalui kerja sama ini, Slowakia dapat belajar dari Indonesia yang lebih memiliki pengalaman dalam penanganan terorisme dan memiliki perangkat hukum ataupun infrastruktur yang lebih lengkap. Kerja sama ini penting karena merupakan tugas negara untuk memastikan perlindungan warga negaranya,” kata Michal, Senin.

Duta Besar RI untuk Slowakia Adiyatwidi Adiwoso sangat mengapresiasi kerja sama BNPT dan Kementerian Dalam Negeri Slowakia. Menurutnya Indonesia dapat menjadi role model dalam penanganan terorisme dan terlibat dalam berbagai forum mengenai terorisme yang digelar oleh Slowakia.

“Inisiatif kerja sama ini dilatarbelakangi oleh pertemuan konsultasi bilateral Ke-5 Indonesia-Slowakia tahun 2017 di Bratislava yang mendorong pendekatan-pendekatan baru untuk peningkatan kerja sama bilateral kedua Negara,” jelas Adiyatwidi.

Menurutnya Adiyatwidi MOU bertujuan untuk menciptakan kerangka kerja sama pencegahan dan penanganan terorisme di kedua negara. Kerja sama antara lain dilakukan melalui pertukaran informasi mengenai hukum, undang-undang, ataupun kebijakan yang terkait terorisme. Juga dilakukan pertukaran pengalaman best practices penanganan terorisme, penyelenggaraan seminar/lokakarya peningkatan kapasitas, saling kunjung pejabat tinggi dan pakar di bidang terorisme, dan lain sebagainya.

Kedua pihak akan membentuk joint working group yang diketuai bersama Indonesia dan Slowakia dan akan melakukan pertemuan sekali dalam dua tahun secara bergiliran di Indonesia atau Slowakia.

Pelaksana MOU ini adalah Direktorat Kerja Sama Bilateral BNPT dan Biro Kerja Sama Internasional Kepolisian, Kementerian Dalam Negeri Slowakia.

Di sela-sela pertemuan untuk penandatangan, delegasi BNPT berkesempatan melakukan pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri Slowakia untuk saling bertukar pandangan mengenai kebijakan kedua negara mengenai terorisme.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
terorisme, bnpt

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup