Mengenang Judith Krantz, Jurnalis dan Legenda Penulis Novel Fiksi

Judith Krantz, salah satu novelis wanita paling sukses secara komersial, wafat di kediamannya di Bel-Air, California, pada Sabtu (22/6/2019) waktu setempat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juni 2019  |  11:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Judith Krantz, salah satu novelis wanita paling sukses secara komersial, wafat di kediamannya di Bel-Air, California, pada Sabtu (22/6/2019) waktu setempat.

Penulis yang terkenal sukses menerbangkan imajinasi para pembacanya dengan novel-novel romansa seperti Scruples dan Princess Daisy ini dilaporkan wafat di usia 91 tahun karena faktor umur.

Sepanjang hayatnya, Krantz telah menjual lebih dari 100 juta kopi buku yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa asing. Keputusan untuk menjadi penulis ditetapkannya di usia 50 tahun setelah malang melintang di dunia jurnalistik.

Di usia 70 tahun, ia memutuskan pensiun dari penulisan buku fiksi. Saat itu ia berkilah tidak memiliki inspirasi apa-apa lagi untuk diceritakan kepada pembacanya.

Setiap buku yang dituliskan Krantz biasanya melibatkan seorang pahlawan muda cantik dengan gaya busana glamor yang berusaha melanglang dunia mode, periklanan, dan industri film Hollywood.

Mulai dari Billy Winthrop dalam Scruples (1978), novel pertamanya, hingga novel terakhirnya dengan seorang bintang film bernama Tessa dalam The Jewels of Tessa Kent (1998), Krantz menghadirkan karakter wanita yang mengalami dilema emosional dan hambatan-hambatan dalam menjemput peluang.

Kesulitan Pribadi

“Saya benar-benar curiga bahwa kesulitan yang saya jalani adalah hal-hal dalam hidup yang akhirnya membuat saya menjadi seorang pendongeng,” tulis Krantz dalam otobiografinya Sex and Shopping: The Confessions of a Nice Jewish Girl (2000).

“Dilihat sebagai aliran dimana satu hal mengarah ke yang lain, peristiwa-peristiwa dalam hidup saya, dan bagaimana saya mengatasinya, bisa diketahui siapa saya. Dan seorang wanita harus memiliki gagasan yang jelas tentang siapa dia,” paparnya.

Kondisi karakter-karakter protagonis utama dalam ceritanya terkadang diambil dari kehidupan Krantz sendiri, dari seorang wanita muda yang tinggal di Paris hingga hubungan yang renggang dengan ibundanya.

Dalam novel Princess Daisy (1980), contoh lain, Krantz juga menggambarkan kembali pengalaman pelecehan seksual yang dia alami sendiri saat remaja.

“Saya tumbuh dalam jalinan kehidupan yang rumit, permasalahan keluarga, dan seksualitas yang tersiksa saat remaja,” ungkapnya lebih lanjut.

Tujuh dari buku Krantz diadaptasi untuk televisi dalam bentuk miniseri atau film TV. Beberapa di antaranya, termasuk Mistral's Daughter (1982) dan Dazzle (1990), diproduksi sendiri oleh suaminya, Stephen Krantz.

Usai menelurkan otobiografinya pada tahun 2000, Krantz tidak menerbitkan buku apa pun.

Karakter Glamor

Selama berkarier, Krantz telah berkontribusi pada majalah McCall dan Ladies' Home Journal. Sepanjang tahun 1970-an ia adalah editor kontributor untuk Cosmopolitan yang melambungkan namanya melalui artikel The Myth of the Multiple Orgasm.

Minatnya namun kemudian beralih pada cerita fiksi. Ia menggabungkan pengetahuan tentang fesyen dan gemerlap Hollywood untuk menghasilkan deskripsi terperinci mengenai karakter-karakter yang sensual dan industri glamor dalam narasinya.

Tepat di usia 50 tahun, ia menemukan bakat dan ketertarikannya untuk fiksi yang membuatnya kaya dan terkenal seperti karakter-karakter yang ia ciptakan.

