100 dari 435 Museum Terdaftar Masuk Kategori Tidak Layak

Nasib museum di Indonesia masih memprihatinkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat dari 435 museum yang terdaftar di seluruh Indonesia, banyak museum yang kondisinya kurang perhatian dan jarang dikunjungi masyarakat.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  15:07 WIB
100 dari 435 Museum Terdaftar Masuk Kategori Tidak Layak
Pengunjung mengamati berbagai macam jenis Nyamuk di Museum Nyamuk Balitbang Kemenkes, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (31/1/2019). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA-- Nasib museum di Indonesia masih memprihatinkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat dari 435 museum yang terdaftar di seluruh Indonesia, banyak museum yang kondisinya kurang perhatian dan jarang dikunjungi masyarakat.

“Bahkan ada 100 museum yang termasuk kategori tidak layak menampung koleksi sejarah,” kata Fitra Arda Ambas, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dikutip dari laman setkab.go.id, Jumat (21/6/2019).

Sebagian dari museum-museum itu, lanjut Fitra, terpaksa tutup karena tidak mempunyai dana operasional.

Lebih lanjut, Fitra mengungkapkan menurunnya fungsi museum sebagai ruang publik terjadi beberapa hal antara lain adanya perubahan kelembagaan, dituntut untuk menghasilkan dana, data yang tidak akurat/informasi koleksi, sumber daya manusia yang tidak kompeten, keterbatasan anggaran, dan tidak memiliki program yang jelas.

“Artinya museum dimaknai sebagai penyimpan alias gudang saja. Sedangkan poin paling penting dari museum adalah cerita di balik benda-benda sejarah,” jelas Fitra.

Fitra menilai penurunan fungsi museum itu juga tidak terlepas dari diserahkannya urusan pengelolaan museum ke daerah seiring dengan era otonomi daerah. Sebaliknya, bagi daerah pengelolaan museum tidak menjadi prioritas. Akibatnya, banyak museum yang merana dan lebih berfungsi sebagai penyimpan artefak.

Fitra pun membandingkan dengan berkembangnya museum yang dikelola oihak swasta, seperti Museum Bank Indonesia maupun Museum Bank Mandiri, di Jakarta.

Agar bisa kembali berfungsi dengan baik, Fitra menyarankan, pengelola museum harus bisa mengemas koleksi sesuai dengan kebutuhan, sehingga bisa mendongkrak segmentasi pasar, promosi, serta nilai estetika dan ilmiahnya dengan catatan jangan mengganggu fungsi dasar museum sebagai pelestari.

Selain itu, lanjut Fitra, pengelola museum harus mampu mencuatkan nilai-nilai unggul koleksi yang tersimpan dan disajikan kepada publik, dan merevitalisasi sistem pengelolaan museum agar lebih adaptif dengan perkembangan zaman serta kompatibel dengan ekonomi kreatif dan industri pariwisata.

“Upayakan pemanfaatan museum sebagai area publik, sehingga pengelola museum dituntut untuk dapat memberikan program dan kegiatan publik yang bernuansa kreatif, menyenangkan dan edukatif,” sambungnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
museum

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top