“Tepat ketika saya berulang tahun ke-50, saya menemukan bahwa saya dapat menulis cerita fiksi. Suami saya mendesak saya untuk mencobanya selama 15 tahun sebelum saya melakukannya,” ujar Krantz, seperti dikutip dari USA Today.

“Sekarang saya akan mengatakan kepada para remaja putri, lakukan sesuatu yang benar-benar kalian inginkan, tidak peduli seberapa kecil talenta yang kalian yakini. Jangan biarkan karya besar menjadi tujuanmu, tujuan sederhana dapat menuntunmu lebih jauh dari yang kamu impikan.”

Salah satu novel terlarisnya, Scruples, masuk daftar terlaris New York Times selama lebih dari setahun. Pada 1979, lisensinya untuk buku Princess Daisy bahkan membukukan rekor pada masanya senilai US$3,2 juta, seperti dilaporkan New York Times.

“Pengalaman membaca novel Judith Krantz tidak berbeda dengan menonton 'Lifestyles of the Rich and Famous' dan dalam waktu yang bersamaan bolak-balik melihat kemilau iklan di majalah Vogue,” tulis Rita Felski dalam buku Doing Time: Feminist Theory and Postmodern Culture ( 2000).

Salah satu putra mereka, Tony Krantz, yang kini berprofesi sebagai seorang eksekutif TV, mengkonfirmasi kematian sang legenda cerita fiksi ini. Ia mengungkapkan harapannya untuk menciptakan kembali miniseri Scruples sebelum Krantz meninggal.

“Dia memiliki kombinasi langka antara komersial dan kreatif," tutur Tony Krantz.

Saatnya Berhenti

“Menurutnya [Krantz], imajinasi itu seperti botol champagne,” tulis novelis Dora Levy Mossanen pada 2010 setelah berkesempatan santap bersama Krantz.

“Begitu seseorang sampai di bagian bawah botol dan gelembung terakhir, saatnya untuk berhenti,” ungkap Mossanen, seperti dilansir dari Bloomberg.

Terlahir dengan nama Judith Tarcher pada 9 Januari 1928, di New York, Krantz adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Ia memiliki seorang saudara perempuan bernama Mimi, dan seorang saudara lelaki, Jeremy.

Ayahnya, Jack Tarcher, menjalankan biro iklan dan ibunya, Mary 'Mickey' Brager, adalah seorang pengacara Lembaga Bantuan Hukum yang lahir di Lituania.

Meski kedua orang tuanya dikisahkan tidak banyak memberikan perhatian, Krantz mengaitkan kecintaannya pada fesyen dengan kebiasaan sang ibu mendandani anak-anaknya dengan pakaian.

Setelah meraih gelar sarjana dari Wellesley College, di Massachusetts, pada tahun 1948, Krantz pindah ke Paris. Di ibu kota Prancis ini ia bekerja sebagai jurnalis fesyen. Pada awal tahun 1950an, ia kembali ke New York dan bekerja sebagai editor fesyen di majalah Good Housekeeping.

Pada 1953, ia dicomblangi dengan bakal suaminya, Stephen Krantz, seorang produser televisi, di sebuah pesta oleh jurnalis TV ternama Barbara Walters. Tangan bersambut, Judith dan Steve Krantz akhirnya menikah pada 1954.

Dari pernikahan mereka, Krantz memiliki dua putra, Nicholas dan Tony. Sang suami sendiri telah mendahuluinya ke alam baka pada 2007 di usia 83 tahun.

Penulis lintas genre dari seluruh dunia pun ramai-ramai menyampaikan duka cita mereka atas kabar kematiannya di Twitter, termasuk Kellye Garrett, Sarah Weinman, serta duo Heather Cocks dan Jessica Morgan.

“Aku benar-benar terkesiap ketika membaca bahwa Judith Krantz telah meninggal dunia. Seorang legenda,” tulis Garrett di Twitter, dikutip dari CNN.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